Blog Sivitas


Saya sebenarnya sudah lama ingin sekali menyuarakan kekesalan pada diri sendiri atas fenomena (yang saya duga kuat) over price atau under-spec dari produk-produk asing yang boom di Indonesia. Meski ini tidak ada kaitan langsung dengan profesi saya sebagai periset, ada beberapa aspek yang bisa menjadi sumber ide para periset, mulai dari aspek standarisasi, kajian sosio-ekonomi sampai dengan target rekayasa teknik yang bisa digarap.


Sebenarnya artikel ini ditujukan untuk hal umum, tetapi saya sengaja fokus pada kasus mobil sejuta umat, Avanza-Xenia (AX) produk bareng Toyota dan Daihatsu. Sekali lagi, ini bukan berarti saya anti Toyota, karena saya sendiri termasuk satu dari sejuta pemakai Avanza ;-(. Juga bukan anti Daihatsu karena selama di Jepang saya pemakai setia mobil kompak buatan Daihatsu. Juga bukan karena saya anti Jepang, karena Jepang sudah seperti negara kedua saya dimana saya tumbuh berkembang dan menimba ilmu disana...


Boom AX adalah salah satu fenomena khas Indonesia setelah fenomena Toyota Kijang, dan dengan sangat baik dimanfaatkan oleh Toyota Astra Motor (TAM) sebagai kepanjangan Toyota Motor Co (TMC) Jepang di Indonesia. Terlebih setelah akuisisi saham TAM oleh TMC, sehingga saat ini praktis seluruh aspek dikendalikan oleh TMC. Fenomena khas, karena sepengetahuan saya (yang peminat otomotif) belum pernah ada dominasi tunggal sebuah produk dalam beberapa tahun di satu negara seperti ini.


Sayangnya saya merasa, ekploitasi atas kesetiaan masyarakat terhadap produk Kijang maupun AX sepertinya berlebihan dan cenderung tidak proporsional. Parahnya hal ini berlangsung sudah beberapa dekade sejak era Kijang kotak, sampai dengan Innova (yang sampai-sampai dilabeli Kijang meski sama sekali tidak berhubungan dengan pengembangan Kijang sampai generasi terakhir). Fenomena ini berlangsung terus seolah tanpa koreksi, baik koreksi langsung melalui media, maupun melalui hukum pasar akibat ketiadaan produk kompetitor. Meski dalam 4-5 tahun ini sudah mulai bermunculan beberapa produk yang (sebenarnya) lebih kompetitif khususnya Nissan (March, Livina) untuk kategori MPV 7 penumpang, atau Chevrolet Captiva untuk kategori SUV pesaing Fortuner.


Sebagian besar produsen, dari pembicaraan yang saya dengar, menilai ini akibat fanatisme terhadap merek yang sudah sedemikian mendalam, alias keluguan masyarakat. Tetapi dari sudut pandang saya, keluguan adalah satu sisi dari koin, dimana sisi lainnya adalah kebodohan. Jadi keluguan hanya bahasa positif dari kebodohan. Inilah yang membuat saya agak sedih, karena saya juga termasuk salah satu di dalamnya...;-(.Apa masalahnya


Harga jual on-the-road (OTR) di Jawa Rp. 150-180 juta untuk Avanza model baru menurut saya sangat berlebihan alias over-price (OP). Meski kalau ditanyakan, alasan utama yang disampaikan biasanya akibat apresiasi mata uang yen. Padahal produk global Innova diklaim telah mencapai Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) 75 persen. Saya tidak menemukan informasi TKDN AX, tetapi bisa diasumsikan sama atau mestinya lebih tinggi dari Innova. Sehingga dengan logika sederhana, apresiasi yen sebesar 30 persen sejak 2005, dimana harga Avanza 1,3G MT hanya Rp. 115 jt, hanya akan mengakibatkan kenaikan sebesar Rp. 115 jt x 0.25 x 0.30 = Rp. 8,63 jt ! Bila masih ditambah dengan kenaikan pajak Bea Balik Nama (BBN) serta inflasi tahunan rata-rata 6 persen, maka total harga saat ini seharusnya tidak lebih dari Rp. 160 jt. Jadi, apa masalahnya Toh, harga Avanza 1,3G MT model terbaru saat ini hanya Rp. 158 jt dengan peningkatan kualitas interior disana-sini.


Perhitungan diatas nampak wajar bila memang isi produk wajar. Peningkatan kualitas interior merupakan kompensasi dari penurunan harga teknologi pendukung yang semakin turun. Tetapi bila kita lihat spesifikasi mesin yang dipakai misalnya di AX tipe 1300cc, yaitu seri K3-VE dengan 2 katup persilinder, akan muncul pertanyaan. Karena tipe mesin ini adalah teknologi di pertengahan tahun 90an, yang tidak hanya kuno tetapi juga (semestinya) telah habis masa lisensi patennya. Padahal komponen biaya lisensi bisa 40 persen dari harga barang. Sehingga menjadi tidak wajar bila harga tetap dipatok sebagai harga mesin baru. Padahal untuk mobil murah mesin menyumbang komponen harga terbesar bersaing dengan biaya eksterior / interior.


Sebenarnya hal serupa, bahkan lebih parah, terjadi pada kasus sepeda motor. Karena teknologi sepeda motor (jenis sejuta umat yang banyak diproduksi di negara-negara ekonomi lemah seperti Indonesia) adalah teknologi usang. Bahkan ada anekdot, tanpa bermaksud merendahkan gender tertentu, teknologi sepeda motor seperti nenek-nenek yang diberi bedak tebal. Artinya teknologi tak beranjak jauh dari sejak beberapa dekade lalu, dan pembaruan hanya dilakukan di eksterior dan aksesoris.


Kembali ke kasus AX diatas, selain mesin masih banyak pengurangan spek yang tidak kasat mata. Sebagai contoh filter AC yang tidak dipasang, serta yang lebih urgen pengurangan fitur-fitur keselamatan seperti ABS dan sabuk pengaman. Meski pada model terakhir sabuk pengaman telah dipasang di semua baris kursi. Dengan menghilangkan filter AC yang berharga jual lebih kurang Rp. 200 rb di tingkat eceran, setidaknya produsen AX telah menghemat puluhan milyar rupiah mengingat total penjualan AX yang telah menembus 500 ribu mobil sejak 2004. Ditambah dengan pengurangan sabuk pengaman di beberapa titik. Ini bisa menjadi bonus bagi rekan-rekan kita yang bekerja di TAM, meski harus mengorbankan paru-paru jutaan pengendara AX !!! Belum lagi ditambah dengan pengurangan sabuk pengaman yang berpotensi menghilangkan nyawa...


Saya tidak tahu apakah rekan-rekan sebangsa di TAM menyadari hal-hal kecil semacam ini atau tidak. Yang menjadi keprihatinan saya adalah bisa dipastikan TAM tidak memiliki bargaining power apapun karena penguasaan TAM oleh TMC. Kalau dengan apa yang ada bisa terjual seperti kacang goreng mengapa harus dilengkapi dengan aneka fitur Padahal fitur-fitur tersebut sangat penting untuk kesehatan dan keamanan berkendara masyarakat kita ! Sayangnya media, khususnya yang terkait otomotif, seolah tidak peduli atau kurang peka dengan fakta-fakta semacam ini.


Perhitungan kasar dan feeling saya (sebagai konsumen dan peminat otomotif), dengan harga (misal) Avanza 1,3G MT terbaru konsumen harus mendapatkan fitur keselamatan aktif ABS + EBD, kenyamanan transmisi otomatis dan tentu filter AC. Artinya standar harga saat ini over-price sebesar lebih kurang Rp. 15-20 jt atau under-spec dibanding harga jualnya.


Di Jepang kolaborasi Toyota dan Daihatsu juga sangat erat, terlebih setelah Daihatsu diakuisisi oleh TMC. Tetapi Daihatsu fokus pada pengembangan dan produksi mobil kompak dan murah meriah. Tidak heran bila hampir semua produk Daihatsu memakai mesin afkiran 1-2 dekade lalu untuk menekan harga. Di Jepang produk Daihatsu dibandrol dengan perbedaan harga cukup signifikan. Sayangnya saya mendapat kesan kuat keluguan dan kesetiaan (fanatisme) konsumen Indonesia yang memang kurang rasional (karena masih di level berkembang alias kurang cerdas) dimanfaatkan dengan baik oleh produsen tanpa koreksi. Pebisnis mumpuni pasti memahami bahwa untuk mendapat margin besar tidak harus menyasar kalangan atas, seringkali justru konsumen kelas bawah memberikan margin besar. Ini terjadi pada kasus sepeda motor dan mobil murah meriah. Apalagi bila produk telah menjadi pemimpin pasar seperti Kijang Innova dan AX.Dilema konsumen tidak cerdas


Aspek lain yang menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih di terbelakang adalah kecenderungan fanatisme berlebihan. Fenomena ini juga bisa dilihat dari masih maraknya fanatisme kesukuan, agama dan sejenisnya. Semakin maju dan berpendidikan sebuah bangsa fenomena ini akan semakin luntur.


Untuk kasus mobil, fenomena ini kentara saat Innova dan AX baru diluncurkan dengan beragam kelemahan teknis yang sangat fatal bila terjadi di negara-negara maju. Untuk kasus Innova, kesalahan pengaturan mesin sehingga Innova produksi sebelum 2007 sangat boros, bahkan melebihi Kijang kapsul generasi terakhir sebelumnya. Untuk AX, pengaturan mesin yang sembrono sehingga cenderung menghentak-hentak pada putaran mesin rendah serta konfigurasi suspensi yang tidak matang sehingga mobil terasa ajrut-ajrutan khususnya untuk penumpang belakang. Di negara maju, cacat-cacat (meski tidak pernah dilansir resmi sebagai cacat) semacam ini sudah pasti akan menghancurkan penjualan di tahun-tahun berikutnya, bahkan bisa dipastikan model tersebut akan dihentikan produksinya. Tetapi apa yang terjadi di Indonesia Konsumen seolah tidak peduli... Akibatnya perbaikan baru dilakukan oleh TAM 2 tahun setelah rilis perdana, yaitu pada tahun 2007 untuk Innova dan 2006 untuk AX dengan model VVTi.


Setelah saya amati benar, ternyata pengembang AX di Indonesia serta Innova di regional (IMV = Innovative International Multi-purpose Vehicle Asia Pasifik yang meliputi Innova - Fortuner - Hilux) sepertinya memang kurang matang. Terburu-buru untuk antisipasi penurunan penjualan produk TMC akibat apresiasi yen terhadap dolar AS yang semakin menggila.


Ini menyebabkan saya, sebagai konsumen, merasa terhina dengan perlakuan tersebut. Kalau untuk negara-negara maju produk dikembangkan dengan riset sangat mendalam, termasuk uji tabrak komprehensif dan sebagainya. Dilain pihak, untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia cukup diberi barang afkiran, yang penting tampak luar masih oke. Seolah harga manusia Indonesia lebih rendah daripada yang lain... Tidak usah heran bila dilain pihak SUV Rush - Terios tidak mengalami era cacat produk, karena model tersebut sebenarnya sudah diproduksi di Jepang. Jadi berbeda dengan produk regional IMV (Innova - Fortuner - Hilux), dan apalagi produk lokal AX.Instropeksi diri


Tentu saja realitas penghinaan oleh produsen asing yang kebetulan produknya merajai tidak sepenuhnya kesalahan mereka. Semua bermula dari diri kita sendiri yang kurang menghargai bangsa sendiri. Sebagai contoh, Indonesia mengadopsi standar emisi Euro-2 baru pada tahun 2007, dan saat ini baru akan masuk ke Euro-4. Padahal negara-negara ASEAN maju (Thailand, Singapura) telah mengimplementasikannya beberapa tahun sebelumnya. Belum lagi kalau berbicara masalah fitur keselamatan seperti sabuk pengaman, sistem pengereman ABS + EBD dan lain-lain yang sepertinya belum diwajibkan. Menurut rekan-rekan di Kementerian Perindustrian, rancangan regulasi tersebut mendapat resistensi dari produsen. Alasan yang menurut saya tidak masuk akal, buktinya saat ini semua produk baru sudah dilengkapi sabuk pengaman di semua kursi. Menurut saya produsen memang sengaja mengurangi spek sebisa mungkin, terlebih di tengah kesadaran konsumen yang masih sangat rendah. Semua ini demi tambahan margin puluhan milyar (untuk kasus AX) meski berpotensi mengorbankan konsumen. Artinya regulasi di Indonesia sedemikian longgar sehingga para produsen (khususnya asing) tidak dipaksa untuk lebih menghargai keselamatan dan kesehatan pengguna produknya.


Tetapi, yang menjadi poin utama di artikel ini adalah :


  • Dalam situasi dimana konsumen tidak memiliki banyak pilihan, seperti di era sebelum tahun 2010, praktek bisnis semacam ini harus dikritisi sebagai tindakan tidak etis. Apalagi saat itu kesadaran, teknologi dan pengetahuan mengenai keselamatan dan kesehatan sebenarnya sudah dipahami dan diimplementasikan oleh produsen yang sama di banyak negara.
  • Karenanya pemerintah sebagai regulator harus proaktif memberikan perlindungan kepada masyarakat melalui berbagai regulasi untuk memaksa produsen menghargai konsumen produknya.
  • Konsumen harus lebih dan semakin cerdas dalam memilih produk sesuai dengan harga yang dibayarkan. Bila ini menjadi gerakan mayoritas dengan sendirinya produsen akan dipaksa untuk lebih menghargai konsumennya. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan menghargai diri kita sendiri
  • Saya secara personal berharap rekan-rekan yang bekerja di TAM memiliki sedikit idealisme untuk memaksa mitra / bos pemilik saham agar mau memberikan yang terbaik bagi masyarakat pengguna produknya.



Mohon tidak disalahpahami bahwa saya tidak menyukai modal asing. Modal asing sangat penting untuk mengakselerasi kemajuan ekonomi dan meningkatkan derajat kehidupan bangsa. Tetapi ini hanya akan terjadi bila kita sebagai pemilik bangsa mampu mengelola dan mengaturnya dengan cerdas ! Untuk aspek ini kita harus legawa mencontoh Malaysia di era Mahathir...


Saya juga bukan sentimen ke Toyota. Untuk harga mobil Honda yang tinggi lebih disebabkan oleh apresiasi nilai yen karena TKDN yang rendah, dan kebetulan Honda Motor Co di Jepang tidak dalam kondisi yang fit untuk meredam kenaikan harga produk jualnya akibat nilai tukar yang membubung. Ditambah produksi Honda yang sebagian besar masih dilakukan di Jepang, berlawanan dengan Nissan yang sebagian besar sudah tersebar di berbagai negara. Isu ini sangat relevan untuk TMC / TAM karena klaim TKDN mereka sudah tinggi dengan basis produksi di Indonesia. Maksud saya, dengan TKDN tinggi, basis produksi lokal serta penguasaan pasar dominan sudah seharusnya mereka mampu memberikan harga yang lebih kompetitif atau spesifikasi yang lebih bagus bila margin yang diambil proporsional. Khususnya bila dibandingkan dengan produk-produk global dari negara tetangga seperti mobil-mobil Nissan atau Chevrolet.


Terkait dengan penelitian, mungkin rekan-rekan di Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrologi LIPI atau Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian LIPI bersama-sama dengan Badan Standarisasi Nasional bisa menjadi pelindung dengan melengkapi standar yang ada mengikuti perkembangan teknologi. Dilain pihak kajian sosio-ekonomi atas implementasi beragam teknologi terkait yang telah mapan bisa dilakukan oleh Pusat Penelitian Ekonomi LIPI.


Secara pribadi saya berharap ke depan makin banyak produk global (dengan mutu dan standar global) yang bisa menjadi pilihan konsumen Indonesia, tentu dengan TKDN tinggi sehingga kontribusi ke ekonomi lokal cukup signifikan dan harganya terjangkau. Bukan sekedar produk produsen global yang dikembangkan lokal dengan pemangkasan spesifikasi dan riset dangkal. Contohnya mungkin seperti Nissan March untuk kategori mobil serbaguna kompak, Chevrolet Captiva untuk SUV, Chevrolet PV7 (akan dilansir) untuk kategori mobil serbaguna medium dan lain-lain.


Mohon maaf, saya bukan menghina bangsa sendiri. Karena saya termasuk pembeli Avanza model lawas pada akhir 2005 yang sepertinya sudah masuk siklus akhir pemakaian. Sehingga saya bisa digolongkan konsumen tidak cerdas tersebut...;-(. Sumber :


about author

Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc.

196805071987121001

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Komentar (16)

  • Riva

    29 Desember 2015, 13:57:20

    ya begitulah, kualitas masih diragukan, namun tetap banyak yang beli karena brand dan jaringannya banyak di Indonesia

  • Laksana Tri Handoko

    26 Mei 2012, 21:46:38

    Sekedar pembaruan informasi :

    Saat ini (awal Mei 2012) telah dilansir kompetitor utama AX, yaitu Suzuki Ertiga (RIII). Selanjutnya diikuti dengan Nissan Evalia pada tanggal 8 Juni 2012. Keduanya merupakan kompetitor yang "mestinya" tidak mungkin dikalahkan AX dari aspek harga, fitur, kenyamanan serta substansi kendaraan (mesin dan bodi).

    Suzuki Ertiga dibanderol Rp. 140-165 juta dengan kasta tertinggi telah dilengkapi dengan immobilizer, pelek 15 inci, penggerak roda depan, peranti keselamatan ABS + EBD ditambah dengan kantung udara di kedua kursi depan. Meski transmisi otomatis belum tersedia, kemungkinan di penghujung 2012 dengan harga kemungkinan lebih mahal Rp. 10 juta.

    Serupa, Nissan Evalia yang dihargai Rp. 160-180 juta bahkan telah dilengkapi dengan monitor di atap, pintu geser serta transmisi otomatis. Sayangnya Nissan Evalia hanya memakai roda ukuran 14 inci, dan hanya dilengkapi dengan satu kantung udara di bagian pengemudi. Meski masih memakai suspensi daun di roda belakang, kenyamanan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan AX.

    Bila dibandingkan secara obyektif antara kedua model diatas dengan AX, sangat kentara tingkat over-price dari AX ! Padahal AX praktis dibuat di Indonesia, sedangkan Suzuki Ertiga dan Nissan Evalia dibuat di negara tetangga (India dan Thailand). Ketiganya juga berasal dari produsen Jepang yang sama-sama mengalami masalah yendaka. Bisa dibayangkan harga Avanza Velos masih lebih mahal dari Suzuki Ertiga yang memiliki fitur dan tingkat kenyamanan di atasnya...

    Karena itu cukup menarik untuk melihat sampai dimana AX mampu bertahan menghadapi kedua kompetitor ini. Meski kemungkinan gelar juara masih bisa dipertahankan, bisa diduga hal tersebut akibat brand image semata, serta keterbelakangan masyarakat yang belum mampu menilai suatu produk dari substansinya semata. Untuk saya pribadi, dengan kehadiran trio kendaraan kelas sejuta umat diatas, jelas AX menempati peringkat terakhir. Situasi ini sangat berbeda pada tahun 2005 dimana AX melenggang sendiri, setelah masyarakat Indonesia sebelumnya hanya disuguhi mobil-mobil kaleng sabun semacam Kijang lama.

    Semoga kita semua ke depan menjadi konsumen yang semakin cerdas, sehingga akhirnya akan mendorong produsen untuk menciptakan produk-produk yang bernilai sesuai dengan substansinya.

  • Laksana Tri Handoko

    01 Februari 2012, 09:00:00

    Tk atas masukannya... AX tentu ada kelebihannya, dan kelebihan khas itulah yang menjadi faktor utama, minimal di awal dulu, mereka menjadi pemain dominan. Yaitu mengadopsi :

    1) Sistem penggerak roda belakang. Sehingga daya tarik lebih kuat dibandingkan dengan yang lain meski dengan kapasitas mesin sama, serta konstruksi kaki-kaki lebih awet akibat tidak adanya beban berlebih khususnya di roda depan.
    2) Sistem kerangka tangga, alias ladder frame. Sehingga bodi mobil lebih awet, khususnya untuk pemakaian di jalan-jalan Indonesia yang cenderung "semi off-road" apalagi selama musim penghujan. Karena pada sistem ini bodi mobil diletakkan diatas kerangka kaku.

    Meskipun kedua poin diatas sebenarnya kelemahan mendasar dari produk AX, seperti juga Kijang sampai era Innova. Sistem penggerak roda belakang adalah teknologi jaman dahulu dan saat ini hanya dipakai untuk kendaraan niaga dan SUV. Penggerak roda belakang tidak efisien karena potensi kehilangan daya yang disebabkan oleh struktur mekanis tambahan untuk menyalurkan putaran mesin ke roda belakang.
    Demikian juga dengan kerangka tangga, saat ini hanya dipakai di kendaraan niaga dan SUV (termasuk mobil kabin ganda). Berlawanan dengan sistem monokok yang lebih luwes sehingga nyaman karena getaran mampu diserap oleh bodi kendaraan. Tapi untuk usia kendaraan diatas 5 tahun, kendaraan dengan bodi monokok sudah akan mengeluarkan bunyi-bunyi yang disebabkan oleh dudukan interior yang sudah tidak rapat seperti semula.

    Jadi sebenarnya kepopuleran AX, Kijang dan termasuk kendaraan-kendaraan penumpang ala "mobil niaga" (Suzuki APV, dll) bukan sama sekali tidak beralasan. Karena pemeo keawetan sebenarnya beralasan, khususnya untuk masalah bodi dan kaki-kaki di kondisi jalanan Indonesia sejauh ini. Meski untuk itu kenyamanan dan efisiensi terkorbankan...

  • AA Hadi

    01 Februari 2012, 08:59:42

    Kalau begitu apakah AX tidak ada kelebihannya dibandingkan dengan yang lain

  • Laksana Tri Handoko

    16 Januari 2012, 16:19:29

    @ eddy :
    Kalau pajak mobil standar di Indonesia sih tidak terlalu mahal dan masih wajar kok. Yang dibicarakan diatas adalah memang setting harga AX kemahalan...

    @ trihadi :
    Maksudnya over-price Yang dilihat orang memang resale value...;-). Padahal resale value yang menentukan kita sendiri, itu sebabnya dikatakan masyarakat kita masih belum cerdas...;-(

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher