Blog Sivitas

e-Indonesia (Vol. III no. 22, 2007)Tidak diragukan lagi perkembangan teknologi informasi (TI), khususnya internet, di Indonesia dewasa ini cukup pesat. Tanpa ditunjukkan dengan angka-angka sekalipun semua orang meyakini hal tersebut sebagai realita sehari-hari yang kasat mata. Bila 10 atau bahkan 5 tahun yang lalu, masih banyak pihak merasa perlu bertanya, ~Mengapa harus memakai internet ~, saat ini pertanyaan level tersebut sudah hampir tidak terdengar. Bahkan sebaliknya pernyataan semacam "Hare gene tidak pakai internet..." lebih dominan. Seluruh pihak, termasuk pemerintah pusat dan daerah serta birokrat di semua bidang dan level, seolah berlomba untuk turut serta memanfaatkan TI di lingkungannya. Terlepas dari efektifitas serta kesahihan metoda yang dipakai, euforia semacam ini patut disyukuri dalam konteks pengembangan TI di Indonesia. Kalaupun masih banyak kerancuan, kesalahan pemilihan sistem dan arsitektur dan sebagainya, hal tersebut masih bisa dianggap wajar mengingat transformasi ke TI merupakan salah satu bentuk transformasi budaya, lebih daripada implementasi teknis TI itu sendiri.Yang mulai mengkhawatirkan sebenarnya adalah substansi pemakaian dan konten TI dalam aplikasinya di masyarakat. Bisa dikatakan lebih dari 90 persen pemakaian lebar pita internet adalah koneksi global, dan sedikit sisanya yang termanfaatkan untuk mengakses konten lokal. Tentu saja tidak ada yang salah dengan dominasi pemakaian Yahoo! untuk surat elektronik, atau Google untuk mesin pencari. Dan sebaliknya bukan berarti kita harus membuat sarana semacam Yahoo! atau Google versi lokal. ~Lokalisasi~ konten global semacam itu hanya menunjukkan minimnya kreatifitas kita seperti saat awal boom industri konten internet sampai tahun 2000-an di Indonesia. Sangatlah tidak efisien, dan tidak perlu, untuk berusaha menyaingi Google dkk tersebut. Lantas apa yang bisa kita lakukan Gali dan kembangkan kreatifitas lokal yang mengacu pada konten dan karakteristik lokal. Setidaknya hal ini sudah berhasil dilakukan oleh detikcom serta beberapa situs media massa. Meski sebagai sebuah industri, situs berita ala media massa tersebut harus diakui masih sebagai pelengkap dan usaha menjaga brand image. Tentu harus dipahami bahwa kurangnya konten lokal tidak hanya disebabkan oleh masalah kreatifitas, tetapi juga oleh kemampuan pasar yang masih rendah.Namun seyogyanya pasar yang memble ini tidak harus menjadi alasan. Justru hal ini harus dijadikan input dalam melakukan pengembangan konten yang sesuai dengan karakteristik tersebut. Pendekatan yang dilakukan para operator telepon seluler mungkin bisa dijadikan inspirasi. Terbukti saat ini sudah hampir sepertiga populasi Indonesia memakai ponsel. Selain itu tidak semua segmen pasar harus dijadikan industri berbasis keuntungan. Khususnya untuk internet, justru jauh lebih banyak ceruk pasar yang merupakan niche market yang lebih pantas dikelola tidak dengan dogma ekonomi konvensional. Untuk kasus global bisa disebut Kiva (www.kiva.org) yang mengembangkan gerakan simpan pinjam global yang bukan merupakan lembaga nirlaba tetapi juga tidak masuk kategori bisnis murni. Untuk kasus lokal contohnya ARSIP (www.arsip.lipi.go.id) yang memberikan jasa data mirroring khusus untuk data ilmiah. Dalam konteks ini tidak selalu ~marjin~ berasal dari pemakai jasa langsung seperti layaknya hukum pasar konvensional. Tentu saja kita sudah memiliki misalnya situs IlmuKomputer.Com yang dikelola Romi dkk. Namun perlu diingat IKC menyasar target komunitas TI, atau minimal yang tertarik TI, sehingga tidak mengherankan bila langsung mendapat sambutan. Sama halnya dengan mirroring di kambing.vlsm.org yang dikelola parktisi TI di UI. Meski dalam konteks ini IKC lebih memiliki muatan lokal dan orisinalitas. Namun bagaimana dengan masyarakat non-TI yang notabene jauh lebih banyak Komunitas penikmat kuliner, peneliti fisika, praktisi medis dan lain-lainnya. Justru target pasar semacam ini jauh lebih sulit ditembus, karena memerlukan edukasi pasar yang panjang dan konsisten, serta kreatifitas dan kejelian melihat kebutuhan segmen tersebut. Itulah mengapa fisik@net (www.fisikanet.lipi.go.id) tidak tergoda untuk menjadi portal fisika populer, tetapi konsisten memilih jalur konten ilmiah terkait fisika.
Hal yang sama bisa dilihat di Jurnal Online (www.jurnal.lipi.go.id) yang menyasar komunitas ilmiah lokal yang selama ini mengalami kesulitan menjaga kelangsungan penerbitan jurnal ilmiah lokal. Ternyata justru dengan TI, bisa direalisasikan penurun biaya yang sangat signifikan. Sebaliknya peningkatan aksesbilitas oleh pengguna meningkatkan tingkat partisipasi komunitas terkait. Ini dimulai dari menyadari bahwa komunitas ilmiah sebagian besar melek internet, meski persentasenya populasi Indonesia yang melek internet masih sangat minim. Kejelian semacam inilah yang diperlukan dalam melakukan pengembangan konten yang sesuai dengan karakteristik lokal dan target pasar yang dituju. Sehingga lebih daripada paradigma untuk membangun ~bisnis baru~ dengan TI, pada banyak kasus implementasi TI untuk meningkatkan efisiensi bisnis konvensional justru lebih realistis. Atau bahkan pelibatan internet untuk menunjang bisnis yang sudah ada. Contoh kasus ini adalah Public Cluster (www.cluster.lipi.go.id) yang merupakan terobosan baru untuk pemeliharaan mesin paralel. Dengan membukanya untuk publik, dukungan untuk pemeliharaan dan kesinambungan bisa diperoleh. Sebenarnya ada contoh konten lokal yang gagal meski bermuatan TI, menyasar komunitas TI dan memiliki visi dan target yang jelas, yaitu milis lokal Groups.or.id. Meski dimulai dengan cita-cita mulia untuk mengurangi pemakaian lebar pit aglobal akibat pemakaian Yahoo! Groups secara masif, akhirnya sarana ini praktis mati suri. Dari pengalaman penulis yang pernah memanfaatkan sarana ini di awal peluncurannya, kegagalan ini lebih dikarenakan pengelolaan yang tidak profesional. Meski tidak berbasis hukum ekonomi konvensional, pengembangan konten lokal harus tetap dikaji dan ditelaah secara profesional untuk menjaga kesinambungan. Penyediaan konten dan jasa secara cuma-cuma (terhadap pemakai akhir) tidak berarti bisa seenaknya. Seperti selalu disebutkan, loyalitas di dunia internet hanyalah sejauh gerakan tetikus. Pada kasus penulis di Groups.or.id, saat itu server terlalu sering ngadat. Dan pada saat keluhan, dan bahkan tawaran bantuan, disampaikan direspon dengan jawaban ketus agar membuat sendiri server milis... Hal semacam ini tentu saja tidak bisa dibenarkan. Padahal bila Groups.or.id dikelola dengan benar, tidak sulit untuk mendapatkan sponsor tetap dan dukungan luas komunitas. Karena pemakai milis Yahoo! Groups hakekatnya tidak selalu maniak Yahoo! dan aneka perangkatnya. Sehingga lokalisasi sarana milis sebenarnya sangat dibutuhkan semua pihak. Sebaliknya pengelolaan konten lokal yang amburadul malah berakibat buruk dalam jangka panjang karena menimbulkan keraguan dan malah meningkatkan ketidakpercayaan pada konten lokal. Mungkin bila tidak siap, lebih baik pengembangan konten lokal tersebut dihentikan saja dari awal. Pengembangan dan implementasi konten lokal, meski yang tidak bermuatan ekonomi murni sekalipun, tetap harus didasarkan pada prinsip kesinambungan dalam jangka panjang, Untuk itu sejak awal perencanaan sudah harus dikaji dengan matang business process ke depannya. Sudah saatnya komunitas TI Indonesia bangkit kembali. Masa membangun kepedulian publik dengan kemunculan selebritis-selebritis dan ~ahli-ahli seminar~ TI sudah cukup ! Bila tidak dilanjutkan dengan membangun substansi dengan konten yang memadai, maka bangsa ini hanya akan kembali dikenang sebagai ~bangsa pembangun~ namun tidak bisa memelihara terlebih mengembangkan. Lebih dari itu, komunitas TI Indonesia sudah saatnya keluar dari tempurung dan kembali menengok dunia luar untuk bergandengan tangan dengan komunitas lain dalam merealisasikan implementasi TI untuk membantu mengatasi masalah substansi di segala bidang.

about author

Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc.

196805071987121001

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher