Blog Sivitas

Seperti yang diutarakan oleh akademisi dan pemerhati isu pemuda, Barry Checkoway, generasi muda mempunyai potensi untuk menjadi agen perubahan dengan peduli dan ikut aktif terlibat terhadap isu-isu sosial di sekeliling mereka. Pada bulan Mei 2013, Ban Ki-moon, Sekertaris Jenderal PBB menyerukan Global Youth Call dalam Economic and Social Council (ECOSOC) Youth Forum, Young leaders have the energy and ideas we need to change our world. Artinya apa Remaja mempunyai energi dan ide-ide untuk mengubah dunia kita. Mereka adalah makhluk visioner yang mampu menjelaskan tantangan-tantangan yang ada, menawarkan solusi alternative dan menjadi rekan kerja untuk masa depan yang lebih baik. Salah satu diantaranya adalah menjadi pemerhati (observer), pencinta (lover) dan pembuat innovasi (innovator) sumber daya yang dimiliki melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.




Sejak memasuki dekade milenia, geliat perkembangan sains dan iptek telah meningkat di seluruh penjuru dunia. Bentuk komitmen dunia international untuk mendukung perkembangan Youth Innovation telah memicu perkembangan sains dan iptek di berbagai negara maju dan berkembang. Seperti campaign yang diserukan oleh Obama Educate to Innovate sejak tahun 2009. Presiden Obama menegaskan bahwa kampanye yang telah berlangsung selama kurang lebih lima tahun ini berusaha untuk membangun komitmen diantara instansi pemerintah, lembaga profit maupun non-profit di negara paman Sam untuk memberikan dukungan dan apresiasi bagi para peneliti remaja terhadap sains dan iptek. Sebagai contoh, perusahaan dan show populer seperti Time-Warner Cable, Discovery Communications, Sesame Street, mulai memberikan pesan pesan mengenai pentingnya invensi dan penemuan kepada penontonnya yang notabene adalah anak-anak usia dini dan remaja.




Pada dasarnya program pembinaan iptek bagi remaja telah berkembang pesat di seluruh dunia. Daya inovasi pemuda tumbuh berdasarkan berbagai kondisi yang memicu mereka untuk berpikir dan bertindak kreatif untuk memecahkan persoalan-persoalan di sekitar mereka. Sebagai contoh, saya akan bercerita tentang kasus seorang anak yang bernama Steven Gonzales Jr. Di usianya yang baru menginjak 12 tahun, dia didiagnosa mengidap penyakit kanker yang bernama Acute Myelogenous Leukimia. Pihak medis menyatakan bahwa dia hanya mempunyai kesempatan 2 persen untuk hidup. Pada saat itu, Steven memilih untuk tetap berjuang melawan penyakitnya dengan membuat sebuah video games bernama Play Against Cancer dan sebuah sosial media untuk komunitas online penderita kanker. Dalam usianya yang dini dan dalam kondisi kesehatan yang terbatas, dia mendedikasikan dirinya untuk melakukan observasi tentang pengalaman dan dampak penyakit kanker bagi anak-anak dan remaja. Hal tersebut patut kita renungi, bahwa pemikiran positif dapat memicu kita untuk berpikir dan bekerja lebih solutif di berbagai macam situasi. Terlebih lagi dengan pemanfaatan iptek sebagai media informasi, maka hasil observasi Steven tidak hanya berguna bagi dirinya akan tetapi dapat menjadi fondasi bagi para penderita kanker maupun pihak medis untuk saling bertukar pikiran dan informasi.



Pemberdayaan remaja sebagai pemakai dan penguasa iptek tidak pula terlepas pula dari isu-isu sosial dan ekonomi di sekitar mereka. Di berbagai negara Asia dan Afrika, inovasi dan penelitian remaja diarahkan menuju program kewirausahaan pemuda. Uganda, sebagai salah satu negara yang mempunyai masalah dengan tingginya tingkat drop-out sekolah, mempunyai program Social Innovation Academy (SINA) yang diperuntukkan bagi remaja yang tidak melanjutkan pendidikan formal selepas bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Program ini bertujuan untuk mendidik para remaja Uganda melakukan inovasi sosial dan menciptakan lapangan kerja. Salah satu projek SINA yang telah berhasil dikembangkan adalah projek konstruksi bangunan melalui program daur ulang. Projek ini merupakan kolaborasi penelitian para remaja dan fasilitator di SINA yang menerapkan teknologi baru dalam mengolah botol plastik sebagai salah satu bahan bangunan pengganti batu bata. Tidak hanya mampu memberikan nilai ekonomi bagi penggunaan sampah plastik, projek ini memberdayakan potensi pemuda dan komunitas lokal untuk peduli dan terlatih dalam proyek daur ulang sampah plastik dan teknologi terapan di sekitar mereka.



Melalui contoh-contoh di atas, kita dapat melihat bahwa remaja memiliki potensi yang besar dalam pengembangan dan pemanfaatan iptek. Melalui dukungan yang tepat dari keluarga, sekolah maupun pemerintah, mereka mampu melakukan inovasi iptek yang mempunyai kontribusi signifikan bagi lingkungan di sekitarnya. Telah banyak anak bangsa yang memiliki prestasi ilmiah baik di tingkat nasional maupun tingkat internasional. Seperti halnya perkembangan sains di negara-negara maju, pemerintah Indonesia mendukung peningkatan kualitas pendidikan untuk mendukung perkembangan inovasi remaja. pemerintah menyadari bahwa youth innovation adalah salah satu langkah untuk memperkuat posisi dan nilai jual bangsa ini di pergaulan global.



Popularitas sains, iptek dan inovasi di kalangan remaja Indonesia dapat kita lihat dengan semakin bertambahnya jumlah pembinaan-pembinaan ilmiah bagi remaja baik oleh pihak sekolah, instansi pemerintah maupun lembaga-lembaga non-pemerintah. Pertumbuhan jumlah Kelompok Ilmiah Remaja (Youth Science Club) dan komunitas-komunitas remaja ilmiah dapat menjadi tolak ukur bahwa sains dapat menjadi salah satu wadah positif bagi pengembangan minat remaja. Selain itu bermunculan pula kompetisi-kompetisi ilmiah yang diikuti para peneliti muda tingkat nasional maupun internasional. Sebut saja untuk tingkat nasional, Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR), National Young Inventor Awards (NYIA), Olimpiade Sains Nasional (OSN), atau Olimpiade Penelitian Siswa Inonesia (OPSI). Sedangkan untuk tingkat internasional, siswa Indonesia telah sering berpartisipasi dalam ajang Intel International Science and Engineering Fair (IISEF) dan International Exhibition for Young Inventor (IEYI). Ajang kompetisi ilmiah yang terbuka untuk publik ini adalah salah satu bentuk kerjasama sinergis Indonesia dengan dunia internasional terhadap pengembangan kreativitas dan inovasi remaja di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Eventually, doing youth innovation is not merely a utopia. However, their creativity does not merely relate to their innocent and spontaneity of their childhood. As Dr. Rollo said Youth creativity should be married to the passion of the adult human being, which is a passion to live beyond ones death.



Disinilah peranan pemerintah, keluarga, lingkungan sosial maupun peranan swasta diharapkan mampu memberikan dukungan terhadap remaja-remaja Indonesia untuk terus mendalami sains dan iptek dengan memberikan fasilitas bimbingan, dukungan moril maupun materil serta penghargaan yang tepat bagi pengembangan inovasi remaja.



about author

Yutainten M. Commun

198601312008012002

Subbagian Fasilitasi Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher