Blog Sivitas

Pada tahun 641, satu divisi angkatan darat dari Kekhalifahan Madinah berhasil membebaskan kota Alexandria dari Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium). Ke tangan mereka, jatuhlah sebuah objek bersejarah, yaitu Bibliotheca Alexandrina (Perpustakaan Alexandria) [1], yang menyimpan puluhan ribu naskah ilmiah kuno peninggalan bangsa Yunani. Atas kebijakan khalifah pada waktu itu, Umar ibnu al-Khaththab, naskah-naskah kuno itu dipelihara. Sepeninggal Khalifah ibnu al-Khaththab, naskah-naskah itu secara berangsur-angsur diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.Kegiatan penerjemahan naskah-naskah ilmiah Yunani oleh bangsa Muslim mencapai puncaknya beberapa ratus tahun kemudian, pada masa Khalifah Harun al-Rasyid (763-809) dan putranya, Khalifah al-Mamun (786-833) dari Kekhalifahan Abbasiyyah. Tidak hanya naskah-naskah Yunani, melainkan juga naskah-naskah ilmiah lainnya dari Persia dan India. Letak kota Baghdad, ibukota Kekhalifahan Abbasiyyah, yang berada di antara berbagai kawasan peradaban tua itu memungkinkan penyerapan ilmu pengetahuan dari peradaban-peradaban itu. Hasil-hasil penerjemahan itu dikumpulkan di perpustakaan pusat di Baghdad, Baytul-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) [2].Bangsa Muslim berinteraksi dengan peninggalan-peninggalan ilmiah itu dengan penuh gairah. Mereka mengkajinya, mengoreksi kesalahan-kesalahannya, menyelaraskannya dengan panduan agama mereka (al-Qur-an dan al-Sunnah), dan memperkaya peninggalan-peninggalan itu dengan temuan-temuan baru. Dari situ mereka memetik berbagai manfaat di bidang Matematika, Kedokteran, Kimia, Teknik, dan lain-lainnya.Ketika terjadi pertikaian politik di Damaskus, ibukota Kekhalifahan Umayyah, di antara keluarga Umayyah dan keluarga Abbasiyyah (750), seorang pangeran dari keluarga Umayyah yang bernama Abdur-Rahman berhasil melarikan diri ke Andalusia, Spanyol. Di sana, ia merebut kekuasaan dari raja Muslim setempat, lalu memproklamasikan pemerintahannya sendiri dengan ibukota di Cordova. Latar belakang pertikaiannya dengan keluarga Abbasiyyah menjadikan Abdur-Rahman mencanangkan visi untuk mengalahkan Kekhalifahan Abbasiyyah di segala bidang, termasuk ilmu pengetahuan. Maka, salah satu bidang yang digarap oleh negaranya dengan sungguh-sungguh adalah pengumpulan naskah-naskah ilmiah dari berbagai sumber internasional dan penerjemahannya ke dalam bahasa Arab. Kegiatan ini mencapai puncaknya pada masa cucunya, Khalifah Abdur-Rahman III (912-961). Pada masa pemerintahannya, terdapat 70 buah perpustakaan di Cordova; yang terbesar di antaranya memiliki 600.000 buah buku [3]. Pada saat itu, perpustakaan terbesar di belahan Eropa lainnya baru memiliki 400 buah buku.Kemajuan yang dirasakan oleh Kekhalifahan Umayyah di Andalusia mengundang ketertarikan yang besar dari bangsa-bangsa Eropa lainnya. Dari Italia, Perancis, dan Inggris, berdatangan orang-orang Eropa untuk mempelajari buku-buku di perpustakaan-perpustakaan Andalusia, dan menimba ilmu dari para professor (masya-ikh) di sana [4]. Toleransi yang tinggi terhadap warga asing non-Muslim yang diberikan oleh Kekhalifahan Umayyah dan warganya menjadikan kegiatan itu berjalan lancar. Sekembalinya mereka ke kampung halamannya masing-masing, mereka menerjemahkan buku-buku dari Andalusia itu ke dalam bahasa-bahasa mereka, dan meneruskan pengkajian terhadap buku-buku tersebut. Kegiatan ilmiah ini kelak menjadi pondasi berdirinya universitas-universitas tertua di Eropa, yaitu: Universit di Bologna di Italia (1088), Universit de Paris di Perancis (1090), dan University of Oxford di Inggris (1096).Selama beberapa ratus tahun kemudian, budaya ilmiah tumbuh dengan subur di Eropa dan menghantarkan bangsa-bangsa di Eropa memasuki era Renaissance. Salah satu bangsa Eropa yang melalui masa Renaissance adalah Belanda. Di Belanda, didirikan Leiden Universiteit pada tahun 1575, yang hingga kini terkenal akan koleksi naskah-naskah kunonya. Pada era yang sama (1602), didirikan pula Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), perusahaan yang melakukan bisnis di jalur laut Asia.VOC menjadi satu-satunya perusahaan asing yang dibolehkan berdagang di Jepang pada era Sakoku (menutup diri, 16501853). Melalui orang-orang Belanda yang datang bersama VOC, orang-orang Jepang bersentuhan dengan ilmu pengetahuan terbaru, khususnya Kedokteran [5]. Buku-buku ilmu pengetahuan di dalam bahasa Belanda kemudian menjadi tren di kalangan dokter-dokter Jepang. Kamus Belanda Jepang muncul pada tahun 1796. Walaupun menutup diri dari bangsa-bangsa asing, bangsa Jepang menggalakkan pemberantasan buta huruf, sehingga persentase warga melek-huruf-nya boleh jadi tertinggi di dunia pada masa itu. Ketika kebijakan Sakoku dicabut dan dilanjutkan dengan reformasi (restorasi) oleh Kaisar Meiji (1852-1912), Jepang siap menjadi salah satu negara terkuat di dunia.Dari rangkaian peradaban di atas, terlihat bahwa perpustakaan atau buku memegang peranan penting. Di balik kebangkitan tiap peradaban, selalu ada tradisi perpustakaan atau buku sebagai rintisannya. Buku menjadi alat untuk mengakses perkembangan-perkembangan terbaru di bidang ilmu pengetahuan. Bila dibandingkan dengan sejarah Indonesia, dapat disimpulkan mengapa bangsa kita tidak pernah mendominasi peradaban dunia: barangkali karena tidak ada tradisi perpustakaan atau buku pada masa lalu kita. Semoga kita bisa memperbaiki kelemahan ini untuk kejayaan anak-cucu kita kelak. Rujukan1.Library of Alexandria. http://en.wikipedia.org/wiki/Library_of_Alexandria (diakses pada tanggal 23 Desember 2009).2.House of Wisdom. http://en.wikipedia.org/wiki/Bayt_al_Hikmah (diakses pada tanggal 23 Desember 2009).3.Al-Andalus. http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Andalus (diakses pada tanggal 23 Desember 2009).4.When the Moors Ruled in Europe. http://www.youtube.com/watchv=KUhe89q-6X8 (diakses pada tanggal 23 Desember 2009).5.Why Did Japan Turn Its Back On the World. Di dalam: Steward, Robert et.al. 2003. Mysteries of History. Apple Press.

about author

Andrianopsyah Mas Jaya Putra M.Sc

197711292006041009

Pusat Penelitian Kimia

Komentar (1)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher