Blog Sivitas

NetSains.com (28 Desember 2007)

http://netsains.com/2007/12/perlukah-kinerja-ilmiah-diukur/Untuk apa riset Kalau bisa membeli dengan harga lebih murah mengapa harus mengembangkan sendiri Apa kontribusi riset untuk masyarakat, apakah tidak hanya membuang dana sajaPertanyaan-pertanyaan semacam ini jamak terdengar di berbagai kesempatan, bahkan di dalam gedung parlemen dari para wakil rakyat yang terhormat. Tidak hanya di Indonesia, di negara maju sekalipun kritik semacam ini sudah menjadi santapan sehari-hari para penentu kebijakan riset. Perbedaannya, khususnya di negara maju, kontribusi riset ke masyarakat sudah sangat riil dalam bentuk industri berbasis teknologi maju yang berujung pada peningkatan kemampuan kompetisi global dan kemakmuran. Sedangkan di Indonesia kontribusi masih sangat minim, karena komunitas dan budaya ilmiah yang masih dalam masa awal berkembang. Ditambah dengan kegagalan Habibienomics di era Orba, lengkap sudah track record komunitas ilmiah di Indonesia.Apa yang harus kita lakukan dengan cercaan diatas, baik sebagai bagian dari komunitas ilmiah maupun penentu kebijakan riset di beragam level Cukupkah dengan menggerutu bahwa wakil rakyat cukup bodoh untuk memahami pentingnya sains dan riset Tentu saja tidak ! Sebagai intermesso, penulis memiliki pengalaman saat awal melakukan rehaul total jaringan LIPI dan mendapat pertanyaan aneh dari salah satu petinggi, "Dik, mengapa kita perlu email Dengan memakai email berapa persen sih peningkatan kinerja yang bisa dilakukan " Untuk komunitas TI, atau pemakai aktif TI, pertanyaan ini tentu menggelikan. Tetapi tidak seharusnya kita berpikir dari sudut pandang komunitas atau pemakai aktif TI, yang notabene hanya minoritas di masyarakat. Mayoritas masyarakat tidak memahami TI, demikian juga sivitas LIPI pada saat tersebut. Daripada menganggapnya sebagai pertanyaan bodoh, akan lebih baik bila memaknainya sebagai pertanyaan kritis. Justru jawaban konkrit yang ditunjukkan dengan usaha riil harus dipikirkan. Kalau dievaluasi lebih lanjut, email merupakan teknologi internet paling primitif yang masih dominan pemakaiannya, lepas dari segala kelemahan yang ada.Habibienomic


Untuk kasus LIPI, pertanyaan kritis tersebut akhirnya menggiring Tim Gabungan Jaringan ~ TGJ LIPI untuk mengembangkan sistem terpadu Intra LIPI (http://intra.lipi.go.id) yang memberikan solusi non-email untuk aneka aspek internal. Sehingga jaringan institusi tidak sekedar untuk browsing. Hasilnya justru banyak sivitas non-peneliti yang mengenal internet berawal dari pemakaian Intra LIPI. Bahkan akhirnya saat lengser, pertanyaan pertama dari mantan petinggi tersebut adalah : ~Di ruangan baru saya sudah ada koneksi internet ,". Padahal sebelumnya beliau bahkan tidak pernah memegang keyboard komputer.Kembali ke masalah awal, hal yang sama seharusnya dipikirkan oleh komunitas ilmiah untuk menjawab keraguan publik diatas. Bukan malah terbuai dengan kejayaan era Habibienomic, atau menyalahkan pihak lain yang tidak mau atau bisa memahami. Kita harus memikirkan bagaimana membuat pihak luar tersebut memahami pentingnya sains. Era Habibienomic telah membuktikan bahwa cantolan politik dalam jangka panjang tidak mendidik, bahkan cenderung menjerumuskan komunitas ilmiah karena pemanjaan yang tidak terkontrol dan tidak berbasis kinerja riil. Kita seharusnya cukup pengalaman bahwa gelontoran dana tidak terkontrol hanya menggiring ke arah klaim berlebihan yang cenderung manipulatif untuk menutupi kekurangan serta konsekuensi atas penerimaan dana. Karena sains adalah sesuatu yang konkrit dan terukur, cepat atau lambat kelemahan dan kesalahan akan diketahui publik. Pada gilirannya hal ini menimbulkan krisis kepercayaan publik seperti kita alami saat ini. Lebih dari itu, proses pemanjaan yang berkepanjangan merongrong modal dasar saintis : kreatifitas dan ketekunan, yang berujung pada penurunan kemampuan saintis itu sendiri. Jadi Sebelum menuntut dukungan publik, khususnya dalam hal pendanaan, alangkah eloknya kalau kita melakukan pembenahan internal khususnya terkait evaluasi berbasis kinerja riil terlebih dahulu.Alat Pengukur Kinerja


Permasalahan berikutnya adalah bagaimana mengukur kinerja riil aktifitas sains, serta mengkaitkannya dengan kepentingan publik, khususnya aspek finansial Tentu saja kurang efektif bila kita membeberkan dengan panjang lebar secara kualitatif keuntungan memakai email kepada pihak yang sama sekali belum pernah memegang keyboard. Sebaliknya tidak etis membeberkan sekedar potensi sains ala tulisan populer untuk membuat justifikasi pendanaan atas suatu aktifitas riset. Seharusnya dipakai sebuah instrumen kuantitatif sederhana yang bisa menunjukkan sekaligus dua hal : track-record dan target kinerja ke depan sebagai modal utama justifikasi. Instrumen semacam ini sangat penting dalam manajemen riset, khususnya sebagai alat ukur yang relatif obyektif dan transparan sebagai bagian dari edukasi dan motivasi sivitas ilmiah untuk semakin meningkatkan kinerjanya.Untuk itulah pada tahun 2005 dicoba dikembangkan instrumen sederhana berbasis Model KOKI (Kalkulator Online Kinerja Ilmiah) [1]. Model ini dikembangkan sebagai alternatif jawaban atas polemik internal di LIPI saat itu terkait renumerasi berbasis kinerja. Khuusnya di LIPI, berbeda dengan lembaga penelitian lain, ada masalah keberagaman bidang kajian ilmu, mulai dari ilmu agama sampai dengan bioteknologi. Selain itu terdapat masalah apakah evaluasi dilakukan di level sivitas peneliti, pusat penelitian ataukah per-judul proyek penelitian. Dengan Model KOKI, evaluasi di seluruh level bisa dilakukan, dan selanjutnya bisa dikompilasi untuk mendapatkan hasil evaluasi jangka panjang.Sesuai dengan karakteristik sistem penganggaran di banyak negara, evaluasi ala KOKI dilakukan per-tahun anggaran. Karena itu pada model ini yang diperhitungkan hanya jumlah luaran saja. Sedangkan pengaruh suatu luaran ke masyarakat, seperti jumlah sitasi dan impact factor jurnal dari suatu karya tulis, atau tingkat komersialisasi dari suatu peten tidak diperhitungkan. Karena efek luaran semacam ini umumnya terjadi dalam jangka waktu cukup panjang, dan sulit menentukan lama periode penghitungannya karena karakteristik bidang ilmu yang berbeda. Sebagai contoh, waktu hidup (life-time) karya tulis bidang terapan umumnya sangat pendek dibandingkan dengan bisang teoritik yang bisa beberapa dekade.Uji Coba


Namun sebagai alat ukur kinerja riil, kelemahan model KOKI ini tidak relevan. Khususnya terkait aspek finansial, seharusnya kuota pendanaan diberikan kepada sivitas dengan aktifitas tinggi saat ini. Jadi bukan berdasar aktifitas masa lalu yang kebetulan memiliki efek besar saat ini, padahal saat ini pelaku sudah tidak aktif lagi. Tentu, terlepas dari instrumen berbasis KOKI bisa saja penghargaan khusus bisa diberikan dengan mekanisme tersendiri untuk luaran-luaran dengan efek jangka panjang semacam ini.Keuntungan lain model KOKI adalah, karena sifatnya yang murni matematis dan kuantitatif, secara prinsip model ini bisa dicangkokkan pada aneka database luaran ilmiah yang telah ada, sedang atau akan dikembangkan. Dengan demikian proses penghitungan kinerja tahunan untuk seluruh level bisa dilakukan secara otomatis. Sebagai ilustrasi telah dibuka versi online sederhana yang bisa diakses bebas di http://www.koki.lipi.go.id [3]. Untuk kasus LIPI, awalnya model ini akan diujicoba untuk dicangkokkan ke Intra LIPI yang sudah memuat beberapa modul manajemen baku seperti LAKIP (Laporan Kinerja Instansi Pemerintah) online yang di dalamnya mensyaratkan database publikasi dan kegiatan luaran ilmiah tahunan. Sayangnya sampai saat ini rencana ujicoba tersebut belum terealisir.Lebih jauh, pada perkembangannya ternyata model ini bisa dipakai untuk melakukan kategorisasi apakah seorang sivitas, sebuah lembaga atau sebuah judul proyek penelitian masuk dalam kategori sains murni atau terapan. Hal ini relevan karena, seperti juga di banyak negara, adanya peruntukan dana atau kuota sesuai kategori yang sudah ditetapkan. Sehingga seringkali masalah kategori ini memicu polemik tersendiri yang tidak ada habisnya seperti di salah satu artikel pak KK di media ini [3]. Dengan model KOKI bisa dilakukan kategorisasi berbasis luaran ilmiah [4] untuk menghindari stigma berdasar penamaan semata atau bahkan feeling yang cenderung subyektif. Terlebih di era milenium ini diversifikasi bidang ilmu dan kajian multi-disiplin sudah sangat jamak. Dengan model KOKI, bukan sesuatu yang aneh apabila suatu jenis kajian atau pelaku yang sama bisa berubah kategori, dari sains murni ke terapan dan sebaliknya.Referensi

about author

Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc.

196805071987121001

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher