Blog Sivitas

Pemerintah Indonesia mentargetkan mulai tahun 2016 penggunaan bioavtur sebagai sumber energi pelengkap bagi bahan bakar pesawat yang disebut jet fuel. Meskipun regulasi menyebutkan penambahan bioavtur baru 2 persen ke dalam campuran bahan bakar pesawat terbang, namun demikian tetap memberikan keuntungan apabila ditinjau dari pengurangan emisi buang bahan bakar dan upaya pencarian bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan.
Bioavtur dapat diperoleh melalui berbagai proses diantaranya transesterifikasi, pirolisis, hidrotermal, proses enzimatik dan fermentasi. Bahan baku bioavtur dapat diperoleh dari berbagai sumber nabati seperti minyak sawit, biomassa yang mengandung serat, gula dan tepung serta dari mikroalga. Mikroalga sangat berpotensi menjadi sumber bioavtur , bahkan beberapa perusahaan di Eropa seperti Solazyme, Sapphire Energy, General Atomic, Phycal, UOP-Honeywell dan perusahaan di Jepang bernama Euglena Co. Ltd, JX Nippon Oil and Energy dan Hitachi Plant Technology, Ltd., telah memproduksi energi terbarukan jenis ini dengan menggunakan bahan baku dari mikroalga.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa harga bioavtur akan lebih mahal dibandingkan avtur karena diawali oleh proses produksi yang membutuhkan biaya yang relatif tinggi. Kendala ini dapat diantisipasi dengan cara menciptakan industri berbasis produk samping dari biomassa mikroalga yang bernilai tinggi seperti vitamin B, vitamin C, betakaroten, pigmen alami, suplemen kesehatan yang in line dalam suatu perusahaan bioenergi berbasis mikroalga. Selain itu, pemanfaatan berbagai limbah sebagai alternatif sumber nutrisi untuk budidaya mikroalga dapat mengurangi biaya operasional yang tinggi untuk menghasilkan bioenergi dari mikroalga tersebut.
Sebagaimana karakteristik minyak sayur, minyak mikroalga memiliki viskositas 10 kali lebih tinggi dibandingkan jet fuel. Minyak mentah dari mikroalga dapat merusak mesin pesawat dan menyumbat filter karena viskositasnya yang tinggi, namun tingginya nilai viskositas ini dapat berkurang melalui proses transesterifikasi. Kombinasi bioenergi dari mikroalga dengan jet fuel, disebut juga bio-jet fuel, dapat digunakan dalam mesin diesel. Bioenergi dari mikroalga bersifat non-toksik, tidak mengandung cincin aromatik maupun sulfur , biodegradable dan lebih aman dipakai dibandingkan diesel maupun jet fuel itu sendiri. Chlorella vulgaris dan Euglena sp. merupakan spesies mikroalga yang sudah dikomersialisasi sebagai sumber bio-jet fuel
Anda dapat membayangkan apabila bahan bakar bio-jet ini dimanfaatkan secara luas oleh seluruh maskapai penerbangan di dunia maka selain dapat menikmati perjalanan nyaman di udara, anda pun telah merasakan jasa pesawat yang anda tumpangi terhadap terciptanya lingkungan yang sehat dan mampu mengurangi efek rumah kaca secara global. Inilah salah satu cara menikmati go green di angkasa

about author

Hani Susanti M.Si

197905182010122001

Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher