Blog Sivitas

Di era modern saat ini, peran teknologi sangat menjadi kebutuhan dan keinginan. Saat ini media komunikasi berupa handphone sudah menjadi candu yang tidak bisa tidak tergantikan. Paling gampang bisa dilihat dalam lingkungan sekitar anda membaca artikel ini. Coba hitung berapa orang pada saat yang sama sedang melihat handphonenya. Hitung persentasenya. Pasti di atas 40 persen.

Apakah itu disruptive innovation Disruptive innovation atau kita sebut saja pengacau. Dari Wikipedia (Link) adalah inovasi yang menciptakan pasar baru dan jaringan dari suatu nilai dan menggantikan pucuk pimpinan pasar yang sudah ada. Bila melihat grafik berikut pasti sudah tergambar apa itu inovasi pengacau.







Bisa dilihat, si pengacau itu tiba-tiba datang entah dari mana, kemudian merusak tatanan aturan, tapi pasar malah suka. Nah dengan penjelasan tersebut sudah tergambar peristiwa yang masih hangat dalam benak kita semua, ya perseteruan antara armada berbasis online dan armada taksi konvensional.



Armada Gojek, Uber dan Grab yang menawarkan user experience baru tiba-tiba datang mendobrak tatanan kolot industri transportasi. Dan ini sangat masif. Pengguna konvensional tiba-tiba mendapat thrill baru, armada konvensional tiba-tiba sepi langganan. Efeknya Ya ribut-ribut antar taksi sendiri itu adalah salah satu puncaknya.



Yang booming lagi adalah AirBNB (http://airbnb.com), sebuah aplikasi yang menyediakan wadah bagi pemilik rumah untuk menyewakan kamar atau rumahnya dengan harga miring. Aplikasi ini awalnya mewadahi backpacker yang rutin memilih hunian non hotel. Dengan AirBNB, saya bisa saja suatu saat menyewa kamar apartemen dengan view Jembatan Manhattan milik orang lain yang disewakan di aplikasi tersebut dengan harga jauh di bawah harga hotel. Saya untung, yang punya apartemen untung, hotel Bisa jadi merugi jika tidak ada inovasi lain.



Jadi, dengan munculnya injeksi inovasi model baru, tiba-tiba semua orang melek, tersadar dengan paksa. Sebagai pengguna, muncul opini kalo belum naik grab belum hip. Kalau belum pernah pesen Go-Jek belum afdol. Kalau naik taksi, kuno boros dll dsb. Begitupun bagi pengusaha taksi, mulai gelagapan investasi di sisi teknologi informasi.



Nah kegagapan ini apakah akan berdampak pada penelitian

Bagaimana peneliti LIPI harus bersikap



Di satu sisi, bagi peneliti sebagai obyek individu, seperti layaknya user lainnya, adanya teknologi seperti Gojek, Uber dan lain-lain tentu sangat memudahkan. Tak jarang saya melihat "pengacau" ini beroperasi di kantor LIPI.



Namun di sisi penelitian dan memposisikan diri sebagai lembaga penelitian, terbesar dan tertua di Indonesia wajib menyikapi munculnya pengacau baru. Peneliti harus tanggap dengan ide baru yang terlihat sepele namun breaktru.



Bisa saja suatu saat akan ditemukan material pengganti serat karbon yang lebih ringan namun lebih kuat dari karbon. Bisa saja ditemukan magnet yang polarisasinya bukan lagi atas bawah, tapi dalam satu bidang. Bisa saja suatu saat dikembangkan teknologi ekstraksi bahan alam yang mudah dan murah atau berbagai ide sinting lain bisa muncul dari siapapun.



Teknologi baru dan gagasan baru itu merupakan awal dari sebuah kehancuran bagi peneliti konvensional jika tidak ada kesigapan dalam menyikapi. Kata kuncinya adalah keterbukaan. Dengan memposisikan diri terbuka terhadap semua pujian dan kritik, bahkan kritik terpedas sekalipun.



Mungkin saja pulpen yang saat ini sedang diteliti sudah terbaik, tapi jika ada orang "sinting" request untuk diteliti pulpen yang bisa tebal tipisnya tulisan bisa diatur atau warnanya bisa didikontrol lewat ponsel atau lainnya. Sudah saatnya jawaban kita "BAIK,AKAN SAYA COBA!"



wallahu alam bishowab

sumber gambar : Wikipedia.org & http://www.childmag.co.za/

about author

Adi Setiya Dwi Grahito S.Si.

198401172008121001

Pusat Pemanfaatan dan Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher