Blog Sivitas

Beberapa hari yang lalu, di situs internet ini kita kembali membaca keluhan mengenai kurang memadainya dana penelitian yang telah dijatahkan oleh Pemerintah untuk LIPI dan masyarakat iptek pada umumnya. Al-hamdu lillah, kali ini, ada 2 paradigma segar yang bisa kita bahas untuk menanggapi keluhan tersebut. Pertama, dana penelitian itu tidak mesti berasal dari Pemerintah, melainkan bisa kita sediakan sendiri melalui investasi 10 tahunan. Kedua, dana penelitian merupakan sumberdaya yang terbarukan, asalkan diperoleh dari sumberdaya yang terbarukan pula. Lho, kok bisa Mari kita mengenal sebuah investasi 10 tahunan berbasis sumberdaya hayati, yaitu: Menabung Pohon. Mudah-mudahan Pembaca dapat memahami makna istilah ini pada akhir tulisan ini.Di dalam filosofi Gerakan Menabung Pohon, pohon yang kita tanam hendaknya merupakan pohon yang harga bibitnya sangat murah, perawatannya sangat mudah, tetapi nilai hasil panennya kelak luar biasa dan cenderung meningkat. Pohon yang memenuhi kriteria ini antara lain: pohon gaharu (Aquilaria spp.).Gaharu adalah pohon kayu yang dikenal akan aromanya yang memikat. Kayunya lazim dijadikan sebagai kemenyan. Dari kayu itu, dapat diperoleh pula minyak atsiri, yang merupakan bahan baku kosmetika. Sedangkan, getahnya merupakan bahan baku pengharum ruangan. Pengharum ruangan dari gaharu sangat disukai di Timur Tengah. Konon, hampir tiap rumah di Timur Tengah diharumkan dengan gaharu. Dari sini lah kita mengenal pepatah Melayu: Sudah gaharu, cendana pula.Tidak seperti pohon cendana, yang tumbuh pada lahan dengan kondisi yang panas saja, spesies gaharu tertentu (Aquilaria malaccensis Lamk) bisa tumbuh pada lahan dengan berbagai kondisi di Indonesia. Pohon ini memerlukan perawatan selama 6 bulan pertama saja, berupa air hujan pada musim hujan. Untuk seterusnya, pohon ini dapat berkembang dengan sendirinya hingga mencapai tinggi beberapa meter. Pohon ini berkembang dengan lurus ke udara, sehingga tidak mengganggu lingkungan di sekitarnya. Agar berkembang dengan cepat, gaharu biasanya ditanam secara berdampingan dengan pohon kayu lainnya yang berkembang dengan cepat (seperti: jabon atau sengon), dengan jarak tanam 1 m.Setelah 6 tahun, gaharu biasanya disuntik (diinokulasi) dengan mikroba tertentu agar menghasilkan getah (gubal). Mikroba ini bisa diusahakan oleh Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Cibinong. Pada tahun ke-9, gubal itu dapat dipanen. Dari 1 batang pohon gaharu, bisa diperoleh 1-3 kg gubal. Gubal ini lah yang dieskpor ke Timur Tengah sebagai bahan baku pengharum ruangan.Harga jual bibit gaharu berbentuk stek saat ini adalah Rp 30.000 50.000 per bibit. Tetapi, harga jual gubal bisa mencapai Rp 10 juta 30 juta per kg. Bayangkan bila kita dapat melakukan panen raya gubal dari 100 batang pohon gaharu pada lahan 200 m2 saja. Akan tersedia dana yang memadai untuk 100 buah proposal penelitian selama 1 tahun. Untuk pendanaan berikutnya, bisa dilakukan penanaman kembali pohon tersebut. Ini lah makna dari istilah Menabung Pohon. Kita memulainya dengan biaya yang sangat rendah, tetapi memperoleh hasil yang sangat tinggi.Pertamina Foundation, sebuah lembaga sosial nirlaba di Jakarta, sedang melakukan penanaman 1 juta bibit gaharu di Kota Depok, Propinsi Jawa Barat, pada musim hujan tahun ini. Penanaman sejumlah besar bibit tersebut di lingkungan kota merupakan yang pertama di Indonesia. Bila kegiatan ini berhasil, maka Kota Depok akan menjadi lebih teduh, sejuk, dan kaya air tanah; dan warganya akan menikmati lompatan penghasilan yang luar biasa. Kegiatan ini dapat diikuti melalui halaman situs internet Twitgreen (http://twitgreen.com/p/garden-by-the-depok-city/).Pemerintah Indonesia memiliki kuasa atas jutaan hektar hutan se-Indonesia. Sekian persen dari hutan itu bisa diserahkan hak pengusahaannya kepada Kementerian Ristek dan LPNK-LPNK di bawah koordinasinya untuk keperluan pendanaan penelitian. Bahkan, tiap satuan kerja di LIPI bisa berinisiatif sendiri, menanami lahan-lahan yang belum termanfaatkan di sekitar kantornya masing-masing dengan pohon-pohon seperti di atas. Bila kebijakan Menabung Pohon ini mulai diterapkan pada musim hujan tahun 2014, dan penerapannya diawasi secara seksama agar tidak terjadi korupsi, maka tiap 10 tahun sekali kita bisa memiliki dana penelitian yang melimpah tanpa membebani APBN. Semua ini bisa terjadi semata-mata atas izin dari Allah SWT.KETERANGAN1. Gagasan ini merupakan hasil diskusi Penulis dengan Bp. Ir. Lendo Novo, Direktur Lingkungan Hidup Pertamina Foundation (http://pertaminafoundation.org/board/). Kepada beliau, Penulis mengucapkan terima kasih.2. Gambar di atas diperoleh dari halaman situs internet Pusat Litbang Konservasi & Rehabilitasi Kementerian Kehutanan (http://www.forda-mof.org/index.php/berita/post/1267).3. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tanaman gaharu, jabon, dan sengon, lihat halaman situs internet PROSEA - LIPI (http://www.proseanet.org/prosea/eprosea.php).

about author

Andrianopsyah Mas Jaya Putra M.Sc

197711292006041009

Pusat Penelitian Kimia

Komentar (2)

  • Andrianopsyah Mas Jaya Putra

    29 Januari 2014, 17:59:25


    Alaykumus-salam wa rahmatullahi wa barakatuh.

    Terima kasih atas tanggapan Bapak.

    Resiko gagal panen mungkin ada. Cara menyiasatinya adalah memperbanyak jumlah bibit gaharu yang kita tanam.

  • Bayu Arief Pratama

    29 Januari 2014, 13:45:15

    Assalamu Alaikum, Pak Andrianopsyah
    Ide bapak sangat menarik. Jujur saja saya sangat tertarik dengan ide tersebut. Gaharu merupakan produksi alamiah yang unik. Jenis-jenis penghasil gaharu ini malah makin bernilai saat sakit dan menghasilkan resin yang kemudian kita kenal sebagai gahru. Untuk pengelolaan saya yakin teknologi inokulasisaat ini juga sudah sangat maju. Inokulasi sudah mampu menghasilkan gaharu kualitas super. Namun perlu dicermati bahwa tidak semua inokulasi berhasil, dan gaharu yang bernilai tinggi yang memiliki kualitas super.Selain itu, pohon penghasil gaharu merupakan jenis yang terdaftar dalam appendiks CITES yang perdagangan internasonalnya di atur dalam undang-undang. Saat ini regulasi yang ada masih merupakan regulasi untuk gaharu alam. Regulasi untuk gaharu budidaya pun masih dalam proses penyusunan oleh LIPI dan KKH-Kemenhut. Masalah yang sering dialami masyarakat pemilik kebun adalah kesulitan dalam pemasaran karena terkadang kualitas gaharu hasil budidaya yang jauh dibawah kualitas gaharu alam. Saya berharap dengan kemajuan teknologi masalah rendahnya kualitas ini dapat diatasi. Populasi gaharu di alam dapat survive karena gaharu budidaya bisa mememnuhi permintaan pasar dan benar-benar dapat dimanfaatkan sebagai solusi masalah pendanaan penelitian.

    Salam Hormat,
    Bayu

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher