Blog Sivitas

Terdapat area gambut (peat) di Indonesia seluas 21 juta hektar atau sekitar 10,8 % dari total area daratan yang tersebar di wilayah Sumatera 35%, Kalimantan 32%, Sulawesi 30% dan sebagian kecil di wilayah Papua, Halmahera dan pulau Seram. Kandungan gambut di Indonesia terdiri dari 5% mineral dan lebih dari 90% merupakan senyawa organik. Gambut memiliki fungsi hidrologi diantaranya sebagai penyimpan karbon  dan juga memiliki fungsi biologis sebagai habitat bagi berbagai organisme. Gambut tropis seperti yang ditemukan di Indonesia dan Malaysia merupakan ekosistem unik bagi berbagai flora, fauna maupun mikroba endemik meskipun disinyalir memiliki kadar keasaman yang rendah dan kandungan nutrisi yag sedikit. Aktivitas dekomposisi di wilayah gambut mengakibatkan terbentuknya timbunan material organik yang menyimpan berbagai potensi , salah satu diantaranya menjadi nutrisi  bagi pertumbuhan beberapa mikroba termasuk mikroalga. Fraksi organik yang terkandung dalam gambut diantaranya 80% terdiri dari komponen lignin, selulosa, hemiselulosa, tanin, suberin, protein dan lain sebagainya terbentuk sebagai hasil proses dekomposisi tersebut. Terkadang dijumpai senyawa organik yang bersifat toksik seperti asam fenolik dan turunannya serta benzen karboksilat sebagai pembentuk senyawa humat dan fulfat dalam gambut. Berdasarkan karakteristik tersebut, tidak semua organisme dapat ditemukan dan tumbuh baik di dalam gambut. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sulmin Gumiri dkk di wilayah gambut Kalimantan Tengah, telah ditemukan beberapa mikrolaga diantaranya Cryptomonas sp., Chlamydomonas sp. Peridinium sp., Euglena sp.,dan Trachelomonas sp. Di berbagai lahan gambut di dunia seperti gambut di Slovenia dan Ireland juga ditemukan beberapa jenis mikroalga dari kelompok Chlorophyceae, Bacillariophyceae dan Cyanophyceae. Fakta ini membuka peluang untuk melakukan penelusuran mikroalga dari berbagai lahan gambut lain yang tersebar di Indonesia.

ketersediaan air yang melimpah terutama di musim hujan, kandungan senyawa organik  dan juga kandungan gas karbondioksida yang tinggi menjadikan perairan gambut maupun jenis lahan gambut lainnya berpotensi digunakan sebagai media pertumbuhan bagi mikroalga. Mikroalga diyakini memiliki berbagai potensi sumber daya alam yang bernilai untuk dikembangkan di bidang pangan, kesehatan, energi dan lingkungan. Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan pengembangan budidaya mikroalga yaitu ketersediaan media pertumbuhan yang murah dan mudah didapatkan untuk menekan biaya produksi. Gambut berpotensi besar menjadi sumber media pertumbuhan mikroalga yang murah dan mudah didapatkan. Selain itu, pemanfaatkan gambut sebagai media pertumbuhan mikroalga tidak akan menyebabkan pengurangan lahan gambut atau perairan gambut secara signifikan. Dalam hal ini mikroalga berperan memanfaatkan ketersediaan kandungan senyawa organik sebagai sumber karbon tanpa menghilangkan keberadaan gambut dari lokasi semula. Setelah mampu memanfaatkan nutrisi dari dalam air gambut, diharapkan mikroalga akan mampu mengakumulasi biomassa karya karbohidrat, protein dan lemak nabati serta menghasilkan gas oksigen dari proses fotosintesis sehingga kandungan oksigen terlarut dalam air menjadi meningkat dan akan menguntungkan bagi kelangsungan hidup biota disekitarnya. Inilah yang disebut sebagai biorefinery gambut.

Oleh karena itu, upaya menemukan mikroalga lokal dari berbagai perairan gambut di Indonesia dengan diikuti oleh pemanfaatan tanah gambut maupun air gambut sebagai media bagi pertumbuhan mikroalga tersebut merupakan langkah efisien dalam upaya mengembangkan salah satu sumber daya alam lokal di tanah air.  

Saat ini saya melakukan riset pendahuluan untuk menguji pertumbuhan mikroalga dalam media gambut. Riset ini saya lakukan di salah satu laboratorium di Core LAboratory for Algae Biomass and Energy System (CLABES), University of Tsukuba (semoga ditulisan saya selanjutnya, saya bisa menceritakan berbagai aktivitas riset yang dilakukan para peneliti di CLABES). Mengingat karakteristik gambut di daratan Jepang tidak sama dengan gambut tropis di Indonesia, maka saya memanfaatkan gambut dari wilayah Estonia yang dijual bebas di toko pertanian di Jepang. Gambut ini biasa digunakan masyarakat lokal untuk keperluan agrikultur. Hasil sementara yang saya dapatkan adalah mikrolaga Chlamydomonas sp. memiliki kemampuan tumbuh dan memproduksi biomassa dengan menggunakan media gambut yang diekstrak dari gambut Estonia menggunakan air suling. Selanjutnya saya akan menanalisis kandungan minyak yang dihasilkan oleh mikroalga tersebut.

Semoga riset pendahuluan yang saya lakukan ini dapat membuka peluang seluasnya untuk memanfaatkan kandungan senyawa organik yang melimpah dalam media gambut untuk memproduksi mikroalga yang mampu menghasilkan berbagai bioproduk yang bernilai ekonomis di Indonesia.

about author

Hani Susanti M.Si

197905182010122001

Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia

Komentar (3)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher