Blog Sivitas

Konferensi tentang perubahan iklim baru saja berakhir di Denmark. Kesepakatan yang berhasil dicapai dituangkan dalam Copenhagen Accord. Dalam kesepakatan tersebut, beberapa poin pentingnya adalah pengurangan emisi global hingga perubahan temperature dibawah 2C; melanjutkan Protokol Kyoto; menyediakan dana untuk mendukung program REDD (Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation) di negara berkembang.

Dalam kesepakatan tersebut juga disebutkan bahwa negara maju akan menyediakan dana sampai USD30 miliar untuk periode 2010-2012, dan USD100 miliar sampai periode 2020 untuk mengurangi dampak pemanasan global.

Terhadap hasil ini sebenarnya banyak pihak yang merasa kurang puas karena dinilai tidak mengikat, akan tetapi inilah hasil maksimal yang bisa disepakati setelah perdebatan yang panjang. Adapun kesepakatan ini akan disempurnakan pada COP 16 nanti yang akan diadakan Desember 2010 di Mexico.


Ada kejadian menarik selama berlangsungnya COP 15 di Denmark, yaitu pencurian data oleh para hacker dari Climate Research Unit di University of East Anglia, UK. Para hacker menyebut bahwa data kenaikan bumi hanyalah dibuat-buat oleh para ilmuwan.

Ada beberapa ilmuwan yang setuju dengan para hacker tetapi sebagian besar mereka mendukung teori pemanasan global yang disebabkan oleh manusia, hal ini dikarenakan banyaknya bukti-bukti yang ada, seperti makin menipisnya lapisan es di kutub dan gletser di Himalaya, yang merupakan suatu bukti tak terbantahkan. Para hacker juga hanya menonjolkan sebagian kecil email yang kontra teori ini dari ribuan email lainnya yang mendukung pemanasan global.

Untuk menguatkan bukti ini lebih dari 1.700 ilmuwan Inggris menandatangani pernyataan pendukung teori.
Pada KTT ini, Indonesia sendiri menargetkan pengurangan emisi gas karbon sebesar 26 persen sampai tahun 2020. Walaupun sebagai negara berkembang tidak ada kewajiban mengikat untuk melakukannya. Lalu sejauh manakah target ini akan berhasil dilaksanakan di Indonesia Pengurangan emisi karbon erat kaitannya dengan hutan sebagai pengadsorb CO2. Hutan yang ada di Indonesia merupakan 10 persen dari hutan dunia dan sekarang keberadaannya terus terancam.

Dalam web CIFOR (The Center for International Forestry Research) disebutkan pengurangan hutan di Indonesia sekitar 2 juta hektar per tahun, sementara itu Human Right Watch dalam laporannya menyebutkan korupsi dalam pengelolaan kehutanan di Indonesia mencapai USD2 miliar per tahun. Deforestation sendiri disebabkan oleh beberapa hal di antaranya pembukaan hutan untuk pertanian. Pertanian dilakukan oleh masyarakat yang walaupun menimbulkan kerusakan masih relatif kecil dibandingkan kerusakan yang diakibatkan oleh perusahaan untuk penanaman kelapa sawit. UN report 2007 menyebut 35 hingga 45 persen kerusakan hutan di Indonesia akibat penanaman kelapa sawit. Perusakan hutan lainnya disebabkan oleh illegal logging. Illegal logging berlangsung terus sampai saat ini, seperti di Papua, Kalimantan dan Sumatera. Salah satu perusakan hutan yang sedang menjadi sorotan adalah di daerah Riau. Salah satu pemberitaan di media menyatakan, akhir tahun 2009 ini Departemen Kehutanan secara diam-diam mengeluarkan 30 RKT kepada perusahaan kayu di Riau untuk menebang 23 juta meter kubik kayu baik dari hutan alam atau hutan tanaman. Hal-hal seperti inilah yang terus mengancam keberadaan hutan di Indonesia.

Di masa depan hutan akan memberikan potensi ekonomi yang tinggi dari adanya Perdagangan Karbon. Perdagangan karbon secara sederhana adalah kompensasi dari negara atau perusahaan yang mengeluarkan emisi di atas batas yang disetujui bersama. Kelebihan emisi ini akan dikompensasikan kepada proses atau proyek yang mampu mengadsorb emisi karbon tersebut. Dengan melestarikan hutan banyak keuntungan lainnya bisa didapat seperti terjaganya sumber-sumber mata air dan mengurangi potensi banjir di daerah hilir serta terjaganya kelestarian flora dan fauna hutan. Selain itu kerap kali para ilmuan menemukan tanaman-tanaman yang berpotensi obat di dalam hutan yang juga menyimpan nilai ekonomi cukup tinggi.

Oleh: Roni Maryana

Sumber: Okezone.comTulisan terkait:
1.Benarkah Bumi dalam Bahaya
(Sabtu, 21 November 2009)

http://www.lipi.go.id/www.cgiberita&1258761750&4&2009&

about author

Roni Maryana Ph.D.

197911072006041003

Pusat Penelitian Kimia

Komentar (7)

  • Roni Maryana

    27 Juni 2010, 16:19:32

    memang jika kita lihat di youtube atau berbagai blog luar pertentangan ini terus terjadi...

    sebagai perbandingan, saya biasanya melihat jurnal2 ilmiah terbaru. Salah satunya yang punya impact factor tinggi yaitu NATURE. Dalam jurnal ini hasil riset2 terbaru, baik yg mendukung maupun menolak teori ini dipublikasikan.

    Sebagai kesimpulan saya, sebagian besar publikasi ini mendukung teori perubahan iklim yang disebabkan oleh alam dan di percepat oleh berbagai polutan akibat aktivitas manusia.

    Salam erat,

  • Fajar

    25 Juni 2010, 23:41:40

    Wah saya jadi mkin bingung,apakah teori pemnasan global itu bner ato engga karena kalo saya cari di sumber2 luar mengatakan bahwa teori tersbut bohong,,
    tapi terlepas dari kontoversi itu smua bumi pada akhirnya harus tetap kita jaga dan pelihara kan..

  • Roni Maryana

    21 Januari 2010, 15:34:34

    Terima kasih banyak atas tanggapan dan masukan dari bu Nita dan pa Darjono.....

  • Darjono

    21 Januari 2010, 10:17:15

    Ada semboyan "Think Globally, Act Locally", yah kita harus tetap waspada dan hati-hati, serta bertindak dengan bijaksana. Kita harus selalu memandang seluas mungkin, namun kita bertindak mulai daari diri kita sendiri.

    Salam,

    Darjono

  • Nita

    06 Januari 2010, 09:53:44

    Ilegal loging di Indo sudah sangat mengkhawatirkan. Semoga bangsa ini cepat sadar jangan hanya menumpuk kekayaan materi tetapi juga harus menjaga kekayaan hayati.

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher