Blog Sivitas


Penggunaan Pati singkong untuk pembuatan kantong kemasan ramah lingkungan (biogederable bag) menjadi pilihan solusi untuk mengatasi masalah lingkungan akibat penggunaan kantong plastik yang sudah terlalu banyak. Namun,  meskipun kantong kemasan pati singkong ini telah berhasil diproduksi dan diterima pasar, terutama pasar luar negeri, ada dua faktor utama yang masih perlu perhatian khusus pemerintah yaitu kestabilan kualitas bahan baku dan dukungan dari sisi kebijakan industrinya (Ahmad Fathoni, 2019).

Penelitian dan pengembangan terkait kantong ramah lingkungan dan kebijakan ekonomisnya sangat penting untuk dilakukan.  Pemerintah harus membangun kebijakan industri sebagai usaha mencari solusi bahan bakunya. Selain itu, pemerintah perlu membangun kebijakan yang mendorong seluruh masyarakat mau menggunakan biodegradable bag pada semua traksaksi ekonomi yang menggunakan kantong di Indonesia.

Masyarakat cerdas masa depan adalah mereka yang bisa mengkombinasikan antara kecanggihan teknologi dan keseimbangan  hidup dengan  alam. Saat ini hampir separuh manusia dunia diperkirakan belum sadar betapa pentingnya menjaga kelestarian hidup dengan alam  sebagai usaha  menjaga kualitas kehidupan manusia itu sendiri.   Tidak  banyak masyarakat  menyadari bahwa kesalahan  tindakan  saat ini bisa berakibat fatal bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya di bumi di masa depan.

Berdasarkan data The World Bank  tahun 2018, sejumlah 87 kota di pesisir Indonesia memberikan  kontribusi sampah ke laut sekitar 1,27 ton, dengan  komposisi sampah plastik 9 juta ton dan sekitar 3,2 juta ton  adalah sampah sedotan  plastik.  Senada, peneliti pusat penelitian oseanografi LIPI, M. Reza Cordova, menyatakan berdasarkan hasil risetnya tahun 2018  diperkirakan ada sekitar 100 ribu hingga 400 ribu ton plastik per tahun sampah milik masyarakat masuk ke laut, yang bila tidak ditangani dengan benar, maka tahun 2050 diprediksi jumlah sampah plastik akan melebihi jumlah ikan, plankton, mengancam kehidupan laut, dan juga manusia. (sumber :https://tekno.tempo.co/read/1155151/lipi-400-ribu-ton-sampah-plastik-masuk-ke-laut-tiap-tahun).  Tidak jauh berbeda, Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT), Ir. Makmuri, MM, menerangkan, Bantar Gebang sebagai tempat penampungan sampah di Jakarta dengan luas saat ini 318 Hektar sudah tidak mampu menampung sampah lebih banyak lagi. Bantar Gebang menerima kurang lebih 8000 ton sampah perhari,  yang artinya jika tidak ada usaha dari sisi kebijakan  maupun teknologi dalam menanggulangi penumpukan sampah tersebut, maka 2020, diperkirakan sampah  Bantar Gebang akan menjadi setinggi 30 Meter.

Menyikapi kondisi ini, maka perlu solusi dari sisi kebijakan dan peraturan formal yang mengikat masyarakat untuk dilaksanakan, misalnya peraturan kewajiban para pelajar di semua tingkatan sekolah membawa botol minum pribadi ke sekolah, atau kewajiban hidangan tanpa air kemasan mineral plastik di semua perkantoran, dimulai dari instansi pemerintah, sekolah, dan universitas, secara bersama-sama melaksanakan untuk menanggulangi permasalahan sampah.

Menurut Prof. Dr. Ir. Gusti M Hatta, MS, dalam buku Ekonomi Hijau: Green Economy, ditulis oleh Melia Famiola, dkk, 2011, menyatakan bahwa Green Economy adalah merupakan keniscayaan sebagai solusi dari ancaman kehancuran peradaban yang disebabkan oleh pencemaran dan kerusakan lingkungan termasuk termanifestasikan dalam perubahan iklim dan pemanasan global.

Tidak hanya itu, isu  kelestarian alam  juga masuk dalam dalam 17 tujuan  pembangunan berkelanjutan dunia atau  SDGs (Sustainable Development Goals ) yang ditentukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai agenda dunia pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi yang diterbitkan pada 21 Oktober 2015, sebagai agenda pembangunan bersama hingga tahun 2030.

Sebagai negara besar dengan beragam kekayaan sumber daya alam di dalamnya, Indonesia mesti bisa memproteksi diri dari kerusakan alam. Peneliti LIPI, Siti Nuramaliati Prijono, menyatakan Indonesia sebagai salah satu negara Mega Biodiversity dengan keanekaragaman hayati serta tingginya tingkat endemisme dan organisme dalam struktur geografi bisa menjadi modal dasar pembangunan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa LIPI sebagai institusi penelitian terbesar di Indonesia menaruh perhatian serius dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga hal tersebut. (Sumber : http://lipi.go.id/berita/indonesia-negara-mega-biodiversity-di-dunia-/5181)

Namun tidak cukup sampai disitu, membangun kesadaran  akan  pentingnya menjaga kelestarian hidup dengan alam  ini  harus dapat disebarluaskan tidak saja kepada seluruh masyarakat dunia, tetapi juga masyarakat Indonesia, dimulai oleh institusi pemerintahnya secara menyeluruh dan berkesinambungan dalam bentuk  kebijakan yang dituangkan secara jelas dan rinci dalam  aturan  hukum formal seperti  undang-undang atau peraturan pemerintah,  kemudian diturunkan juga dalam bentuk peraturan instansi/lembaga atau organisasi dibawahnya untuk dilaksanakan.

Peneliti Puslit Bioteknologi LIPI, Ahmad Fathoni tahun 2019, menyatakan penggunaan pati singkong sebagai bahan baku pembuatan kantong kemasan yang mudah di degradasi alam merupakan salah satu pilihan solusi dalam mengatasi masalah lingkungan akibat penggunaan kantong plastik yang sudah terlalu banyak. Namun, meskipun produk kantong kemasan berbahan pati singkong ini telah banyak diterima oleh pasar, terutama pasar luar negeri, masih ada kendala dalam hal produksi terutama terkait kestabilan kualitas bahan baku dan dukungan pemerintah dalam hal kebijakan industri.

Oleh karena itu, penelitian dan pengembangan terkait produk ini dan kebijakan ekonomisnya sangat penting untuk dilakukan.  Pemerintah harus membangun kebijakan industri yang memudahkan produksi biodegradable bag dan mencari solusi untuk mengatasi masalah bahan bakunya. Selain itu, pemerintah juga harus membangun kebijakan yang mendorong  seluruh masyarakat mau menggunakan biodegradable bag pada semua traksaksi ekonomi yang menggunakan kantong di Indonesia.

Kesimpulannya, sektor industri harus diadvokasi dan didorong oleh pemerintah (bisa dalam bentuk kebijakan/peraturan) agar  mulai beralih memproduksi kantong  organik (non  plastik)  seperti  kertas, kain, daun, atau  bahan  umbi/singkong (penemuan baru),  karena jika tidak ada yang memproduksi kantong plastik maka tentu tidak ada yang akan ada yang menggunakannya karena barang tidak tersedia. (Ayurisya Dominata, Policy Analysis, 2019) 

 

about author

Ayurisya Dominata S.IP.

198608252009122006

Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher