Blog Sivitas

Perubahan iklim memiliki dampak yang luas di muka bumi baik dalam bidang pertanian, kesehatan dan pada akhirnya ke perekonomian suatu bangsa. Untuk memahami perubahan iklim seperti adanya pemanasan global, perubahan frekuensi suatu kejadian iklim seperti ENSO (El Nino Southern Oscilation), kenaikan muka laut dan lain lain sangat diperlukan pengetahuan tentang iklim dalam skala waktu yang panjang sampai puluhan ratusan tahun lampau bahkan jutaan tahun lampau, Hal ini membutuhkan pemahaman mengenai kondisi iklim masa lampau dan tentu saja untuk itu diperlukan data parameter iklim seperti data curah hujan, kecepatan angin, suhu ataupun salinitas dalam skala waktu yang panjang (skala waktu geologi). Ketersediaan data parameter iklim hasil pengukuran amat sangat terbatas. Data hasil pengukuran iklim yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebagai pemegang otoritas mengenai kondisi atmosferik di wilayah Indonesia hanya terbatas pada kisaran waktu ratusan tahun yang dimiliki oleh lembaga tersebut. Keterbatasan data inilah yang menjadi permasalahan dasar dalam mengkaji lebih mendalam mengenai variabilitas iklim di masa lampau.

Namun permasalahan ketersediaan data dalam skala waktu geologi tersebut dapat diatasi dengan menggunakan data yang lebih dikenal sebagai sebagai arsip iklim yaitu seperti sedimen (laut maupun danau), koral, lingkaran tahun pohon, dan lain-lain. Didalam arsip iklim terkandung apa yang disebut sebagai proxy iklim yaitu seperti kandungan Sr/Ca dalam koral juga Mg/Ca dalam foraminifera yg terkandung dalam sedimen yang menyediakan informasi mengenai suhu permukaan laut yang merupakan salah satu parameter iklim yang penting. Sudah banyak penelitian yang meyakinkan bahwa Sr/Ca dalam koral maupun Mg/Ca dalam foraminifera sedimen laut merupakan parameter dari paleotermometer. Dengan mengabungkan kandungan Sr/Ca dan Mg/Ca dengan data isotop koral dan foraminifera juga memberikan informasi salinitas perairan di suatu wilayah. Gambar di bawah memperlihatkan aktivitas penelitian iklim purba.

Indonesia merupakan daerah yang menarik untuk dikaji untuk perubahan iklim karena kekhasan daerah ini yang berkaitan langsung dengan variabilitas monsoon, interaksi laut-atmosfer pada periode interannual scale seperti El Nio Southern Oscillation (ENSO) and the Indian Ocean Dipole (IOD), serta intensitas Indonesian Throughflow (ITF) yang mempengaruhi iklim Indonesia. Sensitivitas variasi iklim yang ada ini yang membuat daerah ini sangat menjanjikan untuk rekonstruksi iklim dan lingkungan purba pada periode interannual hingga waktu jutaan tahun dalam skala waktu geologi. Implikasi paling jelas terlihat yaitu intensitas hujan di wilayah ini yang berhubungan dengan perubahan iklim masih menjadi perdebatan, sehingga sangat mendesak untuk mengetahui potensi hujan yang berhubungan perubahan iklim di masa lampau dari data-data proxy yang dipaparkan dalam paragraph diatas.

Kondisi iklim terkini yang terlihat dan kita alami di tahun 2015 ini yaitu periode kekeringan sebagai akibat dari peningkatan frekuensi ENSO. BMKG dalam hal ini diwakili oleh Kepala lembaga tersebut menyampaikan informasi yang diterbitkan pada media online kompasiana tertanggal 5 Agustus 2015 menyatakan data klimatologi menunjukkan fenomena El Nino yang menguat pada tahun 2015 serta diduga akan berlangsung hingga bulan November 2015. Lembaga internasional NOAA malah memprediksi kondisi El Nino tahun ini akan melebihi intensitas El Nino tahun 1997. ENSO merupakan fenomena iklim yang terjadi di Samudra Pacifik dimana adanya anomali berbedaan tekanan antara Pasifik sebelah barat dan timur yg mempengaruhi siklus Walker dan angin pasat di equator sehingga menimbulkan anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Timur lebih panas dari normal dan di PAsifik sebelah barat lebih dingin dari normal yang dikenal dengan warm phase (fase panas) yg dikenal dengan El Nino dan kondisi sebaliknya dimana suhu permukaan laut Pasifik sebelah timur lebih dingin dari normal yg dikenal dengan cold phase atau kondisi La Nina. Namun, fenomena iklim lainnya juga terjadi di Indonesia yaitu Indian Ocean Dipole (IOD) mengakibatkan perbedaan suhu permukaan laut antara Samudra Hindia bagian barat dan timur. Dampak sangat nyata yang dapat kita rasakan dari kedua fenomena ini yaitu kekeringan pada kondisi EL Nino atau IOD positif dan banjir pada waktu La Nina atau IOD Negatif.

Frekuensi terjadinya ENSO yaitu 2 hingga 7 tahunan, namun dari studi terkini diduga terjadi perubahan yang dilihat dari kenaikan frekuensi ENSO. Oleh karena itu, pemahaman mengenai frekuensi, magnitude, serta mekanisme penggerak fenomena iklim yang terjadi perlu diketahui lebih terperinci. Perubahan iklim yang didengungkan memang terjadi atau tidak dapat terlihat dari rekaman sejarah iklim purba. Tentunya data yang diperlukan harus berada pada skala waktu yang panjang sampai ratusan bahkan ribuan atau jutaan tahun yang lampau. Namun, masing-masing proxy/arsip iklim memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Endapan sedimen memiliki keunggulan memperoleh catatan sejarah iklim pada skala waktu yang panjang namun resolusi yang diperoleh rendah sehingga fenomena iklim yang bersifat periodik pada rentang waktu singkat seperti ENSO tidak akan terlihat, justru diperoleh kasus iklim di waktu lampau yang tidak terlihat pada proxy koral dengan kisaran waktu 1000 tahunan atau lebih seperti perubahan iklim global di lintang tinggi yang terlihat di tropis yaitu istilah Younger Dryas, Heinrich events atau Last Glacial Maximum. Untuk menutupi kelemahan dari data sedimen untuk mengetahui perilaku ENSO, proxy koral menawarkan resolusi waktu yang sangat tinggi hingga data bulanan bisa didapat, sehingga event El Nino ataupun La Nina akan terlihat pada proxy koral.

Beberapa hasil penelitian iklim masa lampau yang diperoleh di Indonesia diantaranya rekaman dari koral menunjukkan respon suhu permukaan laut terhadap ENSO berbeda-beda di tiap wilayah, sebagai contoh rekaman koral di Timor memperlihatkan respon ENSO terhadap suhu dan salinitas juga berbeda, dimana ENSO lebih berpengaruh terhadap suhu permukaan laut sedangkan IOD pada suhu dan salinitas. Trend kenaikan suhu permukaan yang terekam dari koral Timor 1.7oC terjadi pada abad 20 (periode 1904-2004). Sedangkan respon suhu dan salinitas yang terekam pada sedimen laut maupun danau di Selat Makassar Danau Matano, dan Danau Towuti pada zaman es akhir sangat dipengaruhi oleh siklus monsoon. Hal ini menunjukkan respon ENSO tidaklah menerus jauh hingga skala waktu yang panjang seperti yang tercatat pada koral. Namun, data iklim purba sendiri masih sangat sedikit di Indonesia sehingga renspon ENSO ataupun monsoon juga masih dapat dipertanyakan.

Rekomendasi yang dianjurkan untuk dilakukan di masa depan diantaranya studi mengenai iklim di masa lampau perlu untuk digiatkan dan dikembangkan secara intensif untuk memperkuat analisis variabilitas iklim di Indonesia. Perlunya penguatan kerjasama bagi peneliti yang berkecimpung dalam studi iklim sekarang seperti meteorologi, klimatologi dan iklim masa lampau untuk menghasilkan model prediksi iklim yang lebih akurat, hal ini diperlukan untuk kepentingan mendukung kegiatan adaptasi dan mitigasi, tanpa pengetahuan dan pemahaman mekanisme maupun kondisi iklim maka kegiatan adaptasi/mitigasi akan sulit untuk dilakukan dengan tepat sasaran, oleh karena itu pemahaman pengetahuan ini perlu dukungan dari kegiatan studi iklim masa lampau juga.

about author

Marfasran Hendrizan S.T., MT

198303232008011007

Pusat Penelitian Geoteknologi

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher