Blog Sivitas

Pendahuluan



Tulisan yang berjudul Pengorganisasian Masyarakat Ekologi(Organizing the Ecological Society) ini merupakan intisari dari Chapter 9 di Part III The Practical yang ditulis Michael Mayerfeld Bell (1957) dalam buku yang berjudul An Invitation to Environmental Sociology. Tulisan ini diawali dengan pemaparan kondisi rumah tangga, kepemilikan, sikap, dan perilaku Bell yang sedikit banyak berpengaruh terhadap kondisi lingkungan dan juga bagaimana Bell mengakui dan percaya bahwa nilai-nilai lingkungan harus dilaksanakan dan dilestarikan.



Bell menyatakan dirinya bukanlah penjahat lingkungan, tetapi bukan juga environmentalis yang suci. Bell mengaku dirinya masih menjadi seorang pencinta lingkungan yang munafik, yang banyak bicara dan sedikit bekerja, meskipun sebetulnya Bell prihatin dengan kondisi lingkungan yang semakin rusak sehingga menginginkan adanya perubahan sosial dan lingkungan ke arah kondisi yang lebih baik. Apa yang dialaminya, menurut Bell banyak juga dialami orang lain. Mayoritas masyarakat di dunia, baik di negara kaya maupun di negara miskin, sama-sama mempunyai keprihatinan terhadap kondisi lingkungan meskipun mereka belum mewujudkannya dalam tindakan nyata yang total. Kondisi/persepsi yang sama ini menurut Bell menjadi peluang untuk melakukan aksi nyata bersama untuk memperbaiki kondisi lingkungan/ekologi.



Menurut Bell, organisasi sosial merupakan wadah yang bisa dijadikan alat untuk melakukan perubahan tersebut melalui aksi bersama. Meskipun organisasi sosial juga seringkali mempunyai karakter seperti manusia seringkali memperlihatkan dengan jelas sifat tidak konsistennya dengan melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan keyakinan/pendiriannya (the A-B split), namun dengan reorganisasi yang dilakukan, kita bisa membentuk struktur sosial baru dan pandangan baru yang bisa menjadi penduan hidup kita.


Permasalahan Aksi Kolektif



The Tragedy of the Commons



Selanjutnya yang harus dilakukan adalah kerja sama di antara anggota komunitas atau organisasi sosial. Kerja sama bisa tercipta apabila ada rasa saling memiliki di antara anggota komunitas, misalnya kesadaran dan pengakuan bersama atas kepemilikan properti atau sumber daya alam. Namun, pandangan sebaliknya justru datang dari Garret Hardin yang ditulis dalam artikel yang sangat terkenal dengan judul The Tragedy of the Commons pada tahun 1968.



Menurut Hardin, dengan menganggap sumber daya merupakan milik bersama, semua orang merasa berhak memiliki dan melakukan eksploitasi tanpa ada rasa tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan. Sumber daya (alam) yang dieksploitasi tersebut akan menjadi rusak dan selanjutnya menimbulakan tragedi berupa bencana. Terjadinya tragedi of the commons ini dicontohkan Hardin dengan menggambarkan perisitiwa di sebuah padang rumput di suata desa yang biasa dijadikan tempat penggembalaan domba bersama. Awalnya padang rumput ini hanya didatangi oleh seorang penduduk desa dengan membawa sepuluh ekor domba. Tapi, lama kelamaan semua orang desa yang punya dombak membawa dombanya ke sana dan jumlah yang di bawa oleh masing-masing penggembala semakin bertambah, akibatnya karena jumlahnya menjadi sangat banyak dan tidak terkendali. Rumput-rumput pun akhirnya habis dan domba-domba pun satu persatu ikut mati karena kelaparan sehingga menyebabkan bencana/kerugian ekonomi dan lingkungan.



Dialog Solidaritas



Namun, apa yang disampaikan oleh Hardin tersebut dinilai Bell dan banyak ilmuwan terlalu berlebihan, didramatisir, dan melupakan aspek-aspek sosial (meskipun banyak juga yang setuju dengan Hardin). Bell menyatakan bahwa kita masih banyak menemukan contoh sukses dari pengelolaan sumber daya yang dilakukan secara bersama-sama, seperti pengelolaan padang rumput penggembalaan di berbagai wilayah di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan; serta pengelolaan perikanan di India, Brazil, dan juga Indonesia (aturan sasi dan awig-awig). Contoh lain di Indonesia adalah subak di Bali dan perladangan tradisional Dayak.



Bell menyatakan, di antara sesama anggota komunitas, memiliki solidaritas yang terbentuk dari dialog solidaritas. Dialog solidaritas ini merupakan salah satu jenis dialog eklogi yang didasarkan pada interaksi konstan dua hubungan yang saling mendukung, yaitu solidaritas interes (aspek materi) dan solidaritas sentimen (aspek yang ideal). Contoh dari solidaritas interes adalah relationship dan contoh solidaritas sentimen adalah afeksi/perasaan dan norma-norma bersama. Untuk lebih memudahkan pemahaman terhadap dialog solidaritas, Bell menceritakan legenda/fabel Why the Lion Spared Androceles dan memberikan satu kasus The Prisonners Dilema.



Dialog, Demokrasi, dan Permasalahan Lingkungan



Dalam perkembangannya, di masyarakat modern, dialog solidaritas mengalami kemandekan sehingga mengakibatkan dialog ekologi juga mengalami kemandekan. Hal ini memunculkan tantangan bagi kelestarian, keadilan lingkungan, serta aturan dan keindahan alam. Tantangan ini memiliki kaitan dengan material origins (asal-usul materi), seperti the treadmills of production and consumption, technological somnambulism, dan the interplay of population and inequality. Hal ini juga memilik kaitan dengan ideal origins, seperti hierrarchical and antidemocratic attitudes about society and the environment, and simplistic and uncritical conceptoons of nature and a natural conscience. Semua tantangan berkaitan dengan isu-isu komunitas, seperti bagaimana kita mengorganisasi diri secara sosial, bagaimana kita membayangkan hubungan kita dengan yang lainnya: antara manusia dengan manusia lainnya, manusia dengan makhluk lainnya, dan bagaimana dialog tersebut kita bayangkan dan membayangkan cara mengorganisasinya.



Top dan Bottom Perubahan Sosial-Lingkungan



Pendekatan top-down atau bottom-up sering dipilih oleh berbagai pihak dalam menjalankan suatu program dan kebijakan. Pendekatan top-down menggunakan komando dan kontrol, sedangkan pendekatan bottom-up menggunakan partisipasi dan kerelaan dari oranga-orang untuk dikoordinasikan. Lantas untuk perubahan lingkungan, pendekatan mana yang harus dilakukan Jawabannya adalah keduanya. Kedua pendekatan ini dihubungkan oleh dialog solidaritas. The Top merepresentasikan garis dalam organisasi sosial yang berbasi pemerintah, ekonomi, teknologi, dan struktur sosial lainnya. The Bottom merepresentasikan aktivitas sosial dan dukungan warga yang pada akhirnya memungkinkan terwujudnya perubahan yang diinginkan. Dengan kata lain, tanpa partisipasi dan kerelaan the bottom, pola organisasi sosial susah untuk dipegang dan dijalankan; dan tanpa peran the top, the bottom akan menghadapi kesulitan dalam mengkoordinasikan berbagai aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.



Reorganisasi Komunitas



Selanjutnya, Bell menuliskan contoh-contoh bagaimana reorganisasi komunitas dilakukan dengan dialog solidaritas yang kemudian melahirkan dialog ekologi dalam berbagai kegiatan dan program di tiga negara yang berbeda, yaitu kegiatan daur ulang di Amerika Serikat, program penyediakan air di sebuah desa di Kosta Rika, dan program yang menumbuhkan pengetahan lokal di Honduras. Tiga kegiatan/program tersebut secara umum dilakukan melalui kerja sama yang kuat antara the bottom dan the top.



Setelah memberikan contoh di tiga negara berbeda, Bell memberikan contoh reorganisasi sosial yang terjadi/dilakukan di komunitasnya sendiri, yaitu Ames, Iowa. Contoh-contoh yang diceritakan adalah (i) penggunan sepeda untuk mengangkut dan melakukan bisnis pengiriman barang yang dilakukan Jim dan Joan, (ii) pembentukan komunitas pendukung pertanian yang membangun kemitraan antara para petani dan konsumen untuk mendukung produksi pertanian lokal, dan (iii) gerakan the new urbanism yang mengembalikan pembangunan kota ke model tata kota tradisional yang berorientasi pada pembangunan bagi warga dan bukannya untuk kendaraan. Gerakan ini meminta perumahan, perbelanjaan, perkantoran, dan fasilitas kenyamanan terletak dalam jarak yang bisa ditempuh dengan jalan kaki sehingga mengurangi kebutuhan akan kendaraan dan jalan raya.



Reorganisasi Masyarakat



Terakhir, kita perlu untuk melakukan reorganisasi/menata kembali masyarakat yang lebih besar dimana kita menjadi bagian di dalamnya. Di sini juga membutuhkan peran the top dan the bottom untuk melakukan perubahan sosial serta interes dan sentimen yang harus dikumpulkan bersama menjadi solidaritas yang interaktif berupa dialog demokrasi.



Salah satu reorganisasi masyarakat yang dilakukan adalah membuat regulasi mengenai lingkungan dan standardisasi lingkungan. Proses ini disebut greening business dan greening consumers dan sering juga disebut ecological modernization oleh para sosiolog lingkungan. Untuk mencapai perubahan tersebut, kita membutuhkan hukum dan pemerintah yang handal dalam mengorganisasi masyarakat ekologi.



Reorganisasi Diri (Penutup)



Kita, bagaimanapun, tidak mungkin bekerja untuk merubah masyarakat lokal dan masyarakat yang lebih besar yang mewakili seluruh masyarakat, kecuali kita secara pribadi telah berkomitmen untuk merubah diri kita sendiri. Selain itu, peliharalah dialog solidaritas yang menghubungkan interes dan sentimen dan selanjutnya memperbaiki/mewujudkan dialog ekologi. Memelihara dialog ini merupakan pekerjaan dasar komunitas demokrasi, dari yang terkecil sampai komunitas yang terbesar dari semuanya. Hal ini perlu dilakukan dengan adil, tepat, indah, dan berkelanjutan.



DAFTAR PUSTAKA



Bell, Michael M. 1957. An Environmental Sociology 4th ed. Pine Forge Progress, an Imprint of Sage Publications, California.

about author

Ali Yansyah Abdurrahim S.P., M.Si

198205132008121001

Pusat Penelitian Kependudukan

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher