Blog Sivitas


Ini sebenarnya merupakan cerita lama yang mungkin masih relevan. Saya tiba-tiba mendapat inspirasi membuka cerita lama ini terkait dengan publikasi di jurnal regular (kemungkinan besar) terakhir kami terkait dengan klaster komputer [1]. Karya tulis ini hasil penelitian grup kecil saya, yaitu Grup Fisika Teori dan Komputasi (GFTK) di Pusat Penelitian Fisika LIPI di Serpong. Meski nama grup ini nampak angker dan kurang ramah, saya jamin para anggota grup ini dikenal sebagai orang-orang yang ramah, gemar membantu yang lain dan nrimo...;-). Meski bukan berarti nrimo uang, rumah, mobil, dll... Terkait dengan artikel ini, saya informasikan terlebih dahulu bahwa anggota grup (pada periode 2003-2009 yang relevan dengan artikel ini) sebagian besar tidak terkait dengan teori, selain saya tentunya. Zaenal Akbar seorang pakar TI, Hadiyanto menekuni fisika material dan kemudian ilmu komputasi, Iman Firmansyah sangat jago di instrumentasi serta Bambang Hermanto yang terampil di perkawinan antara mikromekanik + jaringan + instrumentasi.


Mengapa diatas saya informasikan periode 2003-2009 Karena terhitung sejak 2010, kami melakukan reposisi anggota untuk mengembalikan substansi grup ke khittah, yaitu kajian teori dan komputasi. Terlebih seluruh anggota saat ini berada di luar negeri (Osaka, Chiba, Konstanz) untuk melanjutkan riset maupun studi. Komposisi anggota grup saat ini bisa dilihat di situs resmi GFTK.


Alasan kedua, setidaknya ini akan mengisi kekosongan artikel di kategori KOMPUTASI LANJUT di blog ini...;-)


Kembali ke masalah awal. Cerita mengenai riset main-main sampai menjadi serius terkait klaster komputer barangkali saja bisa menjadi inspirasi grup penelitian lain. Khususnya terkait dengan bagaimana kita harus membangun sebuah grup penelitian dengan prinsip kesetaraan, keterbukaan, sinergi dll seperti telah saya ulas di artikel Grup penelitian : ujung tombak kegiatan penelitian...!. Meski di judul saya tulis sebagai cerita nostalgia, mestinya fakta ini masih aktual karena terjadi pada dekade awal abad milenium ini.


Nostalgia


Topik penelitian klaster komputer muncul karena keadaan memaksa saya untuk mencari topik yang relevan dan realistis untuk grup yang saya bangun sejak kepulangan ke tanah air pada tahuan 2002. Anggota awal adalah Hadiyanto yang memiliki kompetensi sangat berbeda dengan saya, dan masih serba tanggung karena ilmu fisika hanya sebatas S1 dan komputer / instrumentasi masih sangat terbatas saat itu. Akhirnya setelah banyak melamun (ini pekerjaan utama orang teori), saya mencoba untuk merealisasikan klaster komputer. Meski sebagai orang teori saya sama sekali tidak pernah melakukan komputasi, karena kajian teori saya benar-benar teori yang berbasis hitungan analitik tanpa angka hasil komputasi numerik. Saya hanya berpikir sederhana, bahwa sekali waktu pasti grup saya memerlukan paralatan pendukung komputasi. Target awal saat itu sangat sederhana :


  1. Melakukan instalasi perangkat untuk pemrograman paralel memakai Linux, entah untuk apa yang penting ada komputer paralel.
  2. Membuat alat kontrol untuk node-node komputer paralel tersebut melalui web.



Target pertama saya anggap perlu meski saat itu kami hanya memiliki 2 komputer hibah yang saya peroleh dari Jerman, dimana salah satunya saya jadikan server untuk Pusat Penelitian Fisika ! Target kedua untuk memberi kesempatan dan peluang pada Hadiyanto sesuai kemampuan dia saat itu, meski saya belum memiliki justifikasi mengapa harus ada kontrol semacam itu...;-(. Target kontrol melalui web saya canangkan karena saat itu saya sudah memprediksi bahwa aplikasi berbasis web akan menjadi landasan teknologi baru. Selain itu saat itu saya sudah mulai menguasai dan hobi melakukan pemrograman web dinamis.


Sesuai dengan kemampuan Hadi, yang bersangkutan membuat sistem kontrol sederhana memakai koneksi paralel dan sistem relay mekanis. Karena tanpa mikrokontroler, maksimal hanya bisa dipakai untuk kontrol 8 buah node komputer [2]. Saat itu ada nama Ibu E.T. Astuti karena saya sama sekali tidak memiliki dana, dan sebaliknya Hadi menjadi anggota tim penelitian beliau dan didanai untuk mengikuti konferensi di Yogyakarta tersebut. Karena keterbatasan saya dalam memahami sistem operasi Linux, serta Hadi di bidang instrumentasi, topik penelitian tersebut tidak dapat kami kembangkan lebih jauh.


Era baru menghampiri grup kami dengan masuknya gelombang pertama CPNS baru pada tahun 2005. Kebetulan saya yang ditugaskan untuk memberi pembekalan pada sivitas muda di Fisika LIPI saat itu. Segera setelah itu saya berhasil merekrut beberapa yang terbaik diantara mereka, yaitu Zaenal Akbar, Iman Firmansyah dan Bambang Hermanto. Kebetulan grup lain masih canggung dan lambat beraksi, sehingga mereka semua masuk ke dalam grup saya. Sebenarnya Zaenal Akbar baru masuk setahun setelahnya. Saat itu terus terang saya tidak berpikir jauh bagaimana mengatur anggota dengan beragam kompetensi yang sama sekali tidak terkait seperti mereka (maaf yah...). Karena semangat saya saat itu adalah mencari teman seperjuangan di grup !


Persis seperti yang saya ulas di artikel Grup penelitian : ujung tombak kegiatan penelitian...!, konsolidasi awal dilakukan dengan diskusi, diskusi dan diskusi... Sampai akhirnya masing-masing memahami kemampuan dan ketidakmampuan setiap anggota. Setelah berpikir dan melamun (lagi), akhirnya saya menyodorkan topik klaster komputer untuk digarap bersama. Saya (dengan segala keterbatasan) berusaha meyakinkan dan menunjukkan dimana dan bagaimana masing-masing anggota bisa berkontribusi dan juga menunjukkan eksistensinya. Kami juga membuat komitmen siapa yang menjadi kontributor utama di setiap bagian, dengan konsekuensi kontributor utama menjadi penulis pertama di karya tulis yang dihasilkan, dan sebagainya. Akhirnya kami sepakat akan ada tiga bagian besar, yaitu bagian perangkat lunak sistem paralel dengan kontributor utama Zaenal Akbar dibantu saya, bagian aplikasi web dengan kontributor utama Hadiyanto dibantu saya, dan bagian instrumentasi dengan kontributor utama Iman Firmansyah dibantu Bambang Hermanto. Aplikasi web untuk klaster terbuka ini sebenarnya telah saya buat sebelumnya dan berhasil menjadi juara APICTA 2004 serta telah mendapatkan Hak Cipta [3,4]. Yang jelas di semua bagian saya menjadi kontributor bungsu, alias paling buncit seperti bisa dilihat di semua keluaran kami di bawah.


Ujian berikutnya adalah skenario apa yang dibuat untuk justifikasi adanya instrumentasi di klaster komputer Setelah berpikir, membaca aneka literatur dan berdiskusi, sampailah kami pada konsep Klaster Terbuka LIPI (LIPI Public Cluster - LPC). Yaitu infrastruktur klaster komputer yang dibuka pemakaiannya untuk umum melalui aplikasi web yang mudah dan nyaman diakses dari mana dan kapan saja. Konsep ini sebenarnya kontradiktif dengan pakem klaster secara global yang hanya dibuka untuk kalangan internal yang telah dikenal sebelumnya. Justru karena itulah saya berpikir konsep ini memiliki nilai inovasi yang tinggi, selain membutuhkan dukungan perangkat lunak paralel yang berbeda dari yang telah ada. Artinya banyak tantangan serta masalah yang harus dicari solusinya untuk menjadi inovasi baru. Isu terkait hal ini menyangkut aspek keamanan akses dan data serta optimasi sumber daya. Setelah melalui perdebatan dan diskusi panjang, kami akhirnya memilih arsitektur unik dimana pemakai diberi satu blok berisi beberapa node sesuai kebutuhan yang bisa dipakai secara eksklusif dan independen. Sehingga pemakai benar-benar seperti memiliki klaster sendiri tanpa perlu memiliki apapun kecuali akses ke internet dan perambah saja ! Konsep diatas membutuhkan dukungan instrumentasi terdistribusi yang harus bisa diakses dan dikontrol melalui web. Sehingga selesai sudah masalah pencarian justifikasi dan motivasi melibatkan instrumentasi di topik ini...;-).


Cerita diatas menggambarkan usaha kami untuk mengakomodasi aneka kompetensi anggota, dan memberi peluang setiap anggota memiliki kesempatan menunjukkan eksistensinya. Sehingga tidak ada cerita anggota yang sekedar menjadi penggembira yang tidak happy, atau malah tidak berkembang kompetensinya karena selalu menjadi subordinat dari kegiatan grup. Dari keluaran yang telah dihasilkan bisa dikategorikan berdasarkan titik berat isi kajian, seperti masalah perangkat lunak sistem paralel [5-9], aplikasi web [10,11] serta instrumentasinya [12].


Target sampingan


Tidak berhenti sampai disitu, kami juga terus mengembangkan teknologi turunan dari aneka keahlian baru yang diperoleh selama kegiatan penelitian klaster komputer. Motivasi awal saya terus mendorong ke arah tersebut sebenarnya bukan untuk semacam jargon "mencari aplikasi terapan demi kemajuan bangsa" atau sejenisnya. Tetapi hanya sekedar bagaimana meningkatkan eksistensi serta menambah wawasan dari anggota terkait. Sesederhana itu...;-). Khususnya, saya merasa Iman Firmansyah dan Bambang Hermanto (saat itu Hadiyanto sudah pergi ke Osaka) kurang mendapatkan porsi yang seimbang. Setelah berdiskusi panjang lebar dan melamun (lagi), saya mengajukan usul untuk mengembangkan sistem robot jaringan generik yang modular. Akhirnya jadilah topik sampingan Robot Jaringan LIPI (LIPI Networked Robot - LNR).


Yang dimaksud dengan LNR diatas bukan membuat robot yang merupakan domain dari P2 Telimek LIPI, tetapi mengembangkan sistem robot jaringan yang generik. Sehingga bisa dipakai untuk apa saja hanya dengan mengganti perangkat lunak sesuai dengan aktuator serta sensor yang dilekatkan. Artinya sistem ini tidak hanya meliputi penguatan dan penyaringan sinyal dari mikrokontroler, tetapi juga pemrosesan sinyal dijital (Digital Signal Processing - DSP). Sebaliknya perangkat keras berbasis sistem mikrokontroler sangat sederhana karena sekedar menyalurkan sinyal listrik ke komputer saja. Dengan kata lain sistem ini berusaha menggantikan sebanyak mungkin perangkat keras dengan perangkat lunak sehingga lebih efisien dan murah, meski akan muncul penurunan akurasi yang masih bisa ditoleransi pada sebagian besar aplikasinya. Fitur ini ditambah dengan sistem terpadu berbasis web untuk proses instalasi, pemilihan parameter sampai dengan kontrol robot secara nirkabel memakai perambah. Teknologi yang dipakai di sistem ini sebenarnya persis sama dengan teknologi sensor dan kontrol terdistribusi di LPC, dan hanya ditambah perangkat nirkabel dan DSP yang spesifik sesuai tujuan pemakaian robot.


Keluaran sampingan ini jelas menambah kesempatan dan eksistensi Iman Firmansyah dkk yang kompetensinya agak jauh dengan TI standar seperti Zaenal Akbar. Ini bisa dilihat dari keluaran mereka [13-15], selain juga memberi tambahan keluaran bagi Zaenal Akbar [16].


Bagaimana dengan Bambang Hermanto Karena keahliannya yang bersifat pendukung untuk aspek mekanik, sistem jaringan serta instrumentasi, memang agak sulit bagi yang bersangkutan untuk tampil. Untuk itulah, setelah kembali berdiskusi serta melamun (lagi), kami memunculkan ide baru berupa aplikasi sederhana dan tepat guna dari teknologi diatas untuk sistem kontrol bak penampung air otomatis [18].


Inti dari sejarah singkat diatas adalah : tanpa harus mengusung jargon-jargon politis semacam iptek untuk kemandirian bangsa dan sejenisnya, hanya dengan bersikap sebagai peneliti profesional dan beretika (memegang prinsip kesetaraan, saling menghargai, terbuka) penelitian dasar sekalipun secara alami akan mungkin memberikan kontribusi riil kepada publik. Pada kasus diatas ditunjukkan dengan beberapa hak cipta dan paten [4,11,16-18].


Sisi lain : optimasi


Satu hal lain yang penting adalah selama proses pencarian diatas kami memegang prinsip dasar "input minimalis output maksimalis". Artinya kami berusaha dengan dana seminimal mungkin menghasilkan keluaran semaksimal mungkin.


Bisa dibayangkan bila kami berangkat dari obsesi memiliki klaster canggih nan perkasa seperti inGRID UI yang menghabiskan dana milyaran rupiah. Klaster inGRID dibangun setelah salah satu mahasiswa Fasilkom UI, Slamet, menyelesaikan Tugas Akhirnya di GFTK terkait pengembangan agen SNMP untuk kontrol klaster. Realitanya fasilitas tersebut praktis tidak terpakai sesuai kapasitasnya, bahkan tidak ada keluaran ilmiah / terobosan teknologi signifikan yang bisa dicapai bila dibandingkan dengan GFTK yang hanya bermodalkan rongsokan.


Ini perlu saya utarakan sebagai contoh untuk menunjukkan bahwa desain riset di awal sangat penting, kecuali bila hanya ingin menjadi penyedia infrastruktur seperti Jasa Marga...;-). Dari awal saya tidak pernah berpikiran untuk membangun infrastruktur komputasi canggih, karena sepemahaman saya potensi pemakai untuk itu masih sangat rendah di Indonesia. Perlu dipahami bahwa pemakai klaster bukanlah komunitas TI, tetapi justru komunitas-komunitas lain seperti biologi, fisika, matematika dsb. Karena yang membutuhkan komputasi berkinerja tinggi adalah komunitas-komunitas tersebut untuk menyelesaikan aneka masalah yang spesifik di bidangnya. Tentu saja seorang pakar TI tidak akan bisa melakukannya, karena masalah tersebut harus dikerjakan oleh orang yang paham masalah di bidang itu tetapi memiliki hobi komputasi !


Dengan kata lain, riset harus didesain sesuai dengan tingkat kematangan dan kompetensi pelakunya. Baik pelaku langsung maupun komunitas terkait di sekitarnya. Lebih baik mencari sesuatu yang lain dengan "apa yang ada" terlebih dahulu, dan berusaha menekan kebutuhan sampingan lain (apalagi kalau membutuhkan dana besar) seminimal mungkin. Kebiasaan selama ini, pada umumnya pelaku penelitian selalui mulai dengan tuntutan akan penunjang yang komprehensif (dan biasanya mahal). Tidak heran dari dekade ke dekade yang terjadi adalah kesia-siaan, banyak alat canggih tidak terpakai optimal. Akhirnya alat menjadi besi tua tanpa pernah dimanfaatkan secara maksimal, dan kemudian membuat tuntutan pembelian alat baru karena sudah tua dan seterusnya. Ini diperparah dengan ketidakmampuan melakukan perawatan, baik karena alasan dana maupun (yang lebih utama) ketidakprofesionalan...;-(.


Bisa dibayangkan bahwa konsep dan teknologi baru yang kami kembangkan dari topik klaster diatas hanya membutuhkan minimal 2 komputer, yang bekas sekalipun tidak masalah. Apa yang terjadi bila kami meminta dana milyaran untuk mengadakan klaster canggih dengan sistem operasi terpadu buatan vendor seperti inGRID UI. Akhirnya kami tidak termotivasi dan bisa melakukan apapun karena takut merusak sistem canggih berharga mahal tersebut, dilain pihak belum ada pihak lain yang mampu memanfaatkan sarana tersebut sesuai kapasitasnya. Padahal sarana semacam ini akan segera menjadi usang hanya dalam hitungan 2-3 tahun saja...;-(. Dengan cara di GFTK, Zaenal Akbar dkk memiliki kemampuan substansi klaster, tidak hanya sebagai pemakai sistem jadi dari vendor, tetapi memahami jeroan-nya, bahkan kalau perlu bisa melakukan modifikasi di level apapun !


Sehingga saat ini kami dengan nyaman dan tanpa beban bisa memakai LPC. Karena memang dari awal isinya hanya rongsokan, kalaupun ada yang baru spesifikasinya sangat minimal. Meskipun saat ini kami mengalami defisit kapasitas untuk melakukan komputasi Monte Carlo untuk penelitian topik nanomaterial, setidaknya kami memiliki justifikasi jelas bila akan menambah kapasitanya kelak.


Strategi dagang


Seperti telah saya ulas di artikel Peneliti = Pembuat Inovasi = Produsen HKI, sangat penting juga untuk memahami bagaimana kami mengatur aneka keluaran dari penelitian diatas. Bila dicermati dari daftar keluaran di referensi di bawah, bisa ditangkap pendekatan macam apa yang kami lakukan


Dengan kompetensi anggota yang beragam dan tingkat kompetensi saat itu yang (maaf) masih relatif rendah di bidangnya masing-masing, saya memutar otak dan melamun (lagi) untuk mencari strategi yang tepat. Meski saya berpengalaman menulis karya tulis global, itu tidak ada artinya karena kami masuk ke komunitas yang sama sekali berbeda. Komunitas TI, komunitas komputasi, komunitas instrumentasi dll. Meski semua anggota saya wajibkan (paksa) untuk melanjutkan studi dengan honor penelitian mereka sembari mencari beasiswa ke luar negeri, semua belum memiliki pengalaman menulis yang baik dan sesuai standar global.


Akhirnya saya memakai strategi berjenjang, yaitu masuk ke komunitas terkait secara bertahap. Dimulai dari konferensi lokal berbahasa Indonesia [2,8,13], konferensi internasional berbahasa Inggris di Indonesia [5-7,12], konferensi internasional di kawasan regional [10,14], konferensi internasional yang diterbitkan oleh IEEE dengan DOI (digital object identifier) [9,15], dan terakhir jurnal regular global [1].


Saya berlakukan hal ini dengan ketat kepada semua anggota. Untuk seluruh konferensi, meski kontributor utama yang menjadi pembicara, seluruh prosiding saya yang membuat dengan bahan serta draft awal dari mereka. Misal pada tahun 2007, saya sudah tidak memperbolehkan mengikuti konferensi lokal (kecuali sebagai pembicara tamu) dan harus yang internasional tetapi masih di Indonesia. Tahun 2008 meningkat harus konferensi internasional di kawasan regional, dan tahun 2009 harus yang dikelola oleh IEEE dan prosiding diindeks oleh IEEExplore dengan DOI. Bahkan sebelum presentasi di aneka konferensi tersebut, pembicara saya wajibkan untuk melakukan latihan presentasi di internal, dimana kami semua bisa mengkoreksi dan melakukan perbaikan bersama-sama. Proses ini bisa dilakukan minimal 2 kali atau lebih tergantung pada tingkat perbaikan yang diperlukan.


Penulisan oleh saya penting sebagai proses pembelajaran, sehingga mereka bisa merasakan perbedaan antara tulisan awal dengan hasil make-up dari saya meski secara substansi sama. Mengikuti konferensi secara berjenjang juga penting sebagai pembelajaran riil secara bertahap. Prinsip pembelajaran dari saya adalah : berikan tuntutan sedikit diatas kemampuan, jangan terlalu rendah atau tinggi. Bila terlalu rendah akan mengurangi motivasi / membuat bosan, sebaliknya bila terlalu tinggi bisa membuat terjerembab dan tidak bangkit lagi ! Dengan metoda ini saya melihat setiap anggota merasa mengalami kemajuan setiap saat. Hal ini akan menjaga motivasi dan mendorong yang bersangkutan untuk terus maju menuju ke arah yang lebih tinggi... Seperti diulas di artikel Skandal penjiplakan di ITB : mengkaji ulang hal-hal keterlaluan didalamnya..., metode semacam ini tidak berarti membuat sivitas yunior tidak terdidik. Justru dengan metoda ini, yunior menjalani proses pembelajaran di tataran riil kegiatan penelitian. Karya tulis tidak hanya membutuhkan substansi inovasi baru, tetapi juga "cara mempresentasikan" dengan baik dan sesuai standar komunitas global. Secara umum, setelah peneliti yunior menyelesaikan S3, mereka akan mulai siap dan harus mulai dilepas untuk menulis sendiri dan sebaliknya senior hanya sekedar melakukan perbaikan ringan. Proses ini tidak bisa dihindari akibatnya ketatnya kompetisi untuk membuat karya tulis yang bisa dipublikasikan di komunitas global. Disinilah peranan jam terbang dari senior menjadi penting, serta proses pembinaan yang sebenarnya sesuai tugas dan fungsi dari fungsional peneliti / dosen, khususnya yang telah memasuki jenjang Peneliti Utama / Profesor !


Penutup


Meski saat ini secara resmi hanya Zaenal Akbar yang masih dipertahankan di GFTK, saya gembira bisa melepas para mantan kolaborator yang telah mulai menapak di jalan yang benar sebagai awal untuk menjadi peneliti profesional di masa mendatang. Seluruhnya telah melanjutkan studi, bahkan di luar negeri sesuai dengan bidangnya masing-masing. Dan saya percaya sebagian besar adalah kontribusi dari kerja keras mereka yang diapresiasi oleh para kolega mereka sekarang di luar negeri. Itulah salah satu pentingnya memiliki publikasi dengan visibilitas yang cukup secara global. Meski untuk standar saya selama ini aneka keluaran tersebut (3 paten, 2 Hak Cipta, 2 penghargaan, 1 jurnal, 4 prosiding lokal, 9 prosiding global, 2 sumber terbuka dalam kurun waktu 6-7 tahun) masih jauh dari mencukupi karena kurangnya jurnal regular yang berhasil kami keluarkan. Penghargaan terakhir terkait adalah 101 Inovasi Paling Prospektif 2009.


Namun mengingat segala keterbatasan, terutama SDM di bidang tersebut yang mumpuni, apa yang sudah dihasilkan mungkin sudah optimal Yang terpenting untuk saya, meski dimulai dari keterpaksaan akibat keadaan, saya merasa mendapatkan pengalaman berharga bekerjasama dan berkolaborasi dengan mereka. Saya banyak mendapat ilmu baru dan pelajaran berharga, meski dilain pihak saya cukup babak belur untuk mempelajari aneka hal diluar kompetensi saya setiap kali harus menulis paper mereka. Saya percaya mereka semua telah mampu mandiri di masa mendatang, dan itu berarti tugas saya terhadap mereka telah selesai...;-).


Sehingga saat ini saya bisa mulai fokus kembali ke kompetensi utama di fisika teori dengan para kolaborator baru : Ardian Nata Atmaja dan tamu mantan mahasiswa Parada Hutauruk untuk fisika teori, selain tentu saja Zaenal Akbar untuk komputasi. Kedepan saya berharap bisa mendapatkan SDM baru dengan kualifikasi S3 untuk bidang fisika teori atau komputasi untuk memperkuat grup dari Pengadaan CPNS LIPI mendatang...


Saat ini, secara resmi topik klaster komputer di GFTK telah tutup buku. Artinya GFTK hanya menjadi pemakai seperti seharusnya. Meski tidak menutup kemungkinan topik penelitian tersebut dibuka kembali bila kami menemukan hal menarik lain, seperti aplikasi untuk Klaster CFD di LAPAN dan Monte Carlo di BATAN [19,20]. Selain itu Zaenal Akbar masih memeliharan pengembangan LPC dan LNR oleh publik yang telah dirilis sebagai sumber terbuka (open source) [21,22].


Tetap semangat !!!Referensi :


  1. Z. Akbar, I. Firmansyah, B. Hermanto, L.T. Handoko, "openPC : a toolkit for public cluster with full ownership", International Journal of Computer Theory and Engineering 2 (2010) 978-985.
  2. Hadiyanto , L.T. Handoko, E.T. Astuti, "Penggunaan Parallel Port di Linux untuk Aplikasi Kontrol Switch berbasis Web Terhadap Client Node Pada 9-node Cluster", Proceeding of the First Jogja Regional Physics Conference (2004).
  3. Hadiyanto, L.T. Handoko, "The Winner of the Best Research and Development, APICTA Indonesia 2004" (20 Oktober 2004).
  4. L.T. Handoko, "Public Cluster : mesin paralel terbuka berbasis web", Hak Cipta B 268487 (1 Maret 2006).
  5. Z. Akbar, Slamet, B. I. Ajinagoro, G.I. Ohara, I. Firmansyah, B. Hermanto, L.T. Handoko, "Public Cluster : parallel machine with multi-block approach", Proceeding of the International Conference on Electrical Engineering and Informatics (2007) 207-209.
  6. Z. Akbar, Slamet, B. I. Ajinagoro, G.I. Ohara, I. Firmansyah, B. Hermanto, L.T. Handoko, "Open and Free Cluster for Public", Proceeding of the International Conference on Rural Information and Communication Technology (2007) 229-232.
  7. Z. Akbar, L.T. Handoko, "Resource Allocation in Public Cluster with Extended Optimization Algorithm", Proceeding of the International Conference on Instrumentation, Communication and Information Technology (2007) 286-289.
  8. Z. Akbar, L.T. Handoko, "Multi and Independent Block Approach in Public Cluster", Proceeding of the 3rd Information and Communication Technology Seminar (2007) 216-218.
  9. Z. Akbar, L.T. Handok, "GRID Architecture through a Public Cluster", Proceeding of the International Conference on Computer and Communication Engineering (2008) 1016-1018 (DOI 10.1109/ICCCE.2008.4580761).
  10. Z. Akbar, L.T. Handoko, "Web-based Interface in Public Cluster", Proceeding of the 9th International Conference on Information Integration and Web-based Applications & Services(2007) 427-435.
  11. Z. Akbar, I. Firmansyah, B. Hermanto, L.T. Handoko, "Sistem Koneksi ke Multi Grid dengan Klaster Terbuka" Paten Regular P00200800720 (10 November 2008).
  12. I. Firmansyah, B. Hermanto, Hadiyanto, L.T. Handoko, "Real-time control and monitoring system for LIPIs Public Cluster", Proceeding of the International Conference on Instrumentation, Communication and Information Technology (2007) 208-211.
  13. I. Firmansyah, B. Hermanto, L.T. Handoko, "Control and Monitoring System for Modular Wireless Robot", Proceeding of the Industrial Electronics Seminar (2007) D10-D13.
  14. I. Firmansyah, Z. Akbar, B. Hermanto, L.T. Handoko, "Microcontroller-based System for Modular Networked Robot", Proceeding of the International Conference on Advanced Computational Intelligence and Its Applications (2008) 115-120.
  15. I. Firmansyah, Z. Akbar, B. Hermanto, L.T. Handoko, "An Integrated Software-based Solution for Modular and Self-independent Networked Robot", Proceeding of the 10th International Conference on Control, Automation, Robotics and Vision (2008) 1219 - 1223 (DOI 10.1109/ICARCV.2008.4795695).
  16. I. Firmansyah, B. Hermanto, Z. Akbar, L.T. Handoko, "Sistem Robot Jaringan Modular" Paten Regular P00200800752 (26 November 2008).
  17. Z. Akbar, I. Firmansyah, L.T. Handoko, "Sistem Terintegrasi Perangkat Lunak untuk Robot Jaringan Modular", Hak Cipta 045239 (4 November 2009).
  18. B. Hermanto, I. Firmansyah, L.T. Handoko, "Pengendali Elektronik Otomatis Ketinggian Air dalam Bak Penampung", Paten Sederhana S00200800210 (10 November 2008).
  19. A.A. Waskita, N.A. Prasetyo, Z. Akbar, L.T. Handoko, "Public facility for Monte Carlo simulation : publicMC@BATAN", AIP Conference Proceeding 1244 (2010) 190-195 (DOI 10.1063/1.3462759).
  20. N.A. Prasetyo, A.A. Waskita, Z. Akbar, L.T. Handoko, "Public facility for Computational Fluid Dynamics : publicCFD@LAPAN", Prosiding Seminar Nasional Iptek Dirgantara XIII (2010) 905-909.
  21. "openPC : Toolkit for Public Cluster", http://sourceforge.net/projects/openpc/.
  22. "openNR : open networked-robot", http://sourceforge.net/projects/opennr/.

about author

Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc.

196805071987121001

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Komentar (3)

  • Achmad Hardito

    05 Juni 2011, 18:50:45

    Kami sangat salut dan memberi apresiasi yang besar terhadap kelompok/group anda, dengan biaya yg sedikit bs memberikan pengembangan ilmu yg sangat berharga bg bangsa....sukses bapak LT.Handoko.

  • cahyo

    10 Januari 2011, 12:53:08

    wah keren bangen neh.. jadi inget masa2 kuliah berkutik dengan robotik (elektro, IT, Mekanik gabung semua). andai saya hidup dimasa itu dan di fisika pengen bgt gabung di GFTK hehe...

  • yoppy

    13 Desember 2010, 14:07:35

    Salut dengan segala jerih payah Pak LTH dan tim. Kiranya menjadi inspirasi buat semua. Saya pribadi, merasa sangat termotivasi.

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher