Blog Sivitas


Tak terasa tahun 2014 telah berlalu tanpa saya pernah menulis satupun artikel di blog ini...;-(. Berbagai kesibukan yang mendera sebagai struktural menyita waktu dan konsentrasi tentu menjadi alasan yang tepat untuk saya saat ini, meski terasa klasik seperti kaset musik yang sudah terlalu sering diputar. Maaf kalau ada generasi dekade terkini yang gagal paham karena sejak lahir hanya mengenal cakram optik seperti CD / DVD, atau bahkan hanya tahu tongkat memori yang besarnya hanya seujung kelingking...;-). Sebagai struktural di LIPI sejak akhir tahun 2012 tentu saya harus mengalokasikan sebagian besar waktu dan tenaga untuk memikirkan orang lain dan bukan sekedar diri sendiri seperti diistilahkan oleh senior kami Pak Djusman Sajuti, mantan Wakil Kepala LIPI. Tentu saya selalu berusaha memenuhi amanah tersebut, meski saya sendiri kurang yakin apakah sejauh ini telah mengurus lk. 900 personil di bawah kedeputian saya dengan baik !!


Apalagi ditambah dengan moto pemerintah baru JKW-JK, kerja... kerja... kerja..., lengkap sudah tuntutan publik kepada pamong praja RI termasuk saya. Tentu ini tuntutan yang sangat wajar, rasional dan seharusnya ada sejak awal Indonesia merdeka. Saya selalu berusaha menterjemahkannya, sejak awal menjadi struktural di penghujung pemerintahan SBY pada akhir tahun 2012, secara ringkas menjadi : tugas manajemen adalah menghilangkan beragam alasan yang membuat personil dibawahnya tidak bisa bekerja optimal. Satu-persatu alasan yang menjadi kendala dalam bekerja harus diurai dan dihilangkan, minimal dikurangi dampaknya. Untuk itu seringkali saya masuk sampai bagian yang sangat detail, misal perencanaan dan alokasi anggaran. Semua ini tidak lain dalam konteks untuk menghilangkan alasan dari akar masalahnya. Eh, kok jadi ngomomg ngelantur...


Eniwe, kembali ke topik utama artikel ini. Intinya pada penghujung bulan Januari, mendadak saya
dikejutkan dengan pemeringkatan baru yang dilansir oleh Webometrics, Ranking of scientists in Indonesian Institutions according to their GSC public profiles [1]. Selama ini saya selalu memantau peringkat LIPI di Webometrics, khususnya yang memberi peringkat pada lembaga penelitian semacam LIPI yaitu Webometrics for Researc Centers. Meski sejak dulu secara personal saya kurang suka dengan berbagai peringkat, termasuk beragam peringkat di kelas, secara kelembagaan beragam indikator eksternal semacam ini sangat penting bagi lembaga publik seperti LIPI. Tentu saja selama kita bisa memahami substansinya dengan benar dan secara proporsional, untuk kemudian memanfaatkannya sebagai salah satu dasar pengambil kebijakan. Karena, sesuai karakteristik alaminya, penilaian yang valid adalah yang dilakukan oleh pihak eksternal independen. Dalam dunia ilmiah hal ini sudah menjadi standar dan norma global sejak awal munculnya budaya ilmiah. Sebaliknya, pada era internet saat ini muncul budaya instan yang merusak tatanan dan standar ilmiah global seperti aneka jurnal predator yang pernah dibahas di tulisan Jurnal Predator : siapa memangsa apa . Pada kasus peringkat Webometrics untuk lembaga penelitian, dimana LIPI memperoleh peringkat lumayan (cek LIPI @ Webometrics), peringkat ini kami pakai sebagai indikator seberapa jauh LIPI telah memanfaatkan internet untuk mendiseminasikan beragam informasi ilmiah ke publik. Peringkat ini tentu bukan menunjukkan kapasitas dan kompetensi LIPI sebagai pelaku kegiatan riset secara global. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa secara alami peningkatan kapasitas dan kompetensi riset berbanding lurus dengan peringkat, tetapi tidak berlaku untuk sebaliknya...;-(. Hal-hal semacam ini biasa disebut sebagai scientometrics, dan telah menjadi sebagian kecil hobi saja sejak 2005. Salah satu tulisan populer yang menjelaskan model yang saya kembangkan untuk mengukur indikator kinerja personil dan lembaga ilmiah adalah Perlukah Kinerja Ilmiah Diukur .


Untuk melihat peringkat yang berkorelasi dengan kapasitas dan kompetensi riset diperlukan indikator yang lain. Yang selama ini sering menjadi acuan global salah satunya adalah ScimagoIR. Dalam konteks ini peringkat terbaru yang dilansir diatas cukup mengejutkan, karena Tim Webometrics masuk ke ranah indikator substansi riset. Peringkat tersebut (syukurlah) mencantumkan 14 sivitas LIPI dalam peringkat nasional sebagai berikut : [1]




























































































PeringkatNama (satuan kerja)Indeks-HTotal sitasi
1Suharyo Sumowidagdo (P2 Informatika, CPNS 2013)9034861
31Muhammad Danang Birowosuto (P2 Fisika, CPNS 2014)15558
59L. T. Handoko (P2 Fisika)111352
60Mien A. Rifai (P2 Biologi, pensiun)111295
71Gono Semiadi (P2 Biologi)11377
75Anto Tri Sugiarto (P2 Metrologi)10708
80Agus Haryono (P2 Kimia)10457
98Heru Santoso (P2 Geoteknologi)9414
106Sulaeman Yusuf (P2 Biomaterial)9202
114Ratih Pangestuti (P2 Oseanografi, CPNS 2013)8386
149Rosichon Ubaidillah Ubaidillah (P2 Biologi)7184
156Amir Hamidy (P2 Biologi, PNS 2005)7150
157Heru Susanto (P2 Kimia, PNS 2005)7149
199Djunijanti Peggie (P2 Biologi)5273



Selain daftar diatas, pada peringkat ke 200 tercantum nama Widodo Pranowo dengan indeks-H 5 dan total sitasi 210, dan tertulis berafiliasi dengan LIPI. Informasi ini salah karena yang bersangkutan adalah sivitas di salah satu pusat penelitian dibawah Balitbang Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).


Peringkat diatas adalah Edisi I yang dikeluarkan lebih kurang akhir Februari 2015. Ternyata tidak lama kemudian pada minggu pertama Maret 2015 muncul Edisi II dengan peringkat yang cukup banyak berubah :[1]




























































































PeringkatNama (satuan kerja)Indeks-HTotal sitasi
1Suharyo Sumowidagdo (P2 Informatika, CPNS 2013)8935062
9Danny Hilman Natawidjaja (P2 Geoteknologi)222490
24Bambang Widoyoko Suwargadi (P2 Geoteknologi)161251
40Muhammad Danang Birowosuto (P2 Fisika, CPNS 2014)15562
68L. T. Handoko (P2 Fisika)111355
69Mien A. Rifai (P2 Biologi, pensiun)111315
87Gono Semiadi (P2 Biologi)10387
96Anto Tri Sugiarto (P2 Metrologi)10714
100Agus Haryono (P2 Kimia)10460
131Heru Santoso (P2 Geoteknologi)9419
158Enny Sudarmonowati (P2 Bioteknologi)9209
160Sulaeman Yusuf (P2 Biomaterial)9209
174Ratih Pangestuti (P2 Oseanografi, CPNS 2013)8406
186Munasri (P2 Geoteknologi)8270

Tidak hanya perubahan peringkat, tetapi juga melar menjadi 500 tertinggi, dari sebelumnya hanya 200 peringkat tertinggi. Mungkin ini perlu agar sebagian personil yang terlempar ke peringkat di bawah 200 masih bisa muncul sehingga bisa dilihat perbedaannya. Peringkat saya sendiri turun dari peringkat 59 ke 68 ! Sangat wajar..., karena masih masuk peringkat saja sudah bagus. Bagaimana tidak, karena dalam 2-3 tahun terakhir saya hanya mengalokasikan waktu lebih kurang 10 persen saja untuk penelitian. Selebihnya waktu habis mengurus orang lain sesuai tugas sebagai struktural...;-(. Yah, tak apa karena tugas utama saya sekarang adalah bagaimana membuat sebanyak mungkin personil di bawah saya bisa masuk peringkat semacam ini ! Tentu sangat menarik untuk melihat peringkat tahun depan...


Pertama, tentu kita perlu mencermati substansi dari peringkat edisi pertama ini. Sebagian poin penting telah dituliskan di situs Webometrics [1], yaitu :


  • Peringkat ini berbasis pada data dari profil di Google Cendekia, sehingga belum tentu mencakup seluruh peneliti yang seharusnya masuk. Sebagai contoh dari LIPI belum muncul nama Leonardus Broto Sugeng Kardono dari P2 Kimia LIPI yang mestinya cukup aktif.
  • Google Cendekia mengumpulkan data secara otomatis dengan segala keterbatasannya, meski kepintarannya terus ditingkatkan dari waktu ke waktu. Kelemahan ini nampak terutama untuk pengumpulan data sitasi. Hal ini bisa diperbaiki bila pemilik profil rajin melakukan perbaikan secara manual.
  • Tercampurnya beragam jenis "publikasi", baik yang berupa karya tulis ilmiah (KTI) maupun non-KTI. Termasuk tidak terseleksinya sumber publikasi, baik yang terindeks global maupun tidak. Hal ini cukup menimbulkan kerancuan karena publikasi apapun selama bisa diakses online akan terindeks oleh mesin pencari Google.

    Meski untuk beberapa kasus dari personil peringkat atas biasanya publikasi yang diindeks cukup selektif karena hanya memiliki publikasi terindeks global. Selain itu pemakaian indeks-H sebagai peringkat, dan bukan total sitasi, membuat pengaruh poin ini terhadap peringkat sangat minim [2].


Yang lebih penting dari mendiskusikan kelemahan dan / atau kelebihan peringkat ini, adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan peringkat ini sebagai landasan khususnya bagi pengambil kebijakan Khususnya untuk kalangan di bidang keteknikan, seperti sivitas di kedeputian saya, dengan karakteristik tidak memiliki modal lokal dan harus berkompetisi global (hanya) bermodal brainware personal. Berbasis peringkat ini bisa disebutkan beberapa poin utama :


  • Sivitas muda, bahkan para CPNS, LIPI memiliki arti penting sebagai motor pemercepat peningkatan kapasitas dan kompetensi riset secara global. Sebaliknya kebijakan rekrutmen generasi muda yang (minimal) telah menyelesaikan S3 sangat strategis, meski saat ini pilihan belum banyak. Tetapi dari peringkat ini jelas bahwa kebijakan merekrut peneliti muda yang telah mencapai kematangan tertentu perlu dilanjutkan dan diprioritaskan.
  • Keterlibatan dan dukungan berkiprah dalam kolaborasi global sangat penting. Karena kolaborasi global, khususnya yang masuk kategori big science, bisa menjadi penghela gerbong kegiatan secara keseluruhan. Fenomena ini jelas terlihat pada kasus S. Sumowidagdo yang selama beberapa tahun terakhir terlibat di Kolaborasi CMS di CERN, dan saat ini memimpin Tim Indonesia di Kolaborasi ALICE di tempat yang sama.
  • Peringkat peneliti Indonesia secara global masih sangat rendah, hal mana mencerminkan level kapasitas dan kompetensi riset kita. Meski untuk mengetahui hal ini sebenarnya tidak perlu ada indikator apapun karena fenomena ini sedemikian kasat mata.

    Untuk itu perlu dilakukan beragam kebijakan khusus untuk mempercepat peningkatan kapasitas dan kompetensi riset secara global. Salah satu yang utama adalah internasionalisasi aktifitas dan keluaran riset.

    Internasionalisasi disini bukan dalam bentuk seperti "menginternasionalkan jurnal lokal" (lihat tulisan Internasionalisasi jurnal lokal : perlukah !), tetapi membuat keluaran riset bisa diterima secara global. Yaitu bagaimana meningkatkan kualitas riset agar keluarannya bisa dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah global, prosiding konferensi yang diselenggarakan bisa diterbitkan oleh penerbit global dan seterusnya.
  • Bagaimana menyesuaikan beragam regulasi terkait (Juknis Fungsional Dosen, Peneliti, dll) agar selaras dengan standar dan norma ilmiah global. Sehingga tidak hanya akan memotivasi peneliti yang bekerja sesuai standar global, juga mencegah munculnya "kesenjangan" gelar formal dengan realitas komunitas ilmiah yang ada.



Jadi..., tunggu apa lagi, kita semua harus menatap masa depan dan terjun bersama untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi riset ! Tugas manajemen (termasuk saya) untuk "menghilangkan alasan" untuk tidak mau / mampu berkompetisi global...


Referensi :


  1. Ranking of scientists in Indonesian Institutions according to their GSC public profiles, http://webometrics.info/en/node/96 (Januari 2015).
  2. J. E. Hirsch, "An index to quantify an individuals scientific research output", PNAS 102 (2005) 46.

about author

Dr. Laksana Tri Handoko M.Sc.

196805071987121001

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Komentar (7)

  • Laksana Tri Handoko

    03 April 2015, 15:18:10

    Bersamaan dengan berita duka meninggalnya Bpk. L. Broto S. Kardono, yang saya singgung diatas, pada 1 April 2015 saya diinformasikan profil Google Cendekia beliau yang bisa diakses di : http://scholar.google.co.id/citationsuser=tg-MmBoAAAAJ. Dari situ bisa dilihat indeks-h Pak Broto adalah 24 dengan total jumlah sitasi 1.781. Sehingga peringkat kedua diatas seharusnya diduduki oleh beliau...

  • Yustian Rovi Alfiansah

    28 Februari 2015, 18:37:14

    Siap Pak, saya sudah unduh dokumen-dokumen terkait tersebut. Kedeputian IPT paling komplit dalam memberikan panduan. Mudah-mudahan panduan tersebut bisa diadopsi di kedeputian yang lain dan menginisiasi munculnya kebijakan/keputusan Kepala LIPI terkait pengembangan SDM LIPI.

  • Laksana Tri Handoko

    28 Februari 2015, 10:45:29

    Maaf, tautan terakhir diatas salah, untuk PENUGASAN MAGANG RISET KE LUAR NEGERI yang benar adalah :

    http://intra.lipi.go.id/database2.cgicetakprosedur&&&&1416237949&4&1036006415

  • Laksana Tri Handoko

    28 Februari 2015, 10:40:44

    Sebagai tambahan, tautan diatas untuk prosedur kegiatan magang yang dibiayai oleh dana internal (DIPA). Untuk kegiatan pasca doktoral yang dibiayai oleh pengundang / mitra bisa dicek di :

    http://intra.lipi.go.id/database2.cgicetakprosedur&laks002&1136661998&1036006415&1416237949&4&1036006415

  • Yustian Rovi Alfiansah

    28 Februari 2015, 02:49:58

    Terima kasih atas penjelasannya Pak. Setelah saya mengunjungi laman yang Bapak berikan, saya memperoleh banyak informasi penting yang telah diposting oleh Pak Deputi maupun staf. Saya sangat beruntung bisa memperoleh informasi tersebut. Mohon ijin untuk menggunakan dokumen-dokumen yang telah disusun oleh Kedeputian IPT sebagai bahan diskusi.
    Terima kasih atas perhatian yang Bapak berikan.

    Hormat saya,
    Yustian Rovi A

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher