Blog Sivitas

Sejumlah penyakit, yaitu: AIDS, dengue, hepatitis, herpes, influenza, dan polio, diketahui disebabkan oleh infeksi virus terhadap sel-sel tertentu dari manusia [1]. Infeksi tersebut pada umumnya berlangsung sebagai berikut: 1) Mula-mula virus menembus membran sel manusia yang menjadi targetnya. 2) Di dalam sel tersebut (sel inang), virus melepaskan DNA / RNA-nya. 3) Dengan bantuan sel inang, virus menggandakan DNA / RNA-nya. 4) Dari DNA / RNA virus itu, dibuat komponen-komponen lainnya dari virus. 5) Komponen-komponen virus itu dirakit dengan DNA / RNA-nya menjadi virus-virus yang baru. 6) Dengan banyaknya virus baru yang terbentuk di dalam sel inang, sel itu pecah. 7) Virus-virus yang baru kemudian keluar dari sel yang pecah itu untuk memasuki sel-sel lainnya [1]. Dari tahapan di atas dapat disimpulkan bahwa infeksi oleh virus apapun pada hakikatnya merupakan upaya virus tersebut untuk menggandakan DNA / RNA-nya dengan bantuan sel inang, karena virus tidak dapat menggandakan DNA / RNA-nya sendiri [2]. Karena itu, DNA / RNA virus dapat dianggap sebagai komponen yang paling penting di dalam proses infeksi oleh virus. Hambatan (inhibisi) terhadap penggandaan DNA / RNA virus pada akhirnya dapat menyebabkan gagalnya perakitan virus-virus yang baru di dalam sel inang, sehingga meluasnya infeksi oleh virus dapat dicegah.DNA / RNA virus merupakan rangkaian seri nukleosida yang terhubung melalui ikatan fosfat [3]. Satu unit nukleosida terdiri dari 1 buah fragmen gula (deoxyribose pada DNA, atau ribose pada RNA) dan 1 buah fragmen basa Nitrogen [3]. Ada 4 basa Nitrogen yang lazim ditemukan pada DNA / RNA, yaitu: Adenine (A), Guanine (G), Cytosine (C), dan Timin (T, pada DNA) atau Uracyl (U, pada RNA) [3]. Di antara basa-basa Nitrogen tersebut, terdapat basa-basa Nitrogen yang mirip atau memiliki kerangka (scaffold) yang sama, yaitu kerangka purine. Basa-basa Nitrogen yang dimaksud adalah: Adenine (A) dan Guanine (G) [3].Di alam, terdapat senyawa organik yang juga memiliki kerangka purine, yaitu senyawa caffeine (dari tanaman kopi) dan senyawa theobromine (dari tanaman kakao) [4]. Karena kemiripan strukturnya dengan fragmen Adenine (A) dan Guanine (G) pada DNA / RNA virus [5], kedua senyawa ini dapat bersaing dengan DNA / RNA virus di dalam penggandaannya di sel inang. Bila persaingan ini dimenangkan oleh caffeine atau theobromine, maka penggandaan DNA / RNA virus di sel inang menjadi terhambat (terinhibisi), sehingga virus-virus yang baru gagal dirakit.Khasiat antivirus caffeine telah dibuktikan oleh Yamazaki dkk (1980; terhadap virus herpes, influenza, dan polio [6]), Daniel dkk (2005; terhadap HIV-1 [7]), Ma (2007; terhadap virus hepatitis B [8]). Sedangkan, khasiat antivirus ekstrak tanaman kopi telah dibuktikan oleh Jianping dkk (2007; terhadap virus hepatitis B [9]), Utsunomiya dkk (2008; terhadap virus herpes dan polio [10]), dan Arakawa dkk (2009; terhadap virus influenza [11]). Di dalam ulasannya, Arakawa dkk membuat pernyataan sebagai berikut: Caffeine can inhibit the multiplication of both DNA and RNA viruses that widely differ in virion structure (i.e., enveloped or non-enveloped) and in the way genome replication and transcription occur (i.e., in the nucleus or in the cytoplasm) (Caffeine dapat menghambat penggandaan virus DNA dan RNA yang sangat beda struktur matangnya (misal: memiliki protein envelope atau tidak) dan cara penggandaan dan penerjemahan genome-nya (misal: di dalam inti sel atau di sitoplasma) [11].Bila caffeine berkhasiat sebagai senyawa antivirus yang universal, maka dapat disusun hipotesis bahwa theobromine yang strukturnya mirip dengannya boleh jadi memiliki khasiat yang setara [12]. Patut diketahui bahwa aktivitas theobromine terhadap sistem syaraf pusat manusia lebih rendah daripada aktivitas caffeine [13], sehingga theobromine cenderung lebih aman daripada caffeine bila dikonsumsi di dalam jumlah yang besar. Theobromine merupakan metabolit sekunder yang utama pada biji tanaman kakao (Theobroma cacao), yang merupakan bahan baku bagi produk minuman coklat dan perisa makanan yang mudah ditemukan di pasaran Indonesia [14]. Di dalam tiap 100 g biji kakao yang segar, terdapat 2,4 g senyawa theobromine [14]. Karena ketersediaan produk minuman coklat di pasaran Indonesia, maka wabah penyakit akibat virus apapun boleh jadi dapat dicegah dengan mengkonsumsi minuman coklat. Tanaman kakao banyak terdapat di Pulau Sumatera dan Sulawesi, dan dapat dipanen tiap 6 bulan [14]. Saat ini, Indonesia merupakan pengekspor kakao mentah terbesar ke-3 di dunia, sehingga tanaman kakao telah menjadi komoditi yang diperhitungkan di dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) [15]. Pemanfaatan produk olahan dari tanaman kakao untuk pengobatan penyakit akibat virus memberikan nilai tambah bagi tanaman kakao, dan mendukung pelaksanaan MP3EI tersebut.Rujukan1. Carter, J. dan Saunders, V. 2007. Virology: Principles and Applications. John Wiley and Sons.2. Patrick, G. 2005. An Introduction to Medicinal Chemistry (edisi ke-3). Oxford.3. Hames, D. dan Hooper, N. 2005. Instant Notes in Biochemistry. Taylor & Francis Group.4. Daly, J.W. 2007. Caffeine Analogs: Biomedical Impact. Cell. Mol. Life Sci., 64, 2153-2169.5. Ribeiro, J.A. dan Sebastiao, A.M. 2010. Caffeine and Adenosine. Journal of Alzheimers Disease, 20, S3-S15.6. Yamazaki, Z. dan Tagaya, I. 1980. Antiviral effects of atropine and caffeine. J. Gen. Virol., 50(2), 429-31.7. Daniel, R.; Marusich, E.; Argyris, E.; Zhao, R.Y.; Skalka, A.M.; dan Pomerantz, R.J. 2005. Caffeine Inhibits Human Immunodeficiency Virus Type 1 Transduction of Nondividing Cells. Journal of Virology, 79(4), 20582065.8. Ma, Z.H. 2007. Usage of Caffeine and Its Analogue in Resistance of Hepatitis B Replication and Use Thereof in Preparation of Medicament for Treating Viral Hepatitis. CN Patent no. 1969856.9. Jianping, Z.; Weimin, Z.; Guifeng, W.; Qunfang, L.; Liping, S.; Rujuan, Z.; Yudan, R.; Jian, Z.; Peilan, H.; Jiaquan, F.; Wei, T.; dan Fenghua, Z. 2007. Anti-hepatitis B Virus Inhibitor and Use Thereof. WO Patent no. 2007128191.10. Utsunomiya, H.; Ichinose, M.; Uozaki, M.; Tsujimoto, K.; Yamasaki, H.; dan Koyama A.H. 2008. Antiviral Activities of Coffee Extracts In Vitro. Food Chem. Toxicol., 46(6), 1919-24.11. Arakawa, T.; Yamasaki, H.; Ikeda, K.; Ejima, D.; Naito, T.; dan Koyama, H. 2009. Antiviral and Virucidal Activities of Natural Products. Current Medicinal Chemistry, 16, 000-000.12. Maggiora, G.M. 1990. Concepts and Applications of Molecular Similarity. John Wiley & Sons.13. Smit, H.J. Theobromine and the Pharmacology of Cocoa. Di dalam: Fredholm, B.B. (Editor). 2011. Handbook of Experimental Pharmacology: Methylxanthines. Springer-Verlag.14. http://www.proseanet.org/prosea/eprosea.php; diakses pada tanggal 25 Desember 2011.15. Anonim. 2011. Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI.

about author

Andrianopsyah Mas Jaya Putra M.Sc

197711292006041009

Pusat Penelitian Kimia

Komentar (5)

  • Andrianopsyah Mas Jaya Putra

    28 Desember 2011, 17:03:21

    Tulisan di atas bukan hasil penelitian, Pak, melainkan baru usulan hipotesis saja, untuk berbagi ide penelitian kepada rekan-rekan peneliti se-Indonesia. Kalimat yang digunakan di atas adalah sebagai berikut: "Bila caffeine berkhasiat sebagai senyawa antivirus yang universal, maka dapat disusun hipotesis bahwa ...". Namun, menurut hemat saya, hipotesis yang diajukan di atas cukup kokoh. Wallahu alam.

  • Poerwanto Soeseno

    28 Desember 2011, 12:48:36

    saya penggemar minum coklat dan sudah mengurangi bahkan sudah jarang minum kopi...
    apalagi minuman coklat sudah ada kemasan yg menarik juga.
    tapi soal ada anti virus saya baru tau lo...wah..berarti ada bagusnya minum coklat yach.Tapi kira2 ada bukti empiris ttg Coklat yang memperkuat penelitian di atas..supaya lebih uptodate.

  • Andrianopsyah Mas Jaya Putra

    27 Desember 2011, 20:49:08

    Ada yang luput dari tulisan di atas, Mas. Ketika kita sedang berobat, yakinlah bahwa berobat itu hanyalah usaha kita untuk menemukan sunnatullah (hukum Tuhan di alam). Adapun kesembuhan itu sendiri merupakan takdir dari Allah SWT. Dan, takdir itu selalu baik bagi manusia, apapun bentuknya.

  • Andrianopsyah Mas Jaya Putra

    27 Desember 2011, 14:06:24

    Saya juga belum tahu, Mas. Barangkali itu bergantung kepada jumlah senyawa theobromine di dalamnya, serta kemudahannya untuk diserap oleh tubuh kita.

  • Riemann

    27 Desember 2011, 13:07:43

    Menarik mas uraiannya. Saya kebetulan termasuk yang berhobi makan coklat, terutama untuk perjalanan jarak jauh. Ternyata ada khasiat antivirusnya toh.. Tapi saya kurang tahu apakah coklat dalam bentuk makanan sama efektifnya sebagaimana dalam bentuk minuman

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher