Blog Sivitas

Berikut ini adalah tanggapan saya yang panjang lebar atas sebuah artikel yang dirilis di NetSains.Com (http://www.netsains.com) pada tanggal 19 Desember 2007.



Karena nama saya disebut sama mbak Merry diatas, saya ikutan komentar ahh...;-)


Saya pikir tulisan Sdr. Parikesit di : http://www.netsains.com/index.php/page_info/pid_349 sudah menjawab.


Benar sekali bahwa ilmuwan "didorong" mensosialisasikan karya ilmiahnya ke awam. Bahkan hakekatnya kita juga suka kalau diulas secara populer dan hasil kajian kita diketahui publik. Tapi sekali lagi jangan "mengharuskan", apalagi sampai memberi "cap arogan" dsb. Kecenderungan kata "harus" dan cap-capan itu yang membuat dunia kita di Indonesia tidak berwarna dan seolah tidak memberi ruang toleransi. Mungkin karena demokrasi kita baru se-dekade yah...


Ilmuwan tugasnya adalah melakukan kajian ilmiah dan mempublikasikannya di komunitas ilmiah yang merupakan mekanisme alami untuk memilah karya ilmiah yang memiliki kebenaran ilmiah atau tidak. Setelah itu baru bisa disosialisasikan ke publik. Seperti kata Sdr Parikesit diatas, seolah keengganan menulis populer adalah bentuk kehati-hatian dan tanggung-jawab. Karena itu ada yang ngomel kalau banyak dipotong tulisannya seperti kata mbak Merry diatas. Itu karena mereka dibiasakan menulis sesuatu yang presisi sebagai bentuk tanggung-jawab ilmiah.


Inilah beda utama ilmuwan dengan science writer. Kalau science writer tujuan utamanya untuk membuat publik memiliki "ketertarikan atas suatu topik". Dan dalam banyak kasus presisi ilmiahnya memang harus dikorbankan. Jadi jangan dibandingkan dengan pak KK, Romi, Yohanes Surya atau Kang Onno. Karena mereka adalah "mantan ilmuwan" (minimal sementara jadi Menristek untuk pak KK), atau penggiat LSM untuk Kang Onno, Yohanes Surya atau Romi. Jadi memang sudah jadi bagian tugas merekalah untuk menulis populer. Kalau tidak siapa nanti yang kenal dan memanggil jadi pembicara seminar !! Sekali lagi, semua memiliki fungsi dan tugas masing-2 dan seharusnya kita saling menghargai.


Yang salah adalah karena suka "salah klaim" atau "over claim". Persis seperti keluhan Romi didtas, tidak ada yang salah dengan banyak menulis populer di blog atau media. Yangs alah adalah kalau klaim sebagai "peneliti" atau ilmuwan tetapi pada prakteknya saat ini sudah tidak melakukan kajian ilmiah dan mempublikasikannya...;-(. Kegemaran klaim begini ini yang membuat semuanya runyam. Mengapa tidak cukup bangga dengan predikat "penggiat TI", praktisi TI, science writer, dsb / Hal-hal inilah yang coba saya ungkapkan di debat saya dengan mbak Merry diatas. Jadi jangan dicampur aduk, terus malah menyalah-nyalahkan dan memberi cap yang tidak relevan ke pihak lain.


Jadi... wahai para science writer : "Banggalah sebagai science writer, dan jadikan profesi ini sebagai profesi terhormat dan diakui publik !". Anda semua merupakan bagian penting dari "rantai komunikasi ilmiah". Jadi stop dikotomi dan saling menyalahkan, sebaliknya perbaiki dan dekatkan diri ke pihak ilmuwan sebagai awal dan publik awam sebagai akhir rantai...


Saya ingat waktu awal NetSains.Com akan dimulai, saya sempat "dimarahi" mbak Merry karena ogah-ogahan partisipasi menulis. Padahal itu bukan karena ogah, tetapi karena belum punya ide apa-apa. Sebagai ilmuwan saya tidak akan menulis sekedar tulisan populer dari hasil browsing. Tetapi saya seharusnya menulis "sesuatu yang memang saya kaji / buat sendiri", dan bukan rangkuman. Karena itu kalau dilihat di situs saya, tulisan populer saya hanya ada 4 buah saja ! Yah karena memang baru itu yang saya buat kok...;-(. Jadi boro-boro arogan, lha untuk membuat satu topik baru saja kita perlu tahunan...


Sebenarnya jauh sebelum NetSains.com atau IKC-nya Romi, kita bahkan sudah membuat fisik@net (www.fisikanet.lipi.go.id) dan komput@si (www.komputasi.lipi.go.id) sebagai salah satu bentuk komunikasi publik. Tetapi filosofi awal publik yang disasar memang bukan publik awam, melainkan "publik pemula" bidang fisika dan komputasi. Karena memang kita saat itu melihat lemahnya proses regenerasi antara ilmuwan matang dan generasi dibawahnya. Untuk publik awam, kita melihat sudah "cukup banyak" science writer bidang-2 tsb yang aktif. Buktinya, dari data artikel populer di fisik@net, rata-rata sehari ada 1 artikel populer terkait fisika ! Jadi sudah cukuplah... Kalau ilmuwan : tidak berani klaim kalau tidak didukung data seperti ini, jadi tidak bisa sekedar membuat opini atau wacana...;-).


Saya tidak percaya ada ilmuwan yang tak mau berbagi mengenai apa yang diketahuinya, apa yang dimauinya, dan seterusnya seperti kata mbak Merry diatas. Yang sering terjadi adalah : kebetulan ilmuwan tsb memang tidak memahami permasalahan yang ditanyakan, atau sedang tidak punya ide apapun, dsb.


Justru disitu menurut saya tantangan sebagai science writer. Bagaimana mengorek keterangan dari ilmuwan untuk meningkatkan presisi tulisan populer yang dibuat. Sehingga tetap mudah dipahami oleh awam tetapi seminimal mungkin mengorbankan substansi ilmiahnya. Buktinya saya senang juga waktu diwawancara mbak Merry dulu...


Tetapi kalau yang dimaksud adalah "minta sumbangan artikel populer" tapi belum ditanggapi ya itu masalah lain. Semua orang sibuk dan itu harus dipahami dan dihargai ! Analoginya : apakah semua orang harus mampir ke bis PMI di Blok M saat lewat dan diminta untuk menyumbangkan darah ! Kemudian apakah orang yang menolak boleh langsung dicap sebagai orang pelit dan tidak peduli dengan orang lain Padahal mungkin ybs memiliki kegiatan sosial yang jauh lebih bermakna daripada sekedar donor darah, tetapi hanya karena saat tsb ybs sedang dalam perjalanan bisnis dengan waktu mepet.


Jadi... please deh mbak Merry, boleh saja membuat wacana bombastis seperti standar penulisan artikel di media (kalau tidak khan nggak laku...). Tetapi saya pikir tujuan NetSains.com khan beda dan sudah bagus. Kalau memang mau kontribusi ke substansi ilmiah untuk publik ya konsentrasi kesitulah... Kalau ada kesulitan atau kiriman artikel seret ya itu biasa. Teman-2 yang mengelola fisik@net dan komput@si juga sudah biasa dengan itu sejak tahun 2000 !


Saya pikir membuat polemik semacam ini tidak bagus dan kontraproduktif. Bukankah sebaiknya mempererat hubungan dengan ilmuwan Kalau perlu dibuat suasana nyaman agar ilmuwan yang masih malu-malu atau pemula bisa nyaman...


Ciri ilmuwan : ilmuwan adalah "problem solver", dan bukan hanya "problem provider". Kalau problem provider itu namanya pengamat...;-). Karena itu saya beri solusi riil : buatlah halaman khusus untuk memasukkan kaya tulis ilmiah asli (masih dalam bentuk paper), tetapi disitu diberi ruang bagi ilmuwan / orang lain (yang memahami) untuk memberikan penjelasan lebih detail (baik parsial maupun seluruhnya) secara lebih populer menurut ybs. Dengan demikian bisa nampak proses "populerisasi" suatu karya ilmiah. Lebih jauh ini membantu ilmuwan dengan beragam kemampuan menulis populer untuk berkontribusi...


Bagaimana !

about author

Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc.

196805071987121001

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Komentar (3)

  • Prediksi CG

    18 Agustus 2017, 09:51:26

    Memberikan Prediksi Skor Pertandingan Sepak bola Akurat Malam hari ini, serta Prediksi Togel setiap harinya terupdate dan terpercaya Prediksi Bola

  • Laksana Tri Handoko

    24 April 2009, 08:07:23

    Saya sendiri berusaha membiasakan untuk tidak berusaha "mendapat pengakuan" dengan "merendahkan pihak lain" baik secara langsung maupun tidak langsung. Contoh riil, selama ini seringkali komunitas sains (fisika khususnya) mendorong pengakuan dan dukungan publik "bahwa sains itu penting" dsb. Tetapi ada beberapa pihak yang terus membandingkan dengan "Kenapa acara idol-idolan di TV lebih didukung (khususnya dalam konteks finansial) daripada penelitian...".

    Sah-sah saja orang membandingkan begitu, tetapi sebagai komunitas yang mestinya lebih pinter, saya pikir sangat tidak etis dan juga tidak ilmiah membandingkan sesuatu yang bukan peer-nya. Acara idol di TV memiliki proses bisnis sendiri, dan sumber dana juga bukan dari dana publik. Kalau mau membandingkan, bandingkan dan ukur mengapa kita harus dan layak mendapat remunerasi dengan kolega di LN, apakah memang kita memiliki kinerja yang setara dst...;-(.

  • Soetrisno

    24 April 2009, 08:05:15

    Perkenalkan Soetrisno dari redaksi chem-is-try.org . Setelah membaca artikel dari Mbak Merry dan Pak Handoko, saya juga setuju dengan pendapak Pak Handoko bahwa tiap orang punya peranan-nya masing-masing didalam rantai memajukan iptek / sains di Indonesia. Pengajar, Peneliti, Science Writer, techopreneur harus eksis di masing-masing bidangnya dengan tidak melupakan tugas dan tanggung jawabnya dan tentunya kalau bisa dianugerahkan talenta khusus bisa merangkup dua atau tiga peran-peran tersebut.

    Jabat erat

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher