Blog Sivitas

Pikiran saya ini muncul saat diminta untuk menjadi pembicara pada acara "Pelatihan Menulis Ilmiah Populer" di KIM LIPI, Serpong pada tanggal 30 Mei 2006.Menulis ilmiah bisa didefinisikan macam-macam, namun secara harfiah bisa diartikan sebagai menulis sesuatu yang terkait dengan topik ilmiah. Masalahnya kemudian adalah ada menulis ilmiah populer serta ilmiah dengan standar dan kaidah ilmiah murni. Pada kesempatan tersebut saya diminta memberikan presentasi untuk kategori menulis ilmiah populer.Meski saya menerimanya dengan senang hati, dalam hati kecil saya merasa kesulitan untuk menjabarkannya sebagai sebuah presentasi yang tentu ditujukan untuk mendorong sivitas LIPI gemar dan tak segan menulis ilmiah populer. Pasalnya saya sendiri bukan tipe penulis (atau suka menulis) ilmiah populer.Intinya kemudian saya mempresentasikan bukan bagaimana menulis ilmiah populer, karena saya sendiri bukan ahlinya, tetapi lebih ke batasan kapan dan bagaimana isi artikel ilmiah populer.Mengapa ini saya anggap penting Karena menulis ilmiah populer bisa dibilang susah, tetapi juga bisa jadi mudah. Khususnya bila dibandingkan dengan penulisan ilmiah yang sebenarnya, tingkat kesulitannya jauh lebih kecil. Lepas dari tingkat kesulitan, saat pelatihan saya menekankan dua hal :


  • Jangan terlalu banyak / sering menulis ilmiah populer sampai menjadi terpuaskan.
  • Hindari klaim ilmiah berlebihan dalam tulisan, dan berusaha menyampaikan fakta ilmiah sejujurnya.
Poin pertama penting karena banyak kasus dimana akhirnya penulis aktif menjadi tidak produktif. Terlebih kemudian penulis tersebut mendapat eksose publik yang tidak proporsional dan "laris" menjadi "selebriti ilmiah". Setiap profesi hakekatnya memberikan kepuasan dalam bentuk eksistensi diri. Ekspose yang berlebihan akhirnya malah mendorong ilmuwan tsb menjadi lupa akan eksistensi utamanya. Karena dengan kelarisannya sudah merasa "puas" dan seolah memiliki eksistensi, padahal di dunia dan komunitas yang berbeda serta bukan pada tempatnya. Sehingga tanpa sadar ybs menjadi lupa bahwa dirinya pada hakekatnya sudah bukan ilmuwan lagi, namun telah beralih profesi menjadi "selebriti yang mantan ilmuwan".Poin kedua sering terkait dengan poin pertama. Karena seringkali akibat "tekanan dan tuntutan" publik secara tidak sadar penulis cenderung membuat "klaim (berbau)i lmiah" berlebihan dalam tulisannya. Karena memang publik uawam lebih menyukai sesuatu yang bombamtis, dilain pihak ilmu sebenarnya sangat lemah dan penuh dengan kekurangan, disertai perkembangan yang setahap demi setahap dalam jangka waktu relatif lama. Hal ini sangat berbahaya dan membahayakan. Tidak hanya untuk ybs, namun juga untuk komunitas terkait. Karena publik dengan mudah percaya pada apa yang tertulis, sehingga akan timbul sikap yang berlawanan saat kelak diketahui bahwa klaim tersebut bohong belaka. Disini letak perbedaan utama prinsip ilmiah dan prinsip media. Prinsip ilmiah : boleh salah tetapi tidak boleh bohong. Prinsip media : tidak boleh salah, tetapi boleh bohong (sedikit)...;-)Tentu saja ini bukan berarti saya menentang seseorang menjadi populer karena tulisan ilmiah populernya. Namun ini hanya sebagai pengingat saja, bila memang Anda sudah berniat untuk pindah profesi tentu tidak masalah. Atau setidaknya ini sebagai himbauan untuk tidak mencampur-adukkan posisi sebagai selebriti dengan sebagai ilmuwan yang memegang teguh prinsip ilmiah. Sebab tulisan ilmiah populer sangat perlu dalam konteks edukasi publik, namun jangan sampai terlalu jauh sehingga kelak menjadi bumerang bagi kegiatan ilmiah itu sendiri...

about author

Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc.

196805071987121001

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher