Blog Sivitas

Inovasi dan Keberagamaan
Waktu berjalan cepat dan tidak terasa sudah berada pada penghujung Ramadan di tahun 2016 ini. Nuansa semangat pulang kampung terasa. Diskusi terkait dengan agama dan kapasitas Inovasi juga terasa lebih ramai pada bulan ini.
Diawali dengan posting pada sebuah blog bertema agama sebagai penghambat proses inovasi yang berdasarkan jurnal berjudul Forbiden Fruits: The Political Economy of Science, Religion, and Growth, yang terbit di Americas National Bureau of Economic Research.
Salah satu kemewahan yang didapatkan sebagai Peneliti dengan akun surel korporatnya adalah pengakuan dan kepercayaan dari pihak luar sehingga jurnal inipun akhirnya sukses masuk pada inbox.
Perlu review dan kajian untuk diskusi atas jurnal ini yang diperkaya dengan analisis kuantiatif yang komprehensif.
Secara singkat, mungkin terlalu sederhana untuk memandang kapasitas inovasi yang diukur melalui relasi jumlah paten perkapita dengan tingkat kualitas aktivitas keberagamaan
suatu lokasi. Sama dengan pembentukan sebuah teori yang dipengaruhi oleh lingkungan maka proses inovasi juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan ekonomi. Sehingga keterterikatan masyarakat dalam pengembangan ilmu dan teknologi menjadi penting. Seperti pada pengaruh dua kontrak sosial dalam pengembangan Iptek adalah Humboldt Social Contract dan Vannevar Bush Social Contract bisa digunakan sebagai acuan dalam penguatan titik simpul Revolusi Mental yang membentuk pola tindak dan terbentuknya struktur yang ajeg.
Kesadaran Struktur - BudayaSebuah diskusi tentang peran ilmu dalam agama dilakukan ditengah mulai menurunnya aktivitas di paruh akhir Ramadan.
Bahwa inovasi terlahir dari kebebasan dan tidak terikat dari aturan. Berbeda dengan agama yang terikat dengan kepatuhan. Namun hal ini pun terbantah dengan pendapat yang menyatakan pun Innovation charter berupa alur proses inovasi yang disesuaikan dengan karakter institusi dan jenis teknologi tetap diperlukan. Sama seperti lahirnya sebuah teori, maka sebuah inovasi juga dipengaruhi oleh lingkungan ekonomi, sosial dan politik.
Dengan body dari Karl Marx dan mind dari Weber maka bisa bentuk sebuah postulat pembentukan strata yang mengarah pada struktur yang baik berupa budaya. Contoh sederhananya bisa dilihat dengan cara berkendaraan. Setelah merasa nyaman dengan aturan mengendarai kendaraan mematuhi aturan kecepatan dan rambu-rambu jalan di suatu negara. Misalnya, di persimpangan jalan, pengendara akan memberikan prioritas pada kendaraan dari sebelah kanan. Di persimpangan jalan yang berbahaya dan dilengkapi dengan rambu stop roda kendaraan akan berhenti total paling tidak selama 1 detik sebelum melanjutkan jalan (tidak perduli waktu menunjukan pukul 02.00 dimana hanya pengendara dan jangkrik didalam mobil). Setelah kembali ke Indonesia, kita bisa frustasi berkendaraan di lajur kanan dengan maksud untuk mendahului tapi malah menjadi lebih lambat. Di persimpangan jalan saat lampu pengatur lalu lintas berwarna kuning, maka jangan heran jika klakson dari pengendara lain memaksa kita untuk melajukan kendaraan lebih cepat.
Contoh lain adalah bagaimana kita memperlakukan lingkungan. Pada suatu kesempatan menghadiri sebuah kegiatan di Kedutaan Australia, saya kagum melihat sebuah pohon beringin besar berdiri tegak dihiasi lampu-lampu dari bawah. Pohon ini berada diantara gedung sekuriti dengan gedung utama. Dalam sambutannya, Sang Duta Besar mengakui bahwa gedung ini dibuat dengan konsep inovasi yang ramah lingkungan dengan menggunakan energi terbarukan dan air daur ulang. Cara pandang dan memperlakukan sebatang pohon tua menjadi tidak berubah walaupun berada ditempat yang berbeda dimana jaminan kehidupan sebatang pohon besar tidak seaman di negara maju itu.
Dalam dua contoh tersebut, pengendara dan pemotong pohon tidak bisa disalahkan walaupun secara abstrak mungkin menolak untuk berkendaraan sesuka hati dan memperlakukan indikator kecepatan sebagai hiasan. Pembantai pohon besar juga tidak bisa disalahkan atas dasar keselamatan jiwa manusia. Mungkin kesadaran sudah ada tapi struktur (aturan perundang-undangan/kitab suci) tidak mendukung. Atau kesadaran telah diperkuat dengan struktur tapi tidak dibahasakan sebagai budaya.
Tafsir IlmiAl-Quran adalah kitab suci umat beragama Islam yang merupakan mukjizat dari Nabi Muhammad SAW. Dari kisah-kisah kenabian dengan kesaktian pada kemampuan menyembuhkan penyakit, membelah laut, berbicara dengan binatang dan lainnya, maka umat ini diwariskan sebuah buku yaitu Quran yang didalamnya terdiri kumpulan kisah-kisah mengenai banyak hal (akidah, akhlak dll) yang tidak luntur akibat perubahan jaman dan membuka keluasan nilai keilmuan dari sosial, politik, perdagangan, kebumian dan yang lain.
Tafsir Ilmi adalah salah satu upaya peningkatan kualitas pemahaman, penghayatan dan pengamalan Al-Quran yang dibuat atas kerjasama LIPI dengan Diklat Kementerian Agama RI. Sayang buku ini tersebar terbatas.
Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1437. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga puasa kita diterima Allah SWT dan dipertemukan dengan bulan puasa berikutnya, Aamiin YRA.

about author

Syafrizal Maludin S.E.,M.TIM.

197004112000031006

Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher