Blog Sivitas

Berikut ini adalah tanggapan saya yang panjang lebar atas sebuah artikel yang dirilis di blog Romi Satrio Wahono (http://www.romisatriowahono.net) pada tanggal 28 Juni 2006. Artikel tersebut saya ketahui saat kutipannya dilansir di Intra LIPI oleh salah satu sivitas LIPI. Artikel tsb cukup menggelitik saya, khususnya karena Romi adalah adik kelas saya di program pengiriman karyasiswa SMA era Habibie, sekaligus dia juga yunior di LIPI meski berbeda satuan kerja.



Halo Romi !


Saya senang sekali membaca blognya Romi ini. Saya tahu karena ada kawan yang posting di Intra LIPI. Kita buka-bukaan saja ya, toh memang tidak perlu ada yang disembunyikan. Saya sangat memahami isi hati Romi, karena kita seinstitusi meski lain lembaga, dan kebetulan juga saya seniornya dengan jalur yang sama. Bahkan dengan background yang jauh lebih ada alasan untuk berhenti jadi PNS daripada Romi;-). Juga waktu awal Romi pulang kita sering bertukar pikiran.



  1. Meski artikel Romi ada nuansa men-discourage generasi muda mendaftar jadi PNS, saya yakinkan bahwa kami, minimal di LIPI, masih memerlukan kalian yang pintar, bersemangat dan siap berjoeang. Untuk itu, seperti penerimaan CPNS tahun lalu, sistem Penerimaan CPNS LIPI saya jamin bersih dan untuk pertama kalinya di Indonesia semua full online. Jadi boro-boro bayar segala, antrian yang bisa bikin pingsanpun tak ada. Ini sebagai langkah awal untuk mendapatkan kandidat terbaik. Sebab permasalahan laten di PNS adalah SDM yang memble akibat proses rekrutmen selama ini yang tidak transparan. Sialnya ini sudah berlangsung sepanjang era Orba sehingga beberapa generasi sudah terlanjur terisi oleh orang-2 yang bermasalah dengan kompetensi payah. Meski tidak semua, tetapi benar bahwa yang bagus itu hanya minoritas.


  2. Bagaimananpun perubahan tidak bisa dilakukan hanya dari luar oleh sistem. Karena sistem yang ada turun temurun tsb memang banyak sekali buruknya sebagai warisan Orba. Perubahan terbesar harus dari dalam dan dilakukan oleh sivitas internal. Untuk itulah diperlukan superman-2 di dalam. Hal ini saya rasakan benar sejak berada di LIPI sejak 2002. Untuk itu memang harus ada ambang batas jumlah kawan yang pintar dan punya dedikasi untuk break event point melakukan perubahan. Saat ini saya merasa, minimal di tempat saya bekerja, sudah mendekati ambang batas itu sehingga perubahan bisa semakin dipercepat. Orang-2nya sebenarnya juga kawan-2 sendiri yang dari jalur yang sama dengan saya dan Romi. Asal ada 10 persen saja yang bagus itu sudah cukup, sebab yang 90 persen itu hanya follower, sedangkan yang 10 persen itu yang menjadi kunci perubahan sistem. Dalam konteks ini, saya mohon anak-2 muda yang masih smangat dan pinter daftar jadi PNS LIPI yah, please.! Karena Anda calon penambah ambang batas sivitas pelaku perubahan ! Saat ini seluruh tim saya, baik di lembaga saya maupun di Tim Gabungan Jaringan (TGJ) LIPI diisi anak-2 muda yang masuk tahun 2005 dan 2006.


  3. Sayangnya, seperti kasus Romi, calon superman-2 tidak selalu masuk di tempat yang tepat. Sehingga kemampuan supernya tidak sempat tereksplorasi dan mendapat timing menjadi ikon perubahan. Apalagi untuk perubahan yang membutuhkan sedikit revolusi. Meski ada juga perubahan yang harus dilakukan agak lambat dan berhati-hati, sebagian besar harus ekstrim dan dilakukan dengan cepat dan drastis. Sebab kalau tidak akan kehilangan momentumnya. Karena setiap perubahan, apalagi terhadap sistem yang sudah laten, pasti menimbulkan resistensi.


  4. Sejauh yang saya jalani, khususnya di lembaga akademis seperti lembaga saya, saya merasa masih bisa melakukan perubahan. Itu mungkin karena sivitasnya yang relatif lebih akademis. Perubahan memang lebih sulit untuk lembaga yang sifatnya lebih administratif, seperti lembaga tempat Romi. Apalagi departemen-departemen, nggak kebayang deh


  5. Sebagai person untuk mendorong perubahan, memang harus berlaku bak superman. Apalagi untuk superman pionir, harus jadi super-superman ! Beruntunglh kalau Anda bisa langsung masuk di tempat yang sudah ada supermannya. Anda tinggal ikut gerbong. Khusus untuk superman pionir, harus keep yourself perfect minimal di mata sivitas dan berani mati. Karena Anda harus menjadi contoh. Karena perubahan ekstrim, atau bahasa bisnisnya turn-around, harus dilakukan secara ekstrim dan sedikit otoriter supaya tidak kehilangan momentum. Persis seperti Lee Kuan Yew atau Mahathir waktu pertama kali memimpin negaranya yang saat itu sebenarnya tidak lebih baik dari Indonesia. Setelah stabil dan oke baru otoriternya dilepas (asal jangan kelupaan). Agar kebijakan yang otoriter tsb bisa diterima itulah perlu keteladanan dan menjadi panutan sehingga sivitas trust pada Anda. Apalagi untuk PNS yang umumnya memang krisis teladan.;-(. Dalam konteks ini Romi dkk (Hendro dll) punya kelemahan waktu itu yah karena S3-nya tidak terselesaikan, padahal itu mutlak untuk lembaga akademis seperti LIPI.;-(.


    Kalau saya sejak awal prinsipnya maju terus, nggak perduli tabrak sana tabrak sini. Karena prinsip saya nothing to loose. Pilihan saya hanya dua, hancurkan sekarang dapat hasil atau kalau gagal keluar dari LIPI. Toh, kalau tidak begitu, kemudian saya frustasi akhirnya keluar juga. Jadi daripada keluar tanpa ngapa-ngapain, mending keluar setelah berlumuran darah tabrak sana tabrak sini. Untuk itu kita harus konsekuen, saya dulu tidak pernah ikut proyek apapun, sehingga kita lebih netral dan bebas. Sebagai gantinya ya cari grant-2 dari kolehga di luar negeri. Sampai sekarangpun saya tidak peduli punya proyek penelitian dengan dana LIPI atau tidak. Pokoknya harus semandiri mungkin sehingga kita tidak mudah ditekan. Masalah ikut proyek atau tidak ini sebenarnya kunci. Untuk calon superman saya sarankan tidak ikut (jadi Penannggung-jawab). Kalau tidak, posisi Anda akan terkunci dan sudah skak-mat tuh


    Lebih dari itu, saya nggak ambil pusing dengan honor tambahan dll. Mau dikasih honor ok, nggak juga nggak apa-apa. Justru karena tidak ada proyeknya, apa yang sudah dikerjakan dan tidak mendapat imbalan tidak menjadikan sakit hati, lha wong sejak awal memang niat ingsun volunteer kok




Kesimpulannya : untuk mampu melakukan perubahan ada beberapa faktor.


  1. Tempat dan timing yang pas, lebih enak kalau sudah ada superman pionir disitu. Kalau tidak Anda harus menjadi pionirnya.
  2. Untuk jadi superman pionir : punya modal kekuatan moril berupa pendidikan dan track-record (bersih, di bidangnya, dll). Ini sebabnya perusahaan yang kolaps akan mencari eksekutif hebat dan terkenal untuk melakukan turn-around, supaya seluruh sivitas bisa dimobilisasi iku gerbong perubahan.
    Kalau sudah ada superman pionir, Anda cukup menambah bekal dan track-record untuk menjadi superman baru.
  3. Berani bersikap nothing to loose dan harus mandiri. Itu sebabnya sebelum balik ke Indonesia, selama di LN harus mempersiapkan diri (ekonomi, kepakaran, koneksi sumber dana, dll). Ini supaya kita bisa kerja volunteer di dalam lembaga dan tidak mengharapkan apapun.



Nah, kalau Anda tidak memiliki 3 poin diatas. Cobalah dulu melakukan perubahan, paling lama selama 2 tahun. Kalau tidak bisa, segera tentukan pilihan hidup ! Pokoknya jangan setengah-2 ! Kalau keluar ya keluar aja. Sebab masa puncak seseorang ada batasnya, setelah usia tertentu hukum alam mengajarkan kurva selalu berbentuk parabola terbalik dan tidak linear ke atas terus. Sehingga dalam usia puncak ini segera manfaatkan potensi Anda, apakah sebagai PNS atau sebagai entitas non-PNS. Yang penting berprestasi, karena itulah yang diharapkan dan diperlukan negeri ini !


Comment Posted By LT Handoko On 25.07.2006 @ 09:00





Betul memang degree tidak penting. Saya juga tidak mementingkn itu. Tetapi itu perlu sebagai modal awal, khususnya kalau mau menjadi superman melakukan perubahan internal di lembaga akademis. Kalau kontribusi non-akademis saya pikir oke tanpa itu. Tapi kalau di lembaga macam LIPI atau univ itu mutlak. Bagaimana mau buat perubahan membuat kurikulum kuliah yang baik kalau kita tidak pernah bisa menjadi dosen tetap karena hanya S1 misalnya


Poin saya diatas adalah : untuk kasus Romi itu merupakan salah satu cacat yang mengurangi keteladanan dan trust. Memang tidak ada manusia sempurna, tetapi untuk mengajak orang berubah kita harus bersih dan menjadi contoh. Dalam konteks Romi di LIPI : ya harus menyelesaikan studi, punya track record akademis, track record pekerjaan bagus (ini sudah ada khan), dsb. Kalau bukan di LIPI ya mungkin lain lagi lah...


Untuk Bang Parlin Pasaribu, saya setuju sekali kalau perubahan harus dilakukan oleh Presiden dsb. Tapi kalau menunggu itu ya seperti menunggu godot. Yang saya ungkapkan adalah bahwa masih banyak celah yang bisa dan harus dilakukan dalam level kita dan grup kita. Pengalaman saya justru menunjukkan perubahan terbesar itu ada di tangan kita sendiri. Ini jauh lebih cepat dan yang atas akan terdesak mengikutinya setelah itu.


Justru pandangan top-down itu merupakan mental tinggalan Orba Itu juga yang menjawab mengapa meski ada kebijakan ini itu, tetap saja birokrasi tidak berubah. Karena memang yang lebih banyak diperlukan, dan ini lebih sulit, adalah ikon perubahan di level grass-root dalam internal birokrasi. Itulah sebabnya di jaman ini gerakan akar rumput macam LSM itu makin penting. Ini sebenarnya salah satu ciri demokrasi yang mulai berjalan, termasuk dalam birokrasi. Kalau negara otoriter macam Cina memang semuanya harus top-down. Khususnya di lembaga akademis macam Puslit-puslit di LIPI ini lebih subur karena secara birokrasi ketergantungan pada atasan rendah, berbeda dengan di departemen atau lembaganya Romi yang lebih bersifat administratif dan struturalnya kental.


Sebenarnya secara umum PNS yang jadi guru, dosen dsb juga sama saja. Hanya Bang Parlin nggak tahu aja;-). Tetapi persentase yang bermasalah memang lebih rendah karena ada tuntutan profesionalisme sesuai karakteristik pekerjaan. Di LIPI, BPPT dsb kalau untuk kalangan peneliti juga demikian. Yang masalahnya banyak memang di bagian yang sifat pekerjaannya umum dan administratif. Itulah mengapa yang bermasalah di Departemen jauh lebih banyak karena kelompok profesional disitu hanya minoritas.


Kayaknya setelah masuk Intra LIPI, blog kamu bakalan makin rame lho Rom, he he ;-)

about author

Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc.

196805071987121001

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher