Blog Sivitas

Pendahuluan

Bayangkan bila Anda diminta melukis sebuah rumah, sementara Anda sama sekali bukan pelukis yang handal, bisakah Anda menghasilkan lukisan yang bagus

Boleh jadi jawabnya ya jika Anda tahu aturan main melukis. Misal, Anda harus mencari dari sudut pandang mana objek terlihat paling menarik. Mustahil Anda melukis dari sisi atas karena tak akan menarik. Mustahil juga Anda melukis dari sisi belakang karena Anda hanya akan menemukan tembok tinggi. Mungkin Anda akan melihatnya dari sisi depan atau samping yang jauh lebih asri.

Itu salah satu aturan main melukis. Aturan lainnya Anda harus membuat sketsa dan memahami skala perbandingan objek Sehingga lukisan Anda menyerupai objek yang sesungguhnya.

Jika aturan-aturan itu Anda turuti, melatihnya berulang-ulang, besar kemungkinan lukisan Anda akan bagus. Apalagi jika Anda memiliki bakat, jadilah Anda seorang pelukis yang handal.

Begitu juga dengan menulis. Meskipun Anda belum mahir menulis indah, jika Anda ikuti aturan mainnya, latih berulang-ulang, asah kreativitas dan inovasi, peluang tulisan Anda menjadi indah sangat terbuka.

Lantas, seperti apa aturan main menulis itu Paling tidak ada tiga unsur yang harus ditata agar tulisan menjadi indah. Pertama isinya. Kedua, cara penyajiannya. Ketiga, cara penulisan kata, kalimat, dan alineanya.

Isi

Tulisan menarik harus berisi informasi terbaru yang sebelumnya tak diketahui pembaca. Bisa berupa pemaparan peristiwa. Misalnya ledakan bom, kecelakaan yang merengut banyak korban, pengunduran diri pejabat, hasil pertandingan olah raga, dan sebagainya.

Bisa juga hasil-hasil penelitian dan investigasi. Misalnya penemuan vaksin AIDS, hasil poling calon presiden, kesalahan teori relativitas Einstein, penyelidikan korupsi di Departemen Agama, dan sebagainya.

Namun adakalanya unsur kekinian sebuah tulisan menjadi sulit didapat karena media televisi sudah banyak menayangkan program breaking news. Hampir setiap jam ada saja stasiun televisi yang memberi informasi tentang peristiwa terbaru. Bahkan untuk peristiwa yang sangat penting, mereka menayangkannya secara live.

Demikian juga dengan radio dan media dot.com. Mereka bisa menampilkan berbagai peristiwa hanya dalam hitungan detik. Ini jelas mengalah-kan media cetak dalam hal kekinian.

Untuk menyiasati kekalahan ini media cetak banyak yang mengubah isinya. Bukan lagi menonjolkan unsur kekinian, tetapi kedalaman cerita. Mereka menguraikan sebuah kejadian dari beragam sudut pandang dengan judul yang berbeda-beda pula. Kaya akan suasana dan cermat dalam mengamati detil peristiwa.

Tujuannya untuk menggugah emosi pembaca: memberi empati kepada pihak yang terzalimi, memberi aplaus kepada mereka yang berprestasi, atau mengutuk pihak yang berlaku tidak adil.

Penyajian

Tulisan yang indah harus disajikan secara terfokus. Jangan sampai melebar ke samping, namun harus dalam ke bawah.

Bagaimana agar tulisan bisa fokus Pilihlah satu angle (sudut pandang) untuk satu cerita (judul)! Lalu pegang teguh angle tersebut. Hapus bagian-bagian yang tidak berhubungan langsung dengannya.

Kemudian, tulisan yang indah harus beralur. Mulailah dengan menulis judul. Sebisa mungkin judul berita dibuat dengan kalimat pendek, tapi menggambarkan isi berita secara keseluruhan. Pemberian judul ini menjadi penentu apakah pembaca akan tertarik membaca berita yang ditulis atau tidak.

Setelah itu lanjutkan dengan menulis lead, yaitu bagian terpenting dari apa yang ingin kita ceritakan. Lead bisa menjadi penentu apakah pembaca akan melanjutkan bacaannya atau tidak. Jangan lupa, lead harus mengandung unsur 5W+1H: apa/what, di mana/where, kapan/when, mengapa/why, siapa/who dan bagaimana/how.

Pembaca yang sibuk, tentu tidak akan lama-lama membaca berita. Pembaca akan segera tahu apa yang ditulis wartawan hanya dengan membaca lead. Tentu saja, jika pembaca masih tertarik dengan berita itu, ia akan melanjutkan bacaannya sampai akhir. Dan, tugas wartawan terus memancing pembaca agar membaca berita sampai tuntas.

Selanjutnya, jika kita menganut pola piramida terbalik, susunlah alur cerita berdasarkan penting tidaknya informasi. Bagian yang penting diletakkan di depan, semakin ke belakang semakin tidak penting. Biasanya, pola seperti ini ada pada berita keras (spot news).

Namun, jika kita menganut pola berimbang, setelah lead, biarkan cerita mengalir dengan sendirinya tanpa harus dibatasi mana yang penting dan mana yang tidak. Mungkin alur cerita mengikuti alur waktu, tahapan kejadian, dsb. Biasanya, pola seperti ini terdapat pada feature.

Selain itu, tulisan yang menarik harus tersaji secara lengkap. Artinya, semua informasi yang diinginkan pembaca terpenuhi. Misal, soal tempat, adakalanya kita menganggap semua pembaca tahu persis di mana lokasi yang sedang kita ceritakan. Padahal tidak!

Stasiun Gambir, contohnya, bagi masyarakat luar Jakarta tak terlalu mengerti di mana posisinya. Jika kita lengkapi informasi dengan kalimat, Tak jauh dari Masjid Istiqlal dan Monas, mungkin pembaca bisa membayangkan letaknya, paling tidak bagi pembaca yang pernah singgah di dua tempat tersebut.

Demikian juga dengan identitas sumber berita. Adakalanya kita hanya menulis nama dan jabatannya saja. Ini kurang lengkap. Alangkah baiknya jika disertakan juga pendidikan akademiknya, ciri-ciri fisiknya, kegemarannya, dan sebagainya.

Namun, hindarkan kesan bertele-tele dalam menceritakan identitas atau lokasi kejadian. Ingat, kita tidak sedang memberitakan si narasumber.

Agar tidak bertele-tele, identitas ini dipakai sebagai pengganti bila kita terpaksa menyebut nama sumber berulang-ulang.

Kemudian, hilangkan penggunaan kata-kata klise. Jika sumber memberikan keterangan dengan kalimat-kalimat klise, terjemahkanlah kalimat tersebut dalam bahasa yang sederhana. Jangan sampai menulis kalimat seperti sebuah jargon. Misal, Korupsi akan menghancurkan negara. Siapa yang mau peduli dengan jargon ini

Jangan pula menganggap pembaca sudah tahu latar belakang peristiwa yang kita ceritakan. Dalam menulis berita kita harus menganggap pembaca belum tahu, meskipun peristiwanya terus berlanjut dan sudah berlangsung lama.

Namun, jangan terkesan menyepelekan pembaca dengan berlama-lama menceritakan latar belakang peristiwa. Pembaca akan merasa digurui

Agar cerita latar belakang ini bisa tersaji secara benar, camkanlah satu hal: tulisan tak boleh membingungkan orang yang belum tahu dan tak boleh juga membosankan orang yang sudah tahu.

Bagian-bagian cerita yang terlalu umum, rumit, pelik, njelimet, sajikan secara sederhana dan mudah dicerna. Caranya, gunakan seseorang untuk mewakili kelompoknya, atau buatlah kiasan untuk membandingkan cerita yang sebenarnya. Misal, kisah tragis seorang korban banjir mungkin lebih menarik dibanding cerita banjir itu sendiri. Begitu juga keluhan memburuknya kesehatan seorang warga yang tinggal di kali Ciliwung, Jakarta, lebih mudah dimengerti ketimbang zat-zat berbahaya yang ada di sungai itu.

Jangan lupa menyertakan kutipan langsung dalam setiap tulisan. Sebab, kutipan langsung akan membuat tulisan menjadi lebih manusiawi. Kutipan langsung akan membantu memberi gambaran tentang karakter si penutur atau suasana di sekitarnya. Namun, jangan terlalu banyak membuat kutipan langsung. Jangan pula terlalu panjang.

Kutipan yang benar adalah kutipan yang persis seperti apa yang dituturkan oleh sumber. Jika sumber mengatakan harganya 100 perak, tak boleh kita tulis harganya Rp 100. Persoalannya, tak semua sumber bisa berbicara secara terpola. Bahasa lisan sangat berbeda dengan bahasa tulisan.

Karena itu, untuk membuat kutipan langsung tetap menarik, selain jangan terlalu panjang, kita pun harus memilih ucapan sumber yang bagus untuk dikutipan secara langsung. Selebihnya, jelaskan dalam bentuk kutipan tak langsung.

Penulisan

Tulisan yang baik setidaknya memiliki tiga ciri. Pertama, mudah dimengerti. Kedua, bersahabat. Dan ketiga, akurat.

Tulisan yang mudah dimengerti biasanya jelas mana subjek, predikat, dan objeknya, tidak menggunakan kalimat-kalimat yang beranak-bercucu, dan sebisa mungkin menggunakan kalimat aktif agar daya dorongnya lebih kuat.

Mengapa harus menggunakan kalimat aktif: Perhatikan beberapa contoh berikut:

Kalimat 1: Suami istri ditabrak truk (pasif).

Kalimat 2: Truk tronton tabrak suami isteri (aktif).

Kalimat kedua (aktif) lebih menarik dibanding kalimat pertama. Sebab penekanan kalimat ada pada truk tronton yang "besar", sementara suami isteri hanyalah objek yang "kecil". Namun ada kalanya kita harus menggunakan kalimat pasif jika penekanannya ada pada objek.

Perhatikan contoh berikut:

Kalimat 1: Truk menabrak Menteri Perhubungan (aktif).

Kalimat 2: Menteri Perbuhungan ditabrak truk (pasif).

Selain itu berhematlah dalam membuat kalimat atau kata agar tidak terkesan bertele-tele.

Penghematan kata, misalnya:

Agar supaya, sebaiknya ditulis agar, atau supaya.

Kemudian, sebaiknya ditulis lalu.

Akan tetapi, sebaiknya ditulis tapi.

Tidak, sebaiknya ditulis tak.

Adakalanya penghematan kata tak perlu dilakukan, terutama jika kita sudah terlalu sering menggunakan kata tersebut. Misal, untuk kata tak sekali-kali diganti dengan tidak. Tujuannya agar tulisan menjadi lebih berwarna.

Penghematan kalimat, misalnya:

Adalah merupakan kenyataan, sebaiknya ditulis Merupakan kenyataan.

Apa yang dinyatakan Badu sudah jelas, sebaiknya ditulis Yang dinyatakan Badu sudah jelas.

Menjadi Muslim, buat masyarakat Rwanda, bukanlah sebuah proses yang mudah, sebaiknya ditulis Menjadi Muslim, buat masyarakat Rwanda, tak mudah.

Kita lihat apakah dia ada di rumah atau tidak, sebaiknya ditulis Kita lihat dia di rumah atau tidak.

Kera adalah binatang pemamah biak, sebaiknya ditulis Kera binatang pemamah biak.

Presiden besok akan meninjau pabrik, sebaiknya ditulis Presiden besok meninjau pabrik.

Tanggul Kali Citanduy mengalami kebobolan, sebaiknya ditulis Tanggul Kali Citanduy bobol.

Menderita kerugian, sebaiknya ditulis rugi.

Rumah di mana saya tinggal, sebaiknya ditulis Rumah yang saya tinggali.

Selanjutnya, tulisan yang bersahabat biasanya tidak mengandung kalimat dan alinea yang panjang. Satu kalimat sebaiknya terdiri atas 10 sampai 20 kata. Sedang satu alinea cukup berisi 2-3 kalimat. Ingat apa yang dikatakan Ernest Hemingway, peraih Pulitzer tahun 1950-an untuk karya monumental The Old Man and The Sea Katanya, less is more!

Untuk menguji apakah kalimat yang kita buat terlalu panjang atau tidak, cobalah tarik nafas secara wajar lalu bacalah kalimat tersebut. Jika nafas Anda sudah habis sementara kalimatnya belum tuntas dibaca, itu tandanya kalimat yang Anda buat terlalu panjang.

Selain itu, hindari pengulangan kata dalam satu kalimat, hindari pemakaian kata-kata asing (ilmiah), dan konsistenlah dalam menulis.

Perhatikan contoh tulisan salah seorang dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB yang dimuat pada Suara Pembaruan edisi 2003:

.... Bisa jadi dua-duanya benar. Baik dalam sistem pasar maupun sistem sosial di desa pesisir umumnya nelayan diposisikan dependen. Ia mesti rela sebagai price taker dalam struktur pasar output yang oligopsonis, juga terperangkap dalam struktur sosial berciri patron-klien yang seringkali asimetris itu. Pada tingkat komunitas, struktur pasar yang monopsonistik maupun oligopsonistik selama ini tercipta karena kegiatan perikanan penuh dengan ketidakpastian, dan para toke yang ada di desa nelayan umumnya mampu menjamin kepastian itu.

Tulisan ini sangat njelimet, terlalu banyak kata-kata asing. Bagi kelompok orang-orang tertentu tulisan ini bisa dimengerti. Tapi, bagi orang kebanyakan, tulisan ini sama sekali tak menarik.

Hindari pula pemakaian kata sifat, sebab kata sifat cenderung menggurui pembaca. Pakailah kata kerja. Misalnya, kalimat tangisnya memilukan hati, tak menggugah emosi pembaca. Seharusnya kata memilukan diganti dengan penggambaran suasana. Misal, suaranya melengking, air matanya mengucur, mukanya memerah, rambutnya acak-acakan, dan lain-lain. Ingat, dont tell, but show!

Perihal ejaan, sebaiknya kita gunakanlah EYD (Ejaan yang Disempurnakan).

Misalnya:

Syah, seharusnya sah.

Khawatir, seharusnya kuatir.

Akhli, seharusnya ahli.

Tammat, seharusnya tamat.

Namun, jika Anda bingung membuat ejaan yang benar untuk satu kata, cobalah Anda memilih salah satu yang Anda anggap paling benar dan umum. Kemudian konsistenlah menulis kata tersebut! Artinya, jangan sampai di awal cerita kita menulis praktek, lalu di tengah cerita kita menulis praktik. Ini tidak konsisten.

Keakuratan juga menjadi keharusan sebuah tulisan yang baik. Nama orang, jumlah bilangan, waktu, tidak boleh salah. Lebih baik Anda periksa kembali jika ragu dari pada Anda tahu data-data salah setelah tulisan sudah dipublikasikan. Sebab, ketidakakuratan akan menurunkan kepercayaan pembaca. Jika kepercayaan sudah turun, keindahan jelas akan pudar dengan sendirinya.

Namun, adakalanya pembaca tak memerlukan detil angka-angka. Misal, kasus korupsi merugikan negara sebesar Rp. 914.731.777, lebih baik ditulis lebih dari Rp. 914 juta atau lebih dari Rp. 900 juta.

about author

Tutang M.M.

196206061983021003

Pusat Pemanfaatan dan Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Komentar (2)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher