Blog Sivitas

"Saya agaknya kurang setuju dengan tulisan yang Anda sampaikan, informasi ini sepertinya salah, mohon dikroscek kembali acuan yang Anda gunakan. Apalagi Anda dari LIPI"

Kata-kata tersebut membuat saya tersentak tatkala mengikuti sebuah pelatihan penulisan opini yang diselenggarakan oleh Biro Kerjasama, Hukum, dan Humas (BKHH) LIPI dengan narasumber redaktur opini dari salah satu harian nasional, beberapa waktu yang lalu. Redaktur tersebut mengklarifikasi pernyataan dalam opini yang saya tulis sebagai prasyarat mengikuti pelatihan tersebut. Kebetulan saat itu tulisan saya mendapat giliran untuk dibahas dalam salah satu sesi pelatihan.

Sedari awal saya memang agak ragu dengan sumber artikel yang saya gunakan sebagai acuan dalam tulisan, wajar jika ternyata salah dan kemudian redaktur tersebut mengklarifikasi. Namun yang membuat saya tersentak bukan pada kesalahan data yang saya gunakan, melainkan pada kata-kata terakhir dari redaktur tersebut yang menancap kuat dalam ingatan saya, "apalagi anda dari LIPI".

Kata-kata tersebut menyadarkan saya bahwa meskipun saya membuat opini tersebut murni atas nama dan pendapat pribadi, tetapi tetap saja masih ada keterikatan dengan latar belakang lembaga tempat saya bekerja. Dan redaktur tersebut memiliki ekspektasi sedemikian tinggi pada LIPI, sehingga merasa perlu mengingatkan bahwa saya bekerja di LIPI, lembaga riset terbesar di Indonesia dan sudah selayaknya terpercaya. Sehingga akan sangat fatal akibatnya jika apapun yang disampaikan oleh para sivitas di dalam naungannya adalah informasi yang salah.


Tentu pemahaman semacam itu tidak hanya dimiliki oleh redaktur opini saja. Saya yakin masyarakat Indonesia bahkan dunia luar juga menaruh ekspektasi tinggi terhadap apapun informasi yang berasal dari sivitas LIPI, baik itu hasil penelitian hingga opini pribadi seperti yang saya tulis dalam pelatihan. Bahkan ekspektasi semacam itu mungkin tidak sebatas pada tulisan hasil karya sendiri, tapi masuk hingga ke ranah tulisan yang dipublikasi ulang atau dalam terminologi saat ini di-repost, reshare, atau retweet.

Hal tersebut paling tidak, sangat masif terjadi di jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter atau aplikasi pesan lintas platform seperti grup Whatsapp dan BBM. Di mana banyak berita bohong (hoax) dan informasi palsu yang beredar tidak terkendali. Terkadang para sivitas LIPI menjadi acuan kroscek untuk mengklarifikasi berita hoax tersebut, ini sekali lagi merupakan wujud ekspektasi tinggi masyarakat terhadap sivitas LIPI.

Nah, pertanyaan selanjutnya, bagaimana jika justru dari sivitas LIPI sendiri yang turut andil dalam menyebarkan informasi yang keliru Yakni dengan me-repost, reshare, atau retweet tanpa kroscek kebenarannya terlebih dahulu

Tentu tidak setiap saat akan ada redaktur opini baik hati yang mengoreksi seperti pada kasus saya di atas dan mengingatkan bahwa "anda dari LIPI" sehingga dikhawatirkan mempertaruhkan kredibilitas lembaga. Di sini, saya tidak menyalahkan ekspektasi terlalu tinggi dari masyarakat yang cenderung tenggelam dalam logical fallacy, appeal to authority, justru senang karena itu adalah wujud branding yang telah terbangun selama hampir setengah abad LIPI berdiri. Sebaliknya ini merupakan sebuah lecutan bagi setiap sivitas untuk mempertahankan dan meningkatkan kredibilitas LIPI di mata masyarakat luas, dengan selalu memperhatikan konten informasi yang sivitasnya sampaikan, dari hal terkecil sekalipun.

Maka di sinilah pentingnya tabayyun atau memeriksa dengan teliti setiap informasi sebelum kita terima, terapkan, dan gunakan, terlebih jika informasi tersebut untuk disampaikan kepada orang lain. Karena dari para sivitasnya lah kredibilitas sebagai lembaga riset berkelas dunia dipertaruhkan.

Dalam lingkungan satuan kerja saya, LIPI Press, salah satu waktu terbanyak yang dihabiskan oleh seorang penelaah/editor dalam proses penerbitan adalah untuk memeriksa setiap informasi dan sumber informasi, mengkroscek setiap kutipan dan sumber kutipan yang digunakan. Bahkan apabila acuannya terbukti dari sumber daring yang kurang jelas, penulis akan diminta untuk mencari sumber primernya. Hal ini agar informasi yang disampaikan menjadi akurat dan dapat dipertanggung jawabkan.

Sesukar itu untuk menjadikan sebuah tulisan yang diterbitkan menjadi layak untuk disebut sebuah terbitan ilmiah. Apabila tulisan yang maksimum sepuluh halaman saja bisa memiliki banyak kesalahan di dalamnya, apalagi segala informasi yang kita sebarkan setiap hari. Karena sejatinya, seremeh apapun hal yang disampaikan tetap ada pertanggung jawaban moral untuk menyampaikan yang benar.

Jadi mari ber-tabayyun, mari sempatkan kroscek dalam menerima segala informasi. Tetap skeptis, analitis, dan kritis dalam menyikapi setiap isu. Idiom populer memang menyatakan kita semua boleh salah, tapi tidak boleh bohong, namun bukan berarti tidak berusaha untuk menjadi benar kan Demikian, semoga tulisan sederhana ini dapat memberikan manfaat.


about author

Dhevi Enlivena Irene Restia Mahelingga S.Sn.

198812012015021001

Balai Media dan Reproduksi (LIPI Press)

Komentar (1)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher