Blog Sivitas

Roy Rothwell dalam ulasan pembukaan sebuah buku menyampaikan kompleksitas dan ketidakaturan sebuah proses innovasi dan mengulang tiga kali sebuah kata, dirty-dirty-dirty job. Penggiat inovasi tidak hanya disyaratkan memahami sebuah produk dengan baik jika mungkin bisa sama baiknya dengan Peneliti/Penemu teknologi itu, tapi juga disyaratkan untuk memahami target dan karakter pasarnya. Kembali Rothwell menggambarkannya sebagai Hill Climber and Valley Crosser. Innovation science bukan hanya merupakan sebuah rumpun lintas-disiplin mulai dari biologi, psikologi, neuroscience, matematika, sosiologi, kimia, computer science, ekonomi tapi juga merupakan kolaborasi dari Peneliti, Pemikir, Praktisi, Investor, Pengacara dan Para Pemangku Kepentingan. PENDEKATAN SOFT SYSTEM METHODOLOGI Usaha melanjutkan pendidikan sesuai dengan tugas dan fungsi satuan kerja yang menyandang kata Inovasi teknologi lumayan berat, terlebih untuk yang berlatar belakang bukan eksak. Prasyarat mata kuliah dengan kandungan teknologi wajib dipenuhi. Kuliah pertama adalah introduction to biotechnology. Program ini lebih banyak diskusi dan penelitian sehingga pada hari pertama sudah mendapatkan tugas untuk membuat tulisan mengenai sequence plasmid. Materi selanjutnya masuk pada drug design development, reproductive cloning dan monoclonal antibodies. Untungnya kesempatan diskusi dengan anggota kelompok dan dosen diperoleh dengan cukup. Program ini didisain untuk pemahaman konten teknologi (bioteknologi atau teknologi informasi), pengelolaan litbang, kebijakan, proses (untuk profit dan publik), pembiayaan sampai pada filosofi. Robert Faff dalam pengantar Research Skill Development Framework menjelaskan mengenai penyusunan proposal disertasi. Dengan cara penyampaian yang sederhana dan menarik, digambarkan dua pertanyaan dasar yang wajib dijawab saat baru bangun dari tidur. Setidaknya untuk kembali pada penguatan ide dan pertanyaan penelitian. Sebuah pertanyaan penelitian yang tepat, setara dengan penyelesaian 50 persen dari Penelitian. Tapi sebuah pertanyaan Penelitian yang tidak tepat akan menjadi bom waktu bagi Peneliti. Menarik untuk mengetahui bahwa penyelesaian masalah yang ditawarkan dalam rencana kegiatan riset tidak selalu merupakan solusi dalam dunia nyata. Review jurnal dan disertasi dilakukan hampir setiap hari dalam rangka memperkaya kegiatan riset yang sedang dilakukan. Variabel data yang digunakan pada analisis terbagi menjadi univariate, bivariate dan multivivariate data analysis. Ketiga besaran variable akan menentukan prosedur dan alat analisa yang tepat untuk digunakan. Dari sejumlah tinjauan kritis yang dilakukan pada publikasi ilmiah maka terlihat bahwa studi inovasi menggunakan banyak variable. Pencarian akhirnya membawa pada pendekatan sistem. Soft system methodology (SSM), yang terdiri antara lain analytical hierarchy process (AHP) dan strategic assumption surfacing and testing (SAST) dan hard system yang antara lain terdiri dari sistem dinamik dan teknik heuristik. Kesempatan diskusi dimanfaatkan untuk mendalami SSM yang dioperasionalkan dalam penelitian. Menarik untuk melihat jumlah jurnal dan disertasi dengan kata kunci inovasi yang SSM yang berhenti pada level 4 (system thinking about real world). Selain kajian kebijakan, seperti rantai pasok, pengembagan produk, alih teknologi, maka tahapan pada SSM mencapai level 7 (real world). Dari populasi publikasi terbanyak maka disimpulkan bahwa proses inovasi diawali dari pengembangan ide yang bersumber pada dunia nyata sampai pada penyusunan konsep model yang berada pada refleksi dari dunia nyata dan dilanjutkan sampai pada menjalankannya di dunia nyata. Hal tersebut juga mungkin yang dimaksud oleh Rothwell sebagai pekerjaan yang kotor. Karena dalam prosesnya, studi inovasi diawali dari pengembangan ide yang melalui publikasi dan diskusi ilmiah, sampai pada pengujian produk dan pasar, kajian terhadap kebijakan, testing the water melalui pameran dan kajian terhadap exit strategy. BLUE SUIT + WHITE SUIT + T-SHAPED PEOPLEDalam operasionalnya keragaman yang lintas disiplin ini diartikan berbeda. Peneliti berperan juga sebagai pebisnis. Hal tersebut bukan merupakan gambaran idealnya terbentuknya sebuah proses inovasi. Damian Hine dalam presentasinya pada Seminar Nasional Technopreneurship dan Alih Teknologi di Pusat Inovasi LIPI (November 2015) melakukan jeda pada sebuah paparan yang mungkin dianggapnya penting bagi para Peneliti. Penekanan dalam pemaparan diartikan sebagai sebuah tampilan yang perlu mendapat perhatian khusus, bahwa peneliti bukan wirausaha.Slide ini membawa bayangan pada sebuah sesi yang diajarkan oleh Damian dalam sebuah ruang kelas di Collin Clark Building di University of Queensland. Digambarkan pelaku usaha sebagai blue suit dan Peneliti (spesialis) yang bekerja pada laboratorium sebagai white suit. Blue suit akan memiliki cara dan lingkungan bekerja yang berbeda dengan Peneliti. Peneliti tidak mengharapkan pebisnis untuk berubah menjadi Peneliti. Sebaliknya pelaku usaha juga tidak mengharapkan Peneliti berubah menjadi pebisnis. Dalam menghubungkan usaha ini dibutuhkan intermediasi sering juga disebut MacD (manager for commercial development) atau rainmaker yang memiliki kemampuan berkomunikasi pada dua dunia yang berbeda. Mereka dikenal dengan T-Shaped people. Sesuai dengan bentuk huruf T yang terdiri dari satu garis horizontal yang bertemu dengan garis yang vertical. T-Shaped people memiliki dua kemampuan. Pertama adalah kemampuan dalam proses kreatif yang bersumber dari berbagai lapangan seperti disain industri, ilmu sosial, business specialist atau perekayasa mekanis. Garis horizontal menggambarkan kemampuan dalam kolaborasi lintas disiplin yang diperkuat dengan 2 karakter penting yaitu empati dan antusias.

about author

Syafrizal Maludin S.E.,M.TIM.

197004112000031006

Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher