Blog Sivitas

Asal-usul nama Pisang
Pisang masuk kedalam marga Musa, suku Musaceae. Beberapa ahli botani berpendapat bahwa nama Musa diambil dari nama Antonius Musa, salah seorang dokter kaisar Octavius Augustus dari Roma, sementara itu beberapa ahli botani lainnya berpendapat bahwa nama Musa berasal dari bahasa Arab yaitu mouz atau mouwz yang berarti pisang.
Pisang Liar (Musa sp.) di Indonesia
Seperti halnya jenis tumbuhan lainnya, pisang dikelompokkan menjadi pisang liar dan pisang budidaya. Pisang liar pada umumnya ditemukan tumbuh liar di alam, mempunyai banyak biji, dan bersifat diploid. Sedangkan pisang budidaya pada umumnya tumbuh di pekarangan, bijinya sedikit, dan bersifat triploid atau kadang diploid. Jenis pisang budidaya inilah yang sering kita manfaatkan, sedangkan pisang liar tidak banyak dimanfaatkan secara ekonomi padahal pisang liar mempunyai potensi yang luar biasa dan masih belum banyak digali.
Indonesia merupakan salah satu negara pusat asal-usul pisang-pisangan. Jumlah jenis pisang liar di Indonesia sangat melimpah. Sebanyak 12 jenis pisang liar telah ditemukan di Indonesia. Pisang-pisang liar ini ditemukan mulai dari lembah alas (Aceh Tenggara) sampai ke daerah Papua bagian utara.
Jenis pisang liar dan daerah penyebarannya di Indonesia :
1. Musa acuminta Colla
Jenis ini mempunyai beberapa nama lokal, antara lain cau kole (Sunda), pisang cici alas (Jawa), pisang rimbo (Minangkabau), pisang harangan (Batak), nuka nuibo (Kaili), unti darek (Bugis). Tumbuh baik di dataran rendah sampai ketinggian 1800 m dpl dan juga tumbuh di hutan sekunder. Pisang ini ditemukan di Sulawesi, Jawa Barat, Bali, dan Sumatra.
2. Musa balbisiana Colla
Masyarakat Indonesia mengenalnya secara umum dengan sebutan pisang batu, pisang biji, atau pisang klutuk. Jenis ini belum pernah dilaporkan dan ditemukan tumbuh secara liar di Indonesia. Akan tetapi secara luas telah ditanam di kebun-kebun Indonesia.
3. Musa borneensis Becc.
Pisang yang dikenal dengan pisang hutan oleh masyarakat Indonesia ini tumbuh sepanjang sungai Mahakam dan di kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Masyarakat Serawak mengenalnya dengan sebutan pisang unkaok atau pisang unkadan.
4. Musa celebica Warb.
Di kenal oleh masyarakat Toraja dengan sebutan punti lampung. Jenis ini ditemukan di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah.
5. Musa lolodensis Cheesman
Ditemukan menyebar mulai dari Halmahera, Maluku sampai ke Papua bagian utara. Masyarakat setempat menyebutnya dengan pisang hias.
6. Musa ornata Roxb.
Berasal dari Himalaya bagian tenggara dan diintroduksi ke Indonesia melalui Kebun Raya Bogor. Seperti halnya M. lolodensis Cheesman, jenis ini disebut juga dengan pisang hias.
7. Musa salaccensis Zoll
Masyarakat Minangkabau mengenalnya dengan pisang monyet dan pisang karok, masyarakat Mandailing mengenalnya dengan sebutan pisang sitata, sedangkan masyarakat Sunda menyebutnya dengan cau kole. Jenis ini ditemukan di sepanjang lereng barat Pegunungan Bukit Barisan Sumatera, mulai dari Aceh sampai Tapanuli, Sumatera Barat dan Bengkulu.
8. Musa schizocarpa Simmonds
Ditemukan di dataran rendah terbuka di Papua dan di sepanjang sisi jalan antara Arso dan Genyem. Selain itu jenis ini ditemukan juga tumbuh di Niugini. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai pisang utan.
9. Musa textilis Nee
Jenis ini dapat ditemukan di dalam koleksi tumbuhan Badan Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri di Bogor. Dikenal sebagai pisang manila atau pisang abaka.
10. Musa troglodytarum L.
Asli dari Maluku dan belum pernah dilaporkan dan ditemukan tumbuh liar di tempat lain. Dikenal dengan sebutan pisang tongkat langit atau pisang tunjuk langit. Masyarakat Seram ada yang menyebutnya dengan tema tenala langit.
11. Musa uranoscopos Lour
Jenis ini merupakan asli dari Cina Selatan, Vietnam, Laos dan diintroduksi ke Indonesia melalui Kebun Raya Bogor. Masyarakat Indonesia menyebutnya dengan pisang hias.
12. Musa velutina Wendl. & Drude
Jenis yang dikenal dengan sebutan pisang hias ini, bukan asli Indonesia melainkan berasal dari Assam dan diintroduksikan ke Indonesia melalui Kebun Raya Bogor.
Potensi Pisang Liar
Di Indonesia, pisang liar belum mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Selama ini tunas atau bonggol pisang muda diberikan sebagai pakan ternak pengganti rumput. Daunnya digunakan sebagai pembungkus makanan. Tangkai daun dan serat upih daun yang kering digunakan sebagai pengikat. Masyarakat Jawa Tengah menggunakan upih daun kering sebagai pembungkus daun tembakau, sedangkan di Sumatera Utara digunakan sebagai pembungkus gula aren. Selain itu upih batang dapat digunakan sebagai pelindung bibit tanaman. Padahal kalau dikaji lebih jauh lagi, kegunaan pisang liar tidak hanya terbatas pada hal tersebut. Pisang liar mempunyai potensi yang luar biasa, diantaranya :
1. Sumber plasma nutfah
M. acuminata Colla dan M. balbisiana Colla merupakan nenek moyang dari pisang-pisang budidaya yang ada di Indonesia. Beberapa jenis pisang budidaya merupakan hasil persilangan dari kedua jenis pisang tersebut. Jenis-jenis pisang liar lainnya juga diketahui mempunyai potensi sebagai induk dalam persilangan untuk menciptakan kultivar-kultivar yang unggul.
2. Sumber serat
Musa textilis Nee telah diketahui mempunyai kandungan serat dalam batang semunya yang secara fisik kuat, tahan lembab dan air asin, sehingga baik untuk digunakan sebagai bahan baku kertas berkualitas tinggi yang tahan simpan (seperti uang, kertas dokumen, kertas cek), kertas filter, pembungkus teh celup, bahan pakaian, pembungkus kabel dalam laut, serta tali-temali lainnya (Triyanto et al. 1982). Saat ini telah banyak penelitian yang dilakukan dalam rangka perbanyakan dan perbaikan kualitas serat dari pisang abaka ini.

3. Tanaman hias
Di tengah maraknya trend tanaman hias di masyarakat Indonesia, beberapa jenis pisang liar dapat dimanfaatkan sebagai tanaman hias karena secara morfologi, beberapa jenis pisang liar khususnya yang tumbuh di Indonesia mempunyai penampakan morfologi yang menarik, diantaranya Musa lolodensis Cheesman, Musa ornata Roxb., Musa uranoscopos Lour, dan Musa velutina Wendl. & Drude.
Dari potensi-potensi yang dimiliki oleh pisang tersebut, potensi yang paling penting adalah potensi sebagai sumber plasma nutfah. Keberadaan plasma nutfah ini penting untuk meningkatkan kualitas pisang-pisang budidaya yang ada di Indonesia.
Pisang liar sebagai sumber plasma nutfah
Banyaknya jenis dan varietas dari pisang-pisang liar menunjukkan banyaknya keanekaragaman genetik yang ada didalam jenis tersebut. Keanekaragaman hayati yang ada dapat digunakan sebagai sumber plasma nutfah, kaitannya dengan usaha perakitan varietas unggul. Keanekaragaman genetik tersebut harus dipertahankan dan diperluas keberadaannya, sehingga bahan untuk perakitan varietas unggul selalu tersedia.
Beberapa pisang liar telah diketahui mempunyai ketahanan terhadap penyakit layu Fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporium f. cubense. Jamur ini mampu bertahan lama di dalam tanah sebagai klamidospora sehingga sulit untuk dikendalikan. Penyakit layu Fusarium telah merusak perkebunan pisang di Bogor dan Lampung yang menyebabkan petani pisang harus menanggung kerugian yang cukup besar. Tidak hanya di Indonesia, penyakit ini juga telah menyerang perkebunan-perkebunan pisang di Taiwan, Kepulauan Kanari, Afrika Selatan, Australia, Amerika Tengah dan Selatan (Nasution & Yamada, 2001).
M. acuminata Colla merupakan salah satu nenek moyang pisang budidaya di Indonesia. Jenis ini mendonorkan genom A. Pisang budidaya yang merupakan turunan dari jenis ini antara lain pisang ambon (AAA), pisang ambon lumut (AAA), pisang mas (AA), dan pisang berangan (AAA) (Nasution & Yamada 2001). M. acuminata var malaccensis, salah satu varietas dari M. acuminata Colla yang ditemukan di Jawa Barat dan Sumatera, diketahui mempunyai resistensi terhadap jamur layu Ras 1 dan Ras 2, serta Sigatoka. Resistensi terhadap sigatoka juga ditunjukkan oleh M. acuminata Colla var. burmanica (Stover & Simmonds 1987).
Pisang liar yang juga merupakan nenek moyang pisang budidaya di Indonesia adalah M. balbisiana Colla. Jenis ini mendonorkan genom B. Beberapa kultivar turunannya antara lain pisang kepok, pisang siem, dan pisang cepatu (ABB). M. balbisiana Colla mampu tumbuh di daerah kering karena jenis ini agak toleran terhadap kekeringan (Nasution & Yamda, 2001).
M. schizocarpa Simmonds telah dilaporkan mampu menyilang dengan M. banksii von Muell di Niugini (Argent 1976). Shepherd (dalam Argent 1976) menemukan adanya tanda-tanda asal-usul M. schizocarpa Simmonds dalam kultivar-kultivar Galan dari New Britain dan New Ireland. Diperkirakan jenis ini telah memberikan sumbangan klon yang cukup banyak melalui persilangan.
Jenis pisang liar yang berasal dari Assam, M. velutina Wendl. & Drude akan menyilang secara timbal balik dengan M. acuminata Colla bila tumbuh bersama-sama. Perkecambahan cukup baik tetapi efek timbal balik terlihat berbeda. Jenis pisang liar lainnya yaitu M. ornata Roxb. telah berhasil disilangkan dengan M. acuminata Colla, M. balbisiana Colla, dan beberapa jenis lainnya. Persilangan dengan M. acuminata Colla dan M. balbisiana Colla dilaporkan mudah dilakukan secara timbal balik, perkecambahan baik tetapi efek timbal baliknya terlihat berbeda (Simmonds 1962 dalam Nasution & Yamada 2001).
Cheesmann (1950) melaporkan bahwa M. uranoscopos Lour telah berhasil disilangkan dengan M. borneensis Becc.. Jenis pisang liar lainnya yang telah berhasil disilangkan dengan M. borneensis Becc. adalah M. textilis Nee. Persilangan pisang-pisang liar dengan Gross Michel menghasilkan kultivar-kultivar tetraploid yaitu IC2 yang diketahui mempunyai resistensi terhadap jamur layu dan resisten terhadap cacing penggerek (Radopholus similis) dan Sigatoka (Mycospaerella musicola) (Nasution & Yamada 2001).
Melihat besarnya potensi pisang liar sebagai sumber plasma nutfah, maka hendaknya kegiatan eksplorasi, inventarisasi, dan evaluasi pisang-pisang liar khususnya di Indonesia perlu dilakukan dan terus ditingkatkan. Sehingga perbaikan kultivar-kultivar pisang di Indonesia dapat terus dilakukan dan Indonesia tidak hanya menjadi pusat asal-usul dan keanekaragaman pisang liar, tetapi menjadi pusat komoditas ekspor pisang-pisang budidaya.

about author

Lulut Dwi Sulistyaningsih M.Si.

198312202008012003

Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher