Blog Sivitas

Pendahuluan

Menulis, kedengarannya sangat mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja termasuk Anda. Anak Sekolah Dasar pun sudah sangat pandai menulis dan membuat kalimat. Tidak sedikit anak TK sudah diajarkan menulis kata-kata. Namun yang dimaksud menulis dalam tulisan ini adalah membuat sebuah karya tulis yang bisa dinikmati, memberi gambaran, menginformasikan, dan menghasilkan sesuatu, misalnya berita, informasi, dan sebagai-nya untuk kepentingan orang banyak.

Tidak sedikit orang yang berhasil membuat sebuah karya menjadi orang terkenal. Tidak sedikit orang masuk penjara karena tulisan. Bahkan tidak sedikit pula para pejabat takut kantor atau lembaga yang ia pimpin ditulis atau diberitakan dan disebarluas-kan kepada masyarakat. Dengan tulisan pula bisa menjadikan orang lain terkenal.

Pengaruh Tulisan

Napoleon Bonaparte pernah berkata, Saya lebih memilih menghadapi tiga batalyon tentara musuh ketimbang harus meladeni seorang jurnalis. Andai saya membiarkan jurnalis bebas berkeliaran melakukan apa saja yang harus mereka lakukan, maka bisa dipastikan dalam waktu tak lebih dari tiga bulan saya akan terpental dari kedudukan saya.

Begitu kuat pengaruh tulisan. Banyak sosiolog berpendapat, jurnalisme adalah kekuatan keempat yang mampu mengubah kondisi sosial dan politik sebuah negara.

Seorang wartawan senior pernah ditanya, Mengapa Anda menjadi wartawan Jawabnya singkat saja, Tidak perlu kaya untuk bisa merasakan tidur di hotel berbintang, tak perlu jabatan untuk bisa bertemu seorang menteri, tak perlu senjata untuk membuat para koruptor ketakutan.

Susumu Awanohara, koresponden Far Eastern Economic Review pernah ditanya seorang pewarta Indonesia, Hamid Basyaib, Jika Anda doktor, apalagi dari universitas sebesar itu (Yale AS), mengapa cuma menjadi wartawan

Bung, jawabnya, pekerjaan ini (menjadi pewarta) sangat berat. Jika saya tidak bergelar Ph.D., mungkin saya tak sanggup melakukannya.

Bagi seorang peneliti atau dosen, tulisan bisa membuat dirinya menjadi Professor atau Ahli Peneliti. Dengan tulisan pula seorang peneliti bisa dikenal kepakarannya, dan tentu saja apabila sudah dikenal dia akan mudah untuk mendapatkan angka kredit. Bahkan tidak sedikit seorang peneliti yang mampu menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga penelitian diseluruh dunia karena tulisannya dimuat di sebuah jurnal internasional.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya bagi seorang pejabat fungsional baik peneliti ataupun non dengan tulisannya adalah dia bisa menghasilkan berbagai hal, antara lain:

  1. Mendapatkan angka kredit
  2. Diundang untuk jadi pembicara dan mendapatkan duit
  3. Bisa dengan cepat naik jabatan fungsionalnya dan mendapatkan tunjangan jabatan yang penuh dengan duit
  4. Bisa naik pangkat 2 tahun sekali dan tentu saja akan mendapatkan tambahan duit
  5. Apabila jsbtsn fungsional misalnya Prakom Utama, Peneliti Utama, Pustakawan Utama, dan sebagainya, akan terkenal, selangit dan tentu saja ujung-ujungnya akan bermuara pada duit. Karena tunjagan naik dan grade 13 sudah pasti.

Beberapa Jenis Karya Tulis

Karya tulis ada berbagai bentuk. Ada fiksi seperti cerpen, novel, dan puisi. Ada pula non-fiksi seperti laporan hasil penelitian ilmiah dan hasil repotase.

Tulisan fiksi lebih menonjolkan kekuatan imajinasi penulis. Sementara tulisan non-fiksi lebih me-nonjolkan pada fakta, entah berupa esai, opini, kolom, atau hasil reportase dan investigasi.

Kita batasi pembicaraan ini hanya pada karya nonfiksi dengan titik berat hasil reportase atau investigasi. Kita kesampingkan dulu bentuk tulisan esai, opini, atau kolom. Si penulis kita sebut pewarta atau wartawan. Sedang tulisannya kita sebut karya reportase atau karya investigasi.

Pertanyaannya, bagaimana agar karya reportase dan investigasi bisa indah dan berbobot Jawaban sederhananya, bergantung pada kemampuan si pewarta melakukan dua hal: mereportase atau menginvestigasi, dan menyajikannya dalam sebuah tulisan yang indah.

Hanya saja belajar menulis tak cukup satu hari, satu minggu, atau satu bulan saja. Butuh waktu berbulan-bulan untuk menelorkan sebuah karya indah dan berbobot. Bayangkan, jika Anda masuk jurusan jurnalistik di Universitas Islam Bandung (jurusan tersebut kemudian berubah menjadi program studi), Anda harus menyelesaikan 130 sistem kredit semester. Paling tidak butuh waktu 3,5 tahun.

Cuma, mereka yang begitu menguasai teori jurnalistik, tak menjamin tulisannya indah. Sama halnya dengan sarjana perikanan laut yang tak tahu cara menangkap ikan. Boleh diuji, mana yang lebih banyak hasil tangkapannya, nelayan yang setiap hari melaut atau mahasiswa yang setiap hari membaca mempelajari teori melaut.

Menulis itu seperti bermain catur. Meskipun kita tahu tata cara bermain, tak menjamin kita bisa memenangkan pertandingan. Kita harus lebih banyak berlatih.

about author

Tutang M.M.

196206061983021003

Pusat Pemanfaatan dan Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher