Blog Sivitas

Hampir satu dasawarsa saya mengabdi sebagai Humas Pemerintah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Suasana yang saya rasakan sangat nyaman, bahkan terlalu nyaman. Namun itu justru membuat saya menjadi penasaran dengan masa depan Humas Pemerintah Indonesia. Kali ini saya ingin berbagi pandangan pada pembaca, tentang apa yang ada dibenak saya.

Menjadi pegawai negeri sipil (PNS) itu tidak mudah, apalagi bekerja di posisi Humas yang dituntut untuk professional. Lalu, apa yang sebenarnya harus dimiliki personil Humas Pemerintah

Ada empat hal yang (menurut saya) harus ada dalam jiwa seorang Humas Pemerintah. Empat hal tersebut adalah Peluang, Passion, Prestasi, dan Kreatif (P3K).

Hal pertama adalah: Peluang. Mampu membaca dan menangkap peluang adalah penting bagi Humas Pemerintah. Termasuk peluang karir. Para personil Humas Pemerintah sudah ditawarkan sebuah jalur karir, yaitu Fungsional Pranata Humas. Sayangnya, fungsional ini, (mayoritas) termasuk perangkatnya, belum bekerja sesuai dengan yang diharapkan.

Berdasarkan hasil interaksi saya dengan rekan-rekan sesama Humas Pemerintah di Indonesia, sebagian besar dari mereka berpendapat bahwa jalur Fungsional Pranata Humas sulit untuk ditempuh. Angka kredit yang kecil, tim penilai yang dianggap tidak memahami isi petunjuk teknis (juknis), pengusul yang kecewa karena angka usulan mereka dipangkas penilai tanpa keterangan apa yang harus diperbaiki, sulit mencari pekerjaan yang sesuai dengan butir-butir dalam juknis, komunikasi yang tidak efektif di internal institusi, kebingungan bertanya pada siapa, adalah beberapa alasan mereka urung bergabung menjadi Pejabat Fungsional Pranata Humas atau malah harus terpaksa gugur.

Kaitannya dengan peluang, alasan-alasan tersebut harusnya dihadapkan pada optimisme. Pekerjaan sebagai Pranata Humas adalah pekerjaan yang sarat dengan aktivitas komunikasi. Bagi saya, tidak ada tindakan manusia setiap harinya yang tidak berkaitan dengan komunikasi. Dengan demikian, tidak ada satupun butir dalam juknis yang tidak bisa dibuktikan dengan dokumen (bukti fisik). Peluang sukses terbuka lebar bagi orang-orang yang fokus.

Hal ke dua, ijinkan saya meminjam istilah asing, yaitu Passion. Passion yang dalam hal ini saya artikan sebagai gairah, semangat, dan keinginan besar seorang Humas Pemerintah. Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa semangat kerja perlu dirangsang oleh upah kerja yang berimbang. Demikian juga dengan Pranata Humas Indonesia. Semangat untuk melayani masyarakat masih lemah dirasakan publik, sehingga tidak perlu heran jika pendapat umum mengatakan bahwa kinerja PNS di negeri ini buruk.

Passion bekerja menjadi sangat penting dan perlu dijaga setiap saat. Penghasilan sebagai PNS tidak bisa menjadi andalan utama. Untuk itu, semangat mempelajari hal baru, keterampilan dan pengetahuan baru (khususnya bidang komunikasi/ kehumasan) harus dipupuk dan dipelihara dalam jiwa Humas Pemerintah. Manfaatnya sudah tentu banyak dan jika diimplementasikan dengan baik dan benar (tidak melanggar aturan institusi) pastinya menjadi peluang bertambahnya pendapatan, di luar pendapatan pokok. Misalnya, diminta menjadi MC oleh unit lain, menjadi narasumber, juri, moderator, dan sebagainya.
Hal lain yang harus dimiliki Humas Pemerintah selanjutnya adalah: Prestasi. Sebuah kata yang sederhana dan relevan dengan citra diri, reputasi, bahkan kepercayaan (trust). Bagi saya, seorang Humas Pemerintah yang professional harus berprestasi. Dengan prestasi, kita termotivasi untuk menjaga kredibilitas diri, nama baik, dan pada akhirnya bermuara pada dampaknya, yaitu kepercayaan publik terhadap lembaga.

Meraih prestasi memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh komitmen, kedisiplinan, dan keuletan. Karena itulah, prestasi tidak bisa diraih secara instant. Meraihnya mudah bila didasari niat tulus untuk membuat diri dan lingkungan kita menjadi lebih baik, namun menjadi susah bila kita tidak pernah mau menerima kritik dari orang lain.

Walaupun sering dikaitkan dengan hadiah berupa piala, piagam atau sertifikat, nyatanya prestasi tidak selalu sarat dengan symbol-simbol tersebut. Prestasi tidak selalu kemenangan di atas panggung, tetapi bisa diartikan sebagai sebuah kemenangan yang lebih hakiki: kepuasan batin.
Berani berkompetisi merupakan sebuah prestasi. Berani mencoba suatu hal baru dan menghasilkan inovasi, itu juga prestasi.

Hal terakhir tetapi bukan yang paling akhir yang harus dimiliki Humas Pemerintah adalah sikap kreatif. Menciptakan pekerjaan adalah hal kreatif. Sikap ini sejalan dengan semangat reformasi birokrasi, di mana setiap PNS harus dapat mempertanggungjawabkan pekerjaannya dan mencatatnya dalam catatan harian (logbook).

Humas Pemerintah (sebenarnya) adalah unit atau personil yang paling dibutuhkan lembaga, tidak hanya jika ada kegiatan atau seremoni (menjadi pembawa acara, petugas protokol, memotret, mendampingi media, menulis berita, dan yang paling ngetop: mengkliping, ataupun tugas-tugas teknis lainnya). Lebih dari itu, personil Humas Pemerintah seyogyanya memiliki kemampuan menganalisis, mengevaluasi, menyusun strategi komunikasi institusi, literasi media, dan sebagainya.

Sayangnya, pada umumnya Humas Pemerintah di Indonesia dengan berbagai tuntutan untuk menjadi profesional, belum didukung oleh levelnya dalam struktur organisasi. Selain itu, dalam posisi krisis, Humas Pemerintah lebih sering sibuk di dapur ketimbang tampil di media. Namun itu masih jauh lebih baik ketimbang institusi pemerintah yang lupa (secara sadar atau tidak) keberadaan Humasnya ketika krisis reputasi institusi melanda.

P3K yang telah lama kita kenal sebagai singkatan dari Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan nampaknya menjadi judul yang relevan dengan kondisi Humas Pemerintah kita. Humas Pemerintah perlu ditangani secara khusus untuk mencapai sebuah level: Profesional!

about author

Dyah Rachmawati Sugiyanto M.I.Kom

198307102005022001

Biro Kerja Sama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher