Blog Sivitas

Dewasa ini, kebutuhan akan material hayati sebagai bahan baku pembangunan hunian adalah terus meningkat. Material hayati tersebut diantaranya kayu, bambu, atau material berbahan dasar lignoselulosa lainnya. Namun, kebutuhan ketersediaan bahan bakunya tidak serta merta ada dan tersedia dalam kualitas dan kualitas yang memadai. Hal ini dikarenakan paradigma mengeksploitasi hutan alam masih menjadi paradigma utama tanpa diimbangi kesadaran untuk membangun hutan-hutan pertanaman. Mengapa hutan tanaman? Karena hutan tanaman merupakan paradigma yang terus harus digaungkan sebagai salah satu solusi agar kegiatan eksploitasi hutan alam dapat diminimalisir, selain juga tentunya lahan-lahan marjinal dapat berkembang menjadi lahan produktif. Dalam skala lebih kecil, hutan tanaman dapat direduksi menjadi kebun-kebun pertanaman. Kebun-kebun pertanaman dibangun dalam area luasan yang cukup sesuai dengan kebutuhan bahan baku yang diinginkan dan bertujuan spesifik.

 

Pengembangan sistem silvikultur tanaman

Tujuan dari silvikultur adalah menanam tanaman yang tepat pada lokasi yang tepat yang mampu memapankan tanaman yang ditumbuhkan tersebut dapat tumbuh dengan baik selama periode hidupnya. Tujuan ini diperoleh dengan mengedepankan prinsip pengelolaan (manajemen) silvikultur dengan sebaik-baiknya. Setidaknya ada beberapa parameter pengembangan silvikultur tanaman yang baik yaitu:

1) Lahan

      Lahan/habitat tempat tumbuh merupakan faktor yang sangat krusial bagi pengembangan komoditas suatu tanaman. Hal ini menjadi penting mengingat tiap lahan akan memiliki karakteristik yang unik dan berbeda dengan lahan lainnya. Pada akhirnya, karakteristik lahan ini juga akan mempengaruhi bagaimana kita mengelolanya melalui prinsip silvikultur yang baik sehingga lahan dapat memberikan daya dukung bagi optimalnya hasil komoditas yang kita kembangkan. Beberapa faktor penentu karakteristik lahan antara lain jenis tanah, faktor elevasi dan kemiringan, tingkat kesuburan, faktor material utama penyusun tanah, dan lain sebagainya. Beberapa tahapan kegiatan pengelolaan lahan dalam cakupan rejim silvikultur antara lain:

       1. Pemilihan dan identifikasi lahan. Identifikasi bertujuan mengenal karakter lahan tersebut. Beberapa hal wajib yang dilakukan adalah: mengetahui jenis tanah dan tingkat kesuburan

       2. Pengerjaan lahan. Kegiatan ini bertujuan pada teknis pengeolalaan lahan yang akan dilakukan. Beberapa kegiatan teknis tersebut antara lain: pembersihan lahan, pemasangan batas-batas lahan, pekerjaan penggemburan lahan dan lain sebagainya.

       3. Manajerial pengelolaan lahan sesuai kegiatan penelitian yang akan dilakukan. Kegiatan ini berhubungan erat dengan detail penelitian yang akan dilakukan. Beberapa contoh kegiatan yang dilakuakan antara lain: pembangunan saluran irigasi, kegiatan pemupukan, pengelolaan gulma, pengaturan lubang tanam sesuai kebutuhan penelitian dan lain sebagainya.

2) Komoditi/ tanaman yang akan dikembangkan

      Tanaman yang akan dikembangkan harus memiliki tujuan spesifik tertentu. Ada tanaman yang dikembangkan dengan tujuan penghasil material untuk struktural semisal kayu dan bambu banyak pula tanaman yang dikembangkan untuk tujuan lain semisal bahan baku ekstraksi bioetanol. Contoh-contoh tersebut merupakan segelintir contoh dari sekian banyak tujuan yang harus ditentukan sebelum melangkah menerapkan sistem pengelolaan silvikultur yang baik. Akan berbeda tentunya penerapan sistem silvikultur tanaman untuk tujuan material struktural dengan tujuan lainnya. Hal inilah yang menjadi perhatian dimana tanaman yang akan dikembangkan sangat berperan penting dalam usaha menerapkan rejim silvikultur pengelolaannya. Beberapa tahapan kegiatan pemilihan dan pengelolaan komoditas tanaman yang dikembangkan dalam cakupan rejim silvikultur antara lain:

1. Menetapkan tujuan yang akan diperoleh seperti mendapatkan material alternatif pengganti kayu untuk konstruksi, maka akan dikembangkan bambu.

2. Memilih komoditi yang akan dikembangkan. Tujuan utamanya adalah mendapatkan bibit materi yang unggul siap tanam. Hal ini sangat penting agar mendukung keberhasilan pengembangan komoditas tersebut dimana hasil yang baik disupport oleh materi bibit yang baik pula. Bibit yang baik diantaranya memenuhi persyaratan tidak cacat (sehat), bebas penyakit, tumbuh normal dan berpenampilan baik.

3.  Perawatan bibit unggul komoditas yang akan dikembangkan. Kegiatan ini dilakukan sebelum tanaman dipindahkan ke lahan penelitian. Hal ini mutlak diperlukan agar proses fisiologis tanaman tersebut dapat terjaga dengan baik. Hal-hal yang bisa dilakukan diantaranya: menyiram, memupuk, memberikan kelembaban yang sesuai dengan komoditas tanaman yang akan dikembangkan, dan lain sebagainya.

3) Interaksi antara lahan, tanaman dan lingkungan

      Tidak bisa dipungkiri bahwa alam dan lingkungan akan berinteraksi dengan lahan dan komoditas yang kita kembangkan. Beberapa faktor yang bisa dikedepankan terkait hal ini diantaranya bagaimana mekanisme dan fenomena biosfer terjadi. Intensitas cahaya, curah hujan, kecepatan angin, dan lain sebagainya dapat mempengaruhi penerapan manajemen silvikultur yang akan dilakukan. Beberapa tahapan pengelolaan faktor interaksi ini dalam cakupan rejim silvikultur antara lain:

memastikan faktor kebutuhan air, udara dan cahaya berlangsung baik dalam skala lingkungan mikronya. Hal ini mutlak dilakukan agar semua keberlangsungan proses fisiologis tanaman dan proses yang melibatkan lingkungan serta interaksinya dapat berjalan dengan normal guna mendukung optimalnya pengelolaan rejim silvikultur tanaman ini.

Pengembangan teknologi budidaya tanaman secara konvensional termasuk kultur jaringan

Budidaya tanaman mengambil peran yang sangt penting dalam keseluruhan usaha mendapatkan bahan baku berbasis material hayati. Teknologi budidaya tanaman ini berada pada bagian hulu (awal) dari proses mendapatkan bahan baku unggul. Bahan baku yang dimaksud antara lain seperti kayu, bambu, rotan, dan berbagai materi berlignoselulosa lainnya. Pada intinya, teknologi budidaya tanaman adalah usaha mendapatkan bibit-bibit unggul tanaman yang nantinya akan dikembangkan lebih lanjut guna mendapatkan tujuan yang akan ditentukan.

Teknologi budidaya tanaman berkembang dengan berbagai metoda antara lain metoda konvensional dan metoda yang sudah lebih maju. Metoda konvensional antara lain kita mengenal istilah cangkok, okulasi, penyambungan dan lain sebagianya. Metoda yang sudah lebih maju diantaranya kita mengenal teknologi kultur jaringan. Pada dasarnya, semua metoda tersebut adalah bermanfaat. Semua metoda tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hal inilah yang menjadi tantangan bagaimana suatu metoda teknologi pengembangan budidaya hutan akan digunakan melihat kecocokannya dengan komoditi yang akan dikembangkan.

Teknologi budidaya tanaman menempatkan dirinya pada 2 tempat yang berbeda. Pertama, menempatkan dirinya pada bagian awal dimana kita akan melakukan proses domestikasi jenis tanaman. Domestikasi ini adalah proses membudidayakan suatu tanaman yang dulunya liar kepada tanaman yang bisa dikembangkan secara kontinyu dan menjadi tanaman yang familiar keberadaanya di tengah masyrakat.

Kedua, teknologi budidaya tanaman menempatkan dirinya pada bagian dimana ia merupakan awal dari proses pemuliaan tanaman secara lebih advanced guna mengembangakan jenis-jenis yang sudah unggul dan familiar di masyarakat. Pada bagian ini, teknologi budidaya tanaman bertujuan menghasilkan bibit bibit unggul dari tanaman yang akan dikembangkan secara lebih massal dengan berosientasi pada keuntungan ekonomi.

Secara garis besar, tahapan pengembangan teknologi budidaya tanaman dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Penemuan jenis liar yang berpotensi.

2. Teknologi budidaya tanaman berperan untuk mengembangkan jenis liar tersebut diantaranya menggunakan metoda konvensional semisal memperoleh bijinya untuk dikembangkan lebih lanjut. Kolaborasi penggunaan sistem pembudidayaannya harus dilakuakan agar diketahui dengan metoda apakah jenis ini paling tepat dikembangkan. Apakah dengan metode biji, cangkok, atau dengan metoda lainnya. Hal ini yang akan menjadi tantangan bagi para peneliti untuk mengetahuinya.

3. Jenis tersebut selanjutnya sedemikian rupa dikembangkan dengan tetap mengindahkan mempelajari lebih seksama manfaat apa yang bisa diperoleh dari jenis tersebut.

4. Teknologi budidaya tanaman kembali berperan sedemikian rupa memperoleh bibit unggul jenis tersebut dengan berbagai percobaan dan penelitian mendapatkan formula yang tepat. Misalnya, jenis bambu x akan sangat cepat pertumbuhannya dengan menghasilkan material batang yang keras bila dibudidayakan dengan menggunakan teknologi okulasi.

5. Pada akhirnya, bibit unggul tersebut yang diperoleh akan diperbanyak guna menghadirkan kemanfaatan yang lebih besar. Teknologi perbanyakan bibit unggul inilah yang akan lebih efektif bila menggunakan teknologi perbanyakan berbasis vegetative method propagation diantaranya kultur jaringan. Dengan metoda ini, yang menjamin kesamaan sifat anakan persis dengan indukannya, maka bibit unggul secara efisien akan melahirkan berjuta-juta anakan yang sama unggulnya

about author

Adik Bahanawan S.Hut.

198703082015021001

Pusat Penelitian Biomaterial

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher