Blog Sivitas

Lagu lawas yang dipopularkan Bee Gees pada tahun 1977  dan dinyanyikan kembali setidaknya oleh Take That dan  Michael Bubble. Memang representasi rasa cinta ini lebih cocok untuk sepasang kekasih. Tulisan ini mencoba untuk menjelaskan peran rasa cinta terhadap bentuk lain selain pada kekasih kita. Karena mungkin posisinya mirip dimana kita boleh mengharapkan yang terbaik dari yang kita cintai yang merupakan buah dari pemahan kita terhadap yang kita cintai. Misalnya kita tahu sang istri akan sangat bergembira dengan satu  mawar merah dan tidak suka saat ditanya harga tas yang baru dibelinya. Dari pengetahuan ini maka kita bisa mengolah apa yang kita inginkan dari istri. Begitu juga pada bentukan lain yang kita gunakan. Misalnya dengan laptop sebagai alat kerja. Kita adalah pakar dalam menggunakannya berdasarkan pengalaman dan jangka waktu menggunakannya. Kita tahu berapa banyak program yang dijalankan untuk mendapatkan kinerja optimal. Kita tidak menempatkannya terdesak pakaian dan sepatu di koper saat bepergian atau layar akan bermasalah. Tapi ada juga yang memang tidak berusaha mencintainya, sehingga hanya bisa menggunakannya. Kalau rusak bisa minta ganti dari kantor. Pada laptop yang dimiliki golongan kedua terlihat bercak jari berminyak dan bersambal pada layarnya, mungkin sedikit cacat pada ujung kirinya, saat dihidupkan seluruh program dan file tersebar di layar desktopnya biasa bekerja dengan lebih dari 20 tab pada browsernya. Dari kasus ini, kelompok pertama melihat sebuah penyiksaan alat kerja yang dilakukan oleh golongan kedua.

Ternyata mirip juga dengan bagaimana kita berinteraksi dilingkungan ilmu, teknologi atau inovasi. Ketiga kata ini dianggap subversive sehingga setiap orang dianggap belum lengkap jika belum menggunakan ilmu, dianggap gagap teknologi atau kurang inovasi. Ketiga kata menjadi milik semua orang sehingga terjadi pergeseran makna. Seorang dukun dianggap berilmu” tinggi saat berhasil menyembuhkan pasiennya. Reorganisasi yang inovatif dan lain-lain. Sebetulnya, seperti saat ujian preliminasi tertulis doktoral, pertanyaanya, apa yang dimaksud dengan ilmu. Atau bagaimana inovasi dengan gambar panah kekanan digabung dengan kata berawalan “re” dengan grafik panah mengarah ke kiri.

What Science, Technology and Innovation Want?

Tulisan ini bukan merupakan ringkasan dari what technology wants nya Kevin Kelly atau the nature of technology nya Brian Arthur. Tapi pastinya, tulisan ini dipengaruh oleh kedua artikel tersebut. Dari titik ini diarahkan pada sebuah pemikiran Marcus Tullius Cicero yang dikuatkan oleh Kennedy yang kira-kira berbunyi “Jangan ditanya apa yang Negara berikan tapi tanyakan apa yang dapat Anda perbuat untuk Negara”. Begitu pula dengan ilmu, teknologi dan inovasi. Diawali dengan memperhatikan, memahami dan mengelola sehingga menjadi satu, seperti halnya pada sintesa institusional seperti pada gambar berikut

 

Dan kembali, memang lebih mudahnya digambarkan dengan dua orang kekasih untuk sebuah tujuan yang diawali dari pertukaran informasi sampai pada integrasi. Maka kecintaan pada STI diawali dari banyaknya informasi yang didapat. Informasi itu mengarah pada ketertarikan untuk melanjutkan atau meninggalkannya. Jka pilihan pertama yang diambil maka pemahaman terhadap STI akan semakin baik melalui bekerja besamanya, menggunakannya, menjadi satu dengannya. Sehingga STI akan menjadi duta kita dan kita adalah representasi dari Ilmu, Teknologi dan Inovasi yang bermartabat.


Sebuah postingan di grup Whatsapp bergambar Gus Mus dengan tulisan Fenomena Antagonis Akhir Zaman berbunyi: “Orang yang rendah ilmunya banyak bicara, orang yang tinggi ilmunya banyak terdiam” membawa saya menyusun diagram kartesius sebagai berikut:



Matriks tersebut memperlihatkan kombinasi Ilmu dengan Bicara, yaitu banyak ilmu dan banyak bicara; banyak ilmu sedikit bicara; sedikit ilmu sedikit bicara atau sedikit ilmu dan banyak bicara. Setiap irisan memiliki kebaikan dan keburukan sendiri-sendiri. Misalnya, sedikit ilmu banyak bicara bisa saja berarti kreatif. Tapi jika dari satu halaman brosur bisa dibuat menjadi 50 slide presentasi mungkin bisa dikatakan terlalu kreatif dan bisa menjadi keterlaluan jika bahan presentasi itu menjadi bahan pertimbangan untuk suatu keputusan. Namun STI mengalaminya.

Tuhannya Inovasi itu, menurut pakarnya yang kebetulan sempat memberi bahan ajar dan gemar mengirimkan buku tulisannya, adalah Prometheus. Kalau di Google ada project Aristotle maka di Inovasi ada jurnal Prometheus. Dikisahkan Zeus yang menyembunyikan api sehingga bumi tidak perlu ada api. Api akan membakar bumi. Prometheus dikisahkan sebagai pencuri api dan membawa ke bumi. Saat ini, manusia hidup tidak bisa terhindar dari unsur api baik pada alat trasportasinya, pendingin ruangannya sampai pada perlengkapan makannya. Pada sebuah bukunya disampaikan bahwa Nabinya Inovasi itu Schumpeter. Berbeda dengan Marxian (kelompok Karl Marx) yang melihat fungsi teknologi sebagai bagian yang akan menurunkan kualitas hidup buruh dan kaum proletar, maka Schumpeterian memandang pentingnya teknologi dan kewirausahaan.

Akar studi ini Friedrich List (1856) yaitu melalui diskusinya terhadap peran inovasi dan pengetahuan dalam pertumbuhan ekonomi yang diteruskan oleh Alfred Marshall (1898) melalui tulisannya mengenai distrik industrial dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Disisi lain,  ilmu secara singkat didefinisikan oleh W.H. Werkmeister sebagai kepercayaan yang teruji (warranted believe)yang didalamnya mencakup pengetahuan yang dipahami oleh masyarakat umum dan dikembakan oleh cendikiawan dan tidak menegasikan persoalan-persoalan epistemologis (teori ilmu). Graziano dan Raulin mendefinisikan ilmu sebagai cara berpikir dengan kaidah-kaidah tertentu dalam menyusun pertanyaan secara kritis dan mencarikan jawaban secara sistematis untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai suatu keadaan

 Katanya studi inovasi itu dirty-dirty-dirty seperti hill climber dan valley crosser. Tapi kenapa harus mengalami fragmentasi. Katanya Teknologi itu merupakan bagian dari kebudayaan, tapi kenapa pengembangannya juga mengalami fragmentasi…..

Penutup 2017

Timbal balik dari apa yang telah terjadi antara kita dengan ilmu, Teknologi dan Inovasi. Maka merupakan sesuatu yang wajar jika memahami apa yang dibutuhkan oleh Ilmu, Teknologi, dan Inovasi. Sehingga jika memang akan mananam Tulip di Jakarta, semoga kita tidak hanya memberikan tanah yang subur serta air yang cukup, tapi kita mempertahankan lingkungan lainnya yang mendukung Tulip untuk bisa tumbuh. Dengan pemahaman yang baik maka prasyarat yang diajukan oleh ilmu, teknologi dan inovasi akan berjalan sesuai dengan karakter dan dinamikanya diatas landasan yang tepat. Terhindar dari pengembangan ilmu, teknologi dan inovasi tanpa landasan.



about author

Syafrizal Maludin S.E.,M.TIM.

197004112000031006

Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher