Blog Sivitas

Permintaan untuk ketersediaan energi akhir-akhir ini meningkat sangat cepat dan hal semacam ini akan terus berlanjut dalam kurun waktu kedepannya. Di tahun 2005, energi listrik yang dihasilkan pembangkit listrik diseluruh dunia pada umumnya 16% dari air dan nuklir, 40% dari batubara, 20% dari gas, 7% dari minyak dan hanya 2% yang berasal dari sumber energi terbarukan misalnya geotermal dan angin. Salah satu dari beberapa energi terbarukan yang ramah lingkungan adalah energi surya, energi ini bisa dimanfaatkan dengan menggunakan teknologi terbaru misalnya panel surya atau photovoltaic. Photovoltaic ini mampu mensuplai energi listrik ke beban dengan cara mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listrik melalui efek fotolistrik. Energi terbarukan yang dihasilkan dari matahari tersebut tidak konstan karena intensitas sinar matahari yang mengenai photovoltaic tidak sama, sehingga tegangan yang dihasilkan oleh photovoltaic juga berubah-ubah bergantung pada intensitas sinar matahari.


Tegangan keluaran yang dihasilkan dari photovoltaic merupakan tegangan DC (direct current) sehingga memerlukan piranti tambahan untuk mengubahnya menjadi tegangan AC (alternating current), piranti tambahan tersebut adalah power inverter. Inverter merupakan perangkat listrik yang berfungsi untuk mengubah arus listrik searah (direct current) menjadi arus listrik bolak-balik (alternating current). Dalam pengoperasiannya, inverter mampu mengkonversi arus DC 12/24 volt yang biasanya berasal dari baterai ataupun panel solar cell (photovoltaic) menjadi arus AC 220 volt setara dengan listrik PLN. Output dari inverter merupakan tegangan AC yang berbentuk gelombang sinus (sine wave), gelombang kotak (square wave) maupun sine wave modified atau gelombang sinus modifikasi. Dari beberapa uraian diatas maka dapat dikatatakan bahwa inverter merupakan salah satu bagian penting pada sistem  photovoltaic.


Pada inverter, transformasi dari DC ke AC berlangsung sangat cepat karena dalam sistem inverter menggunakan switching dari perangkat semikonduktor dengan lebar pulsa puluhan kilohertz. Hal ini mengakibatkan adanya interferensi yang kuat dalam rentang frekuensi radio pada AC line maupun DC line, gelombang elektromagnetik yang terpancar secara konduksi (conducted emission) ini akan menimbulkan gangguan pada peralatan elektronik yang tersambung ke inverter tersebut karena berada dalam satu line. Sebagaian besar inverter yang sekarang ini tersedia di pasar menghasilkan sinyal pada frekuensi radio melebihi batas yang diijinkan, untuk mengetahui gangguan pada DC line sebuah inverter, maka dilakukan pengujian EMC (electromagnetic compatibility) yaitu conducted emission test. Pengujian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui level gelombang elektromagnetik yang timbul baik di DC side ataupun di AC side dari sebuah power inverter.

Pada pengujian conducted emission untuk power inverter, standard yang digunakan adalah CISPR 11 : 2015 yaitu mengenai Radio Frequency Disturbance Characteristic. CISPR 11 : 2015 ini merupakan penyempurnaan dari standard CISPR 11 : 2009 dimana terdapat beberapa tambahan diantaranya mengenai pengujian power inverter pada DC side. Berdasarkan CISPR 11 : 2015, pengujian conducted emission dilakukan dalam rentang frekuensi 150 kHz sampai dengan 30 MHz. Di Indonesia sendiri belum ada SNI wajib tentang pengujian conducted emission untuk power inverter maupun pengujian EMC untuk peralatan elektronik lainnya. Salah satu faktor belum diterapkannya SNI wajib untuk EMC adalah kesiapan SDM dan infrastruktur, infrastruktur disini adalah masih sangat minimnya laboratorium EMC di Indonesia. Kedepannya diharapkan semua produsen inverter dalam negeri agar menguji produknya sesuai standard yang berlaku terutama untuk produk-produk ekspor, dengan demikian produk tersebut akan mampu bersaing di pasar internasional karena sudah sesuai dengan standard teknis yang berlaku.

Referensi :


Subramanian, V. (2007). Renewable energy in India: status and future prospect November, Ministry of New and Renewable Energy, India.

 

Brankr, K., 2011, Pathak, M., Pearce, J. (2011). A Review of Solar Photovoltaic Levelized Cost of Electricity, Renew Sustain Energy Rev, 15(9) : 4470 – 4482.

 

Adria, A., Tarmizi, (2015). Model Hybrid PV-Genset Aplikasi pada Sistem Off- Grid, Seminar Nasional dan Expo Teknik Elektro.

 

Henze, N., Degner, T. (2002). Radio Interference of Photovoltaic Power System, 16th International Wroclaw Symposium and Exhibition on EMC, Wroclaw, Poland.

 

Degner, T., Enders, W., Schulbe, A., daub, H. (2000). EMC and Safety Design for Photovoltaic Systems, 16th Solar Energy Conference and Exhibition, Glasgow.

 

Staggs, D. (1986). RF Stabilization, EMC Symposium Record, pp. 383-386

 

Haeberlin, H. (2001). New DC-LISN for EMC Measurement on DC-side PV Systems : Realisation and First Measurement at Inverter, 17th European Photovoltaic Solar Energy Conference, Munich, Germany.

 

about author

Mohamad Khoirul Anam S.Si.

199006112014011001

Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher