Blog Sivitas

Old soldiers never die, they just fade away (Douglas MacArthur)



Hanya berselang sepekan dua acara musik berskala besar digelar di Indonesia. Pertama adalah festival musik Soundrenaline 2015 yang digelar dua hari berturut-turut pada Sabtu dan Minggu (5-6/9) lalu di Garuda Wisnu Kencana, Bali. Memajang Slank, GIGI, Dewa 19, Sheila On 7, sampai Wolfmother yang diimpor langsung dari Australia, festival musik yang sudah menginjak tahun ke-13 ini sukses mendatangkan lebih dari 80 ribu penonton.



Setelahnya pada Jumat (11/9) giliran rocker gaek New Jersey kembali lagi setelah 20 tahun silam mencicipi Jakarta. Meski tinggal menyisakan Jon Bon Jovi, David Bryan, dan Tico Torres sepeninggal gitaris Richie Sambora, sihir Bon Jovi rupanya masih menyimpan pesona. Tiket sebanyak 40 ribu lembar untuk akses masuk Stadion Utama Gelora Bung Karno ludes tak bersisa.

Baik Soundrenaline maupun konser Bon Jovi memberi satu benang merah. Penonton kita masih rindu wajah lama.




Mulai digelar sejak tahun 2002 di Parkir Timur Senayan, Soundrenaline harus diakui masih menjadi representasi musik Indonesia sampai hari ini. Sampai saat ini belum ada yang mampu mematahkan konsistensi selama 13 tahun menyajikan nama-nama besar industri musik Indonesia.




Konsistensi ini pada satu sisi memang menjadi kekuatan tersendiri Soundrenaline yang menjadikannya tetap terpandang meski kini banyak festival musik bermunculan. Soundrenaline adalah jaminan mendapatkan suguhan aksi band-band terbaik dalam negeri dengan harga yang relatif terjangkau.




Dari segi produksi, sejak mengalami hiatus pada tahun 2010, Soundrenaline berhasil menaikkan standar produksi konser musisi dalam negeri. Tata cahaya dan lampu yang mewah, desain panggung menawan, sampai pemilihan lokasi pertunjukan yang ciamik.




Namun di lain sisi, konsistensi ini menjadi tantangan penyelenggara. Sejak Nidji, praktis tidak ada lagi musisi arus utama yang potensial mengundang massa. Padahal inilah yang menjadi poros kekuatan Soundrenaline sejak gelaran pertama.




Kali pertama digelar, Soundrenaline berada dalam situasi Indonesia tengah mengalami bulan madu industri musik. Band-band potensial bermunculan dalam waktu hampir bersamaan. Sheila On 7, Padi, Cokelat, Peterpan, Ungu, sampai Samsons. Pemain lama seperti Slank, GIGI, /rif, dan Dewa masih produktif meluncurkan rilisan berkualitas. Sampai tahun 2008, line-up Soundrenaline selalu beragam. Mulai dari Slank sampai Samsons. Dewa hingga Radja, bahkan Mulan Jameela.




Situasi ini didukung daya beli masyarakat yang stabil. Medio 2000 awal adalah kejayaan rilisan musik. Sheila On 7 membukukan hattrick penjualan satu juta kopi, Dewa menikmati manisnya penjualan album Pandawa Lima dan Cintailah Cinta, Padi mencicipi menjadi band sejuta kopi di album Sesuatu Yang Tertunda dan puncaknya adalah Bintang Di Surga milik Peterpan yang menembus rekor penjualan sampai 3 juta kopi pada tahun 2004.




Masuk tahun 2009, situasi kemudian berubah cepat. Demam pop Melayu ala Kangen dan ST12 menyebar cepat tak terkendali, tahun politik yang membuat kegiatan pertunjukan musik harus mengalah, pembajakan semakin menggila, dan puncaknya adalah tahun 2011 saat ring back tone yang jadi sumber duit bagi beberapa musisi tiba-tiba harus dihentikan seiring regulasi pemerintah.





Hanya berselang lima hari, episentrum keramaian berubah koordinat ke ibu kota. Bon Jovi menjadi magnet kuat yang membuat bapak-bapak dan ibu-ibu memakai kembali jaket kulit serta menahan pegal berdiri dua jam lebih sambil menahan angin malam.



Dilihat dari potongan wajah, mereka yang datang adalah yang tumbuh besar saat hair metal masih menguasai dunia sampai akhirnya harus rela minggir saat kedatangan anak-anak dekil dari Seattle yang dipimpin Kurt Cobain dan kompatriotnya di Nirvana.



Ekspektasi sebagian besar penonton yang harus merogoh kocek setengah juta untuk tiket termurah adalah bernyanyi bersama teman saat Always jadi lagu wajib kala nongkrong di ujung gang atau Livin On A Prayer dimainkan sampai bosan di festival band pelajar.



Data Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah penduduk Indonesia usia 15-64 tahun meningkat dari angka 66,5 persen pada tahun 2010 menjadi 67,9 persen pada 2035. Artinya, penduduk Indonesia yang produktif lebih banyak daripada penduduk yang tak produktif.



Terlebih lagi pertumbuhan kelas menengah baru sebagai imbas pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan jumlah mencapai 163 juta dan daya beli ditaksir sekitar Rp 290 triliun per bulan, salah satu pengisi formasi kelas menengah baru adalah mereka yang saat krisis ekonomi dan sosial politik tahun 1997 masih berusia dibawah 17 tahun dan belum memiliki tanggungan.



Survei Litbang Kompas tahun 2012 menunjukkan kelompok inilah yang kini menempati posisi sebagai warga kelas menengah atas. Hanya sekitar 2 persen dari kelompok muda kaya itu yang tidak memiliki smartphone sekelas Blackberry, iPhone, atau Samsung Galaxy, selebihnya memiliki satu, dua, atau tiga ponsel cerdas dan mahal ini. Pendeknya, kelas menengah merupakan pasar yang sangat menggiurkan. Termasuk bagi pelaku bisnis pertunjukan.



Mereka juga yang dulu harus menunggu dibelikan kaset Slippery When Wet atau Suit Suit He He (Gadis Sexy) oleh orang tua, kini dengan tenang tinggal meminta pramuniaga untuk membungkus boxset The Beatles, menggesek kartu kredit untuk memindah stereo set ke kamar tidur, atau mengundang GIGI tampil di halaman belakang rumah untuk perayaan ulang tahun pernikahan.



Ceruk pasar potensial yang harus terus dipuaskan.



Makanya tidak mengeherankan kalau musisi-musisi kugiran seperti Michael Learns To Rock sampai David Foster menjadikan Indonesia tak ubahnya seperti studio latihan saking seringnya frekuensi undangan manggung. Siapa yang tidak tergiur dengan potensi keuntungan dari lakunya karcis yang dalam beberapa pertunjukan dijual diatas rata-rata.



Begitu juga dengan musisi-musisi dalam negeri. Akhdiyat Duta pernah bercerita kepada saya pengalamannya manggung di pentas seni SMA. Ternyata anak-anak yang bikin pensi ini dengar Sheila On 7 dari kelas 3 SD sekarang sudah kelas 3 SMA. Dulu diantar bapaknya untuk beli kaset Sheila On 7, sekarang bikin acara sendiri, katanya.



Perkataan Duta ini menemui kenyataan kalau melihat berbagai pentas musik minimal menyelipkan barang satu atau dua nama lama. Penyelenggara tentu butuh balik modal. Dan cara paling mudah adalah dengan menjualnya ke pangsa pasar potensial tadi.



Memang di zaman penuh ketidakpastian ini, resiko harus diminimalisir. Memajang wajah lama penjamin kedatangan massa adalah pilihan paling rasional ketimbang berjudi dengan menampilkan nama baru. Terlebih, kondisi industri musik Indonesia juga stagnan menampilkan nama baru yang bisa mengundang massa dan lulus segi artistik secara bersamaan. Tapi sampai kapan



Versi asli tulisan ini dapat diakses di http://masjaki.com/2015/09/15/berharap-tuah-pendekar-tua/

about author

Fakhri Zakaria S.IP.

198611172010121001

Subbagian Hubungan Media dan Antar Lembaga

Komentar (2)

  • mp3nusantara

    05 Desember 2015, 22:00:54

    kalo saya lebih cenderung ke band band nasional kayak sekang. musik indonesia saat ini sedang tidak sehat, banyak livesing dan band nya pun tidak berkualitas. banyak band atau penyanyi juga yang istilahnya easy come and easy go. begitu muncul langsung redup karyanya. makasih setidaknya saya memberikan apresiasi tinggi untuk seni karya musik

  • Flores Komodo tour

    20 Oktober 2015, 11:47:26

    Saya melihat industri musik Indonesia saat ini cukup baik namun isi lagu lagunya yang tidak menarik dan tidak bisa menjadi lagu lagu sepanjang jaman seperti penyanyi tahun 70 an - 80 an yang sampai hari ini masih melekat dihati rakyat dan hampir didengungkan setiap rumah dimana saja diwilayah NKRI. Lagu lagu best pop Indonesia dan rock pada era itu sangat merasuki hati setiap sanubari di negeri ini. Saya bangga dengan musisi tahun 70 an - 80 an ketimbang musisi baru terutama tahun 20 an sampai sekarang. Itulah kekuatan musik Indonesia yang memang menjadi fakta di masyarakat. Industri musik nasibnya sama dengan industri film karena kualitasnya sudah hilang dibanding dengan era 70 an - 80 an. Semoga kedua industri ini bisa menata kembali terutama syair syair lagu yang membuat masyarakat bertekuk lutut dengan lagu lagunya.
    Salam cinta musik Indonesia

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher