Blog Sivitas

Tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena internasional kontemporer ditandai dengan semakin terintegrasinya berbagai aspek kehidupan manusia secara ekonomi, politik mapun sosial dan budaya dalam kerangka besar bernama globalisasi. Fenomena globalisasi telah memunculkan bentuk hubungan yang interconnection dan interdependence antar negara. Sebagai akibatnya, isu-isu global kontemporer suatu negara semakin meluas hingga kepada isu-isu perubahan iklim, pemanasan global, kemiskinan, kejahatan transaksional, maupun kedaulatan suatu negara.



Dalam hal ini, fenomena globalisasi membawa perubahan yang signifikan terhadap kegiatan ekonomi internasional, kedaulatan otonomi suatu bangsa, kerjasama politik luar negeri maupun daya saing ekonomi dan ketahanan setiap bangsa. Perubahan tersebut ditopang oleh banyak faktor antara lain kemajuan teknologi informasi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pertumbuhan inovasi dan invensi, jalur transportasi, komunikasi dan ketersediaan infrastruktur yang memadai. Dampaknya, pertumbuhan suatu negara menjadi semakin bergantung satu sama lain dalam lingkup global. Ini berarti bahwa kebijakan suatu negara akan sangat berpengaruh terhadap kebijakan negara lain. Oleh karenanya, suatu negara tidak lagi dapat mengambil kebijakan nasional tanpa mempertimbangkan lingkungan global.



Dalam forum G20 2014 yang dilaksanakan di Brisbane pada tanggal 16 November 2014, para pemimpin bangsa telah berdiskusi mengenai pengaruh dari global ekonomi, ketersediaan energi dan efek terhadap perubahan iklim sebagai isu global yang perlu dipecahkan bersama-sama. dalam kesempatan ini, presiden RI telah menyampaikan pandangannya mengenai rencana pembangunan Indonesia selama lima tahun ke depan yang sejalan dengan visi negara-negara G20, untuk melakukan pertumbuhan yang kuat, berkelanjutatan, seimbang dan inklusif.
Keikutsertaan Indonesia dalam G20, telah menunjukkan posisi negeri ini di mata dunia internasional. Sebagai emerging country, fokus pertumbuhan Indonesia tidak hanya meliputi kontinuitas pembangunan di sector ekonomi, tetapi diiringi upaya memperkuat politik luar negeri dengan penegakan jati diri bangsa, supremasi hukum, serta gerakan revolusi karakter bangsa. Oleh karena itu, salah satu program pembangunan Indonesia adalah berupaya untuk meningkatkan kemandirian yang mensejahterakan dengan berfokus kepada tiga hal utama; daulat pangan berbasis kerakyatan, daulat energy berbasis kepentingan nasional, dan restorasi ekonomi maritim Indonesia.



Beliau menegaskan bahwa melalui Nawcita atau 9 agenda prioritas, pemanfaatan Ilmu pengetahuan dan teknologi dimaksudkan untuk memberikan kontribusi signifikan kepada masyarakat untuk meningkatkan daya saing bangsa di dunia internasional. Untuk mendukung hal tersebut penguatan teknologi melalui kebijakan penciptaan system inovasi nasional, maupun memprioritaskan pembiayaan penelitian yang menunjang iptek adalah upaya-upaya yang dilakukan selama lima tahun ke depan.



Dalam pencapaian target-target pembangunan tersebut, peranan ilmu pengetahuan dan teknologi masih belum terasa kuat dalam mempengaruhi kebijakan-kebijakan pembangunan nasional. Hal itu dikarenakan belum terkoordinasinya upaya-upayan pemerintah dalam melakukan koordinasi kegiatan-kegiatan penelitian maupun koordinasi Iptek di kalangan komunitas sains, pemangku kepentingan maupun pembuat keputusan yang menggunakan ilmu pengetahuan sebagai gerakan nasional untuk memperkokoh landasan pembangunan bangsa. Pertimbangan-pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan pembangunan nasional sudah seharusnya tidak lagi hanya berpijak pada ekonomi yang berbasis sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia semata, tetapi secara bertahap pemerintah harus berani mengambil keputusan berdasarkan masukan berbasis ilmu pengetahuan dalam perencanaan pembangunan nasional Indonesia. Secara nyata pemerintah Indonesia telah menekankan betapa pentingnya jalur koordinasi antara lembaga-lembaga penelitian dan universitas-universitas di Indonesia dengan menggabungkan Kementerian Riset dan Teknologi dengan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi.



Pada akhirnya, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi diharapkan tidak hanya dalam bentuk pengembangan technology capacity di ruang lingkup local, akan tetapi dapat meningkatkan technology collaborative project dan national scientific innovation untuk menghasilkan well-coordination system, technology strength, self-reliance, dan economic security untuk menuju jalan perubahan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan kepribadian.


about author

Yutainten M. Commun

198601312008012002

Subbagian Fasilitasi Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Komentar (1)

  • Oki Rosgani

    17 Februari 2015, 12:05:55

    Wow nice article...
    BTW kapan nih di LIPI ada pelatihan open source (Linux) gratis bisa manggil Pak Onno W Purbo atau para praktisi IT yang lain yang mungkin bisa meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan software open source dan meninggalkan software bajakan :). Saya siap memmbantu jika memang ada acara serupa. Salam hangat. :)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher