Blog Sivitas

Sejak ditemukannya listrik, kehidupan manusia semakin hari semakin bergantung pada peralatan elektronik. Semakin banyak sisi kehidupan manusia yang menggunakan peralatan listrik maupun elektronik. Setiap peralatan yang berbasis kelistrikan dan elektronika akan menimbulkan medan elektromagnetik ketika dioperasikan. Peralatan elektronik digunakan diberbagai tempat untuk berbagai kebutuhan, dengan demikian medan elektromangetik ataupun gelombang elektromagnetik ada dimana-mana.


Medan dan gelombang elektromagnetik pada kondisi tertentu memang sengaja dibangkitkan pada peralatan agar dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu misalnya pada televisi, radio, telepon, motor listrik, dan lain-lain. Gelombang yang sengaja dibangkitkan semacam biasa disebut sebagai wanted signal. Pada sisi yang lain,  peralatan elektronik juga dapat menghasilkan gelombang elektromagnetik yang tidak dikehendaki atau sering disebut sebagai noise elektromagnetik. Gelombang elektromagnetik baik wanted signal maupun noise dari suatu peralatan dapat mengganggu kinerja peralatan elektronika lainnya.  Pada tingkat tertentu, gangguan medan dan gelombang elektromagnetik menyebabkan peralatan tidak dapat bekerja optimal atau bahkan mengalami kerusakan. Gangguan-gangguan tersebut dapat mendorong terjadinya cidera atau bahkan kecelakaan yang mengancam jiwa manusia.


Pada beberapa kasus, gangguan elektromagnetik atau yang dikenal sebagai interferensi elektromagnetik mampu mendegradasi kinerja berbagai peralatan dan menyebabkan cidera dan kecelakaan. Pada operasi militer di Haiti pada tahun 1995, pesawat tempur dari kapal USS America dan USS Eisenhower harus diganti dengan tentara dan helicopter infanteri. Pesawat tempur tidak mampu beroprasi karena terganggu oleh gelombang radar dan sinyal sistem komunikasi.  Pada tahun 1969, roket ZUNI dari kapal USS Forrestal di Vietnam meluncur tanpa sengaja akibat terpicu gelombang yang dihasilkan radar pada kapal tersebut. Akibatnya, 134 orang meninggal, 27 pesawat tempur hancur dan kapal bernilai 72 milyar dolar rusak. Pada kasus yang lain, motor sebuah misil nuklir Pershing II milik Jerman dilaporkan meledak dalam proses perawatan rutin yang menelan 3 korban jiwa. Hasil investigasi menunjukan bahwa electrostatic discharge (ESD) merupakan pemicu kejadian tersebut. Kejadian serupa juga terjadi antara tahun 1981 hingga tahun 1987. Lima helicopter Blackhawk mengalami kecelakaan dan menyebabkan korban luka dan meninggal dunia ketika terbang mendekati sebuah pemancar radio. Sistem kontrol elektronik pada helicopter tidak kebal terhadap gelombang dari pemancar radio. Gelombang pemancar radio menyebabkan pergerakan helicopter tidak terkontrol hingga menyebabkan kecelakaan. Pada kasus yang lain, interferensi elektromagnetik juga menyebabkan malfungsi pada  perangkat kesehatan yang digunakan pada ambulan. Defibrillator yang dipasang pada pasien serangan jantung mendadak mati tiap kali radio komunikasi dinyalakan untuk memanggil bantuan. Hasil investigasi menunjukkan bahwa penggantian atap ambulan dengan fiberglas menyebabkan sinyal dari radio komunikasi mengganggu kinerja defibrillator yang tidak kebal terhadap gangguan tersebut.

Interferensi elektromagnetik (EMI) dapat menimbulkan efek negatif dan risiko kecelakaan di berbagai bidang. Oleh sebab itu, diperlukan kontrol terhadap gangguan EMI untuk menekan timbulnya risiko keamanan dan keselamatan hingga level yang dapat diterima. Penetapan standar emisi diperlukan untuk membatasi gangguan (interferensi) elektromagnetik dari suatu peralatan hingga batas maksimum yang tidak menggangu lingkungan. Batas gangguan ini dikenal sebagai emission limit. Penetapan tingkat kekebalan minimum yang harus dimiliki suatu peralatan ketika memperoleh gangguan juga diperlukan untuk menjamin peralatan tidak mengalami penurunan kinerja hingga level yang diijinkan. Batas kekebalan minimum ini disebut sebagai immunity limit. Emission limit dan immunity limit ditetapkan oleh regulasi serta dituangkan dalam spesifikasi teknis ataupun standar EMC (Electromagnetic Compatibility). Satu hal yang tak kalah penting  dari penetapan limit adalah pengujian kompatibilitas elektromagnetik (EMC). Pengujian EMC sangat diperlukan dalam memastikan peralatan telah memenuhi ketentuan regulasi, spesifikasi teknis ataupun standar EMC. Pengujian EMC penting untuk menjamin peralatan yang beredar dipasaran tidak menginterferensi satu sama lain dan beroperasi sebagaimana mestinya dilingkungan elektromagnetik. Dengan demikian, performa, keamanan dan keselamatan penggunaan peralatan elektrik maupun elektronik dapat terjamin.


REFERENSI
R.D. Leach and  M.B. Alexander. (1995). Electronic Systems Failures and Anomalies Attributed to Electromagnetic Interference, NASA Reference Publication 1374

Sri Kadarwati, dkk. (2010). Radiasi Elektromagnetik pada Peralatan Telekomunikasi Militer: MIL-STD 461E, LIPI Press

Paul, R, Clayton. (2006). Introduction to Electromagnetic Compatibility Second Edition. John Wiley & Sons

about author

Priyo Wibowo M.T.

197910142008011007

Pusat Penelitian Teknologi Pengujian

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher