Blog Sivitas

Seiring bertambah usia seorang anak, tentu tingkat emosional juga akan berubah. Saat masih menjadi anak-anak pada umumnya seorang anak akan begitu dekat dengan orangtua bahkan selalu menceritakan hal-hal kecil mereka. Hubungan dengan kedua orang tua pun terasa begitu hangat. Setiap hari libur dan akhir pekan, baik ayah maupun ibu pasti mengajak anak-anaknya untuk berlibur bersama entah itu piknik di kebun raya, bermain di pantai atau sekedar bermain di taman bermain. Hari-hari pun diwarnai dengan riuh canda serta tawa bersama. Saat kecil, kebahagiaan sungguh terlihat begitu sederhana. Apapun yang ingin kita lakukan, kita hanya perlu mengatakannnya dan kedua orangtua pun akan mengusahakan. Namun, lambat laun seorang anak akan bertambah usia dan tumbuh menjadi dewasa. Terkadang hal inilah yang kemudian menjadi batasan hubungan dengan kedua orangtua.

 

Tidak kita sadari, seiring kita tumbuh dewasa kita mulai merasa sibuk dengan kesibukan dan merasa bahwa dekat orangtua hanya pantas disaat kita masih anak-anak. Menginjak dewasa membuat kita mulai mengenal rasa malu dan canggung bila harus kembali dekat dengan orangtua terutama ibu. Kebanyakan seorang anak akan berpikir bahwa jika mereka masih begitu menempel dengan kedua orangtua itu bisa menyebabkan mereka dikatakan sebagai anak manja. Padahal sewaktu dulu, ibu pasti sering memberikan anak-anaknya kata bijak ibu sebagai sebuah nasehat agar bisa menjadi anak baik. Tetapi karena adanya rasa malu dan canggung, komunikasi dalam keluarga pun kian hari kian menurun. Semula saling membangun percakapan, kini hanya bertegur sapa.

 

Bila hubungan antara anak dan kedua orangtua terasa begitu dingin, tentu baik anak maupun orangtua tidak akan dapat memahami atau mengerti satu sama lain. Bahkan, seorang anak pun akan cenderung menjadi anak yang cuek, pendiam dan tertutup. Alhasil, orangtua pun tidak akan bisa tahu seberapa jauh tumbuh kembang anak dengan baik. Hal seperti ini tentu tidak akan baik untuk kondisi psikologi anak. Di sisi lain, bila seorang anak begitu tidak perduli dengan kedua orangtuanya, hal ini akan menambah beban kedua orangtua dan bisa mempengaruhi kondisi kesehatan mereka. Selain itu, kedua orang tua tidak akan bisa mencurahkan kasih sayangnya secara penuh. Kondisi seperti ini hanya akan membangun kesalah pahaman saja. Lantas bagaimanakah seharusnya seorang anak dan orang tua harus membangun komunikasi yang sehat?

 

Komunikasi yang sehat bisa dibangun dengan cara menentukan cara bicara yang tepat. Bila seorang anak sudah tumbuh menjadi dewasa, orangtua bisa mencoba untuk membangun komunikasi yang dewasa pula. Tidak perlu untuk memanjakan mereka, karena itu hanya bisa membuat mereka malu dan tidak nyaman. Sesekali, cobalah untuk adakan acara keluarga dimana hal ini bisa membangun keakraban. Biasakanlah untuk melakukan makan malam atau sarapan bersama. Kemudian isi dengan topik-topik ringan mulai dari menanyakan kesibukan, bagaimana hari mereka dan apa rencana mereka di masa depan. Jangan membahas masalah pribadi. Nanti bila seorang anak sudah merasa nyaman, ia akan menceritakan masalah pribadi mereka secara langsung kepada orangtua.

 

Yang terpenting dalam membangun komunikasi adalah untuk bersikap santai agar tidak ada rasa gugup baik pihak anak maupun orangtua. Di zaman ini, kita tidak perlu menjadi orangtua yang otoriter, jadilah teman untuknya. Dengan begitu, seorang anak akan menjadi lebih dekat dengan orangtua. Tidak lupa juga, sesekali orangtua bisa memberikan nasehat berupa kata mutiara ibu disaat masa-masa sulit yang mereka lalui agar si anak mendapat dukungan secara moral. Bangunlah hubungan yang apa adanya dan coba saling mengerti maka akan terbangun sebuah keluarga yang harmonis.

about author

Badru Taufik

197201142009101001

Biro Umum

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher