Blog Sivitas

https://www.youtube.com/watch?v=MO6xhLtfwW0

Bukan berarti sedang menghadapi kegalauan sehingga lagu lawas yang dipopulerkan oleh Taylor Dayne pada awal tahun 1990an ini menjadi judul tulisan. Sebaliknya lagu ini sudah berhasil membawa saya menjadi lebih ceria pada waktu-waktu setelah tengah malam menyelusuri jalan-jalan di Kebayoran Baru menyebrangi Kolong Semanggi dan melewati di Bundaran Hotel Indonesia untuk keliling lagi di Menteng Maklum baru lulus SMA waktu itu.

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah surel lama yang disirkulasi ke Grup Staff-Inovasi pada tanggal 17 Oktober 2011. Melihat email lama sebetulnya bukan kebiasaan, tapi kebetulan pada hari Rabu 17 April 2018 pagi ini, saya mendapatkan peringatan akan segera habis kapasitas inbox. Untuk itu, saya coba filter dan sisir sekumpulan surel yang betul-betul diperlukan lagi. Pada saat ini saya menemukan sebuah email berjudul “Innovation is like love: set it free and if it comes back to you it’s (partially) yours”.


Harus lebih irit dalam berkomunikasi menggunakan surel. Surel dengan umur pendek sebaiknya dihapus, seperti surel iklan penawaran produk, pengkinian data atau spam, sebaiknya segera dihapus atau bisa mendapat peringatan seperti dibawah. Saya tidak tahu apakah jika sudah tercapai kuota itu maka akun sudah tidak bisa menggunakan lagi dan harus. Tapi mungkin ini tidak terlalu relevan untuk komunikasi lokal yang lebih banyak menggunakan aplikasi WhatsApp yang sekarang bisa melampirkan dokuman, gambar, lokasi dan suara.


Kembali pada surel itu, maka saya coba ingat-ingat lagi apa yang terjadi sekitar waktu itu sehingga surel itu saya sirkulasikan pada kelompok. Ternyata pada saat itu sedang banyak pertanyaan klarifikasi tugas yang dilakukan sebagai turunan fungsi inovasi teknologi dengan promosi dan diseminasi. Namun memang tidak bisa bersuara dengan baik untuk menjelaskan bahwa membedakan kedua kegiatan itu seharusnya tidak perlu terjadi. Pemahaman yang baik terhadap historikal dan konsep kata kunci yang disandingkan sudah memberikan batasan yang memperlihat definisi sekaligus juga memperlihatkan sinonim dan antonim dari kata kunci tersebut. Pemahaman yang dalam terhadap kata kunci tersebut merupakan syarat mutlak bagi pengatur untuk digunakan sebagai acuan. Sehingga bisa dihindari perubahan bentuk divisi atau organisasi pada pada bentuk sinonimnya atau lebih parah berkembang pada antonim kata kunci.

Sebuah kata benda yang melekat pada nama divisi, seperti misalnya Divisi Pemasaran, maka Pengatur pada Divisi akan memahami fungsi-fungsi pemasaran dan peran pemasaran bagi institusinya. Namun bisa saja dengan sedikit observasi pada Divisi Pemasaran, sesesorang melakukan pekerjaannya seolah mirip dengan pemasaran. Menurutnya Pemasaran adalah promosi. Hal ini bisa memicu perubahan fungsi dan turunan Divisi Pemasaran. Biasanya sang Pengatur berpegangan bahwa promosi adalah pemasaran dan pemasaran adalah promosi.

Contoh diatas mungkin lucu untuk dibayangkan, tapi fatal dalam keadaan yang sesungguhnya. Pemahaman yang kurang, menyebabkan mudahnya cerai dan rujuknya atau ganti nama sebuah divisi, institusi bahkan Kementerian.

Hal ini diperparah dengan ekses kekuasaan yang dipegang. Biasanya pemimpin divisi, atau pengatur atau direktur akan menolak pandangan dan rekomendasi dengan jawaban: “itu kan teori” atau setelah didudukan dalam sebuah kelompok untuk di “bedah” terkait urusan tersebut maka akan dikatakan “itukan di negara lain”. Dan setelah kajian dilakukan maka jawabannya “itukan Penelitian kalian”. Untungnya tidak terjadi di lembaga ilmiah.

Dirujuk Kembali Setelah Dicerai

Judul sub-heading ini juga tidak ada hubungannya dengan relasi orang terdekat di rumah. Tapi memang lucu jika sebuah divisi bisa dipecah dan kemudian disatukan lagi. Dipecah tanpa ada perubahan fungsi. Setelah dipecah, digabungkan lagi juga tanpa ada perubahan fungsi.

Seperti pada judulnya yang lebih erat pada urusan manusia, maka sebetulnya Organisasipun memiliki sifat dasar seperti manusia. Maksudnya dia punya dinamika, harus bisa berubah, menciptakan perubahan atau dipaksa untuk berubah. Organisasi juga bisa bubaran. Organisasi juga bisa sakit.

Refleksinya terlihat dari unsur utama organisasi yaitu manusia dan perangkat struktur organisasinya. Pegawainya bahagia dan rukun. Pensiunannya dihargai dengan baik. Jika terjadi Kedukaan pada pegawai merupakan Kedukaan institusi sehingga rumah dukanya penuh dengan simbol-simbol representasi institusi dari pagi sampai hari ketujuh. Disisi lain, organisasi yang agak sakit, pegawainya lebih “tegas”, maksudnya mereka akan datang dan pulang tepat waktu dan hanya mengerjakan hanya tugas nya saja. Untuk pensiunan institusi ini, jangan harapkan ada penghargaan lain selain sedikit cendera mata (jam tangan atau lukisan wajah) dan kedukaan pada salah satu orang penting institusi ini direpresentasikan dengan kunjungan saat jam kerja dan  cukup satu dan dua karangan bunga yang diantar menjelang Magrib....

Beberapa komplikasi akan terjadi setelah indikasi penyakit organisasi ini terasa. Dari mulai perubahan tugas dan fungsi (bukan perkembangan) dan yang paling parah adalah scrap-and-build seperti Perceraian itu. Tapi gampang juga untuk rujuk kembali tanpa sakit hati. Jadi dimana cintanya.


Stabilitas Institusi

Militer! Merupakan institusi paling stabil di seluruh dunia. Standard operasi dan satuan yang terdapat dalam organisasi ini mampu menyesuaikan kondisi lokal dengan tetap berpegang pada prinsip pertahanan dan perang. Peringkat keduanya adalah institusi keagamaan dimana aturan dan cara berlakunya terhubung dengan reward and punishment yang berasal dari sang Pencipta.

Bentuk yang terdapat diseluruh dunia seragam. Jika instalasi militer Pentagon yang dengan pengamanan ketat, jalan beraspal halus, tanaman rapih dan bersih maka hal yang sama juga ditemukan instalasi militer di Jakarta Timur. Sumber Daya Manusia didalam organisasi ini adalah Tentara. Begitu juga dengan struktur Masjid di Australia dengan di Indonesia misalnya. Terdapat ruang besar bershaf didalam Gedung dilengkapi dengan satu atau dua sisi tempat mengambil air sembahyang. Keduanya memang berbeda. Jika di Pentagon Tentaranya berbahasa Inggris disini akan menggunakan Bahasa Indonesia. Jika disini tempat wudlu tidak ada tempat duduknya, maka setiap Masjid di Australia selalu dilengkapi tempat duduk kecil didepan krannya. Nilai yang diusung tetap sama. Yang pertama pertahanan dan yang kedua adalah pelayanan keagamaan.


Rasanya tidak mungkin suatu saat nanti lembaga pertahanan militer akan berubah menjadi institusi pelayanan keagamaan walaupun mungkin Panglimanya suatu saat nanti diangkat dari Divisi Bimbingan Mental (Bintal). Seberapa besar kontribusi dan capaian sebuah divisi dalam insitusi ini sepertinya tidak akan merubah bentuk organisasinya sehingga isinya bukan Tentara. Sebaliknya sebesar apapun pentingnya pertahanan Umat tidak akan merubah bentuk organisasi keagamaan tersebut. Bisa saja didalamnya memberikan layanan kesehatan dan vaksin regular untuk Balita seperti pada banyak Gereja di Brisbane, tapi tetap berupa Gereja. Seperti Pendulum nya Hoskisson dengan gerakan bandulnya.

Cara termudah untuk menghindari entitas sipil yang bukan keagamaan tetap berpegang pada kompetensi kuncinya adalah pemahaman terhadap nilai organisasi yang ditawarkan. Yang menjadi jawaban atas pertanyaan kenapa organisasi, divisi, bagian itu terbentuk. Berbagai dokumen lama bisa menjadi alat bantu untuk menjadi acuan dalam penyesuaian dan perkembangan organisasi supaya tidak berubah misalnya seperti dari organisasi militer menjadi organisasi keagamaan, atau dari divisi kaveleri menjadi divisi pemasaran. Mungkin contoh-contoh itu lucu untuk ditampilkan, tapi ternyata tragedi itu terjadi dengan ongkos yang besar pada kasus sipil

Dari dokumen-dokumen seperti pada potongan karangan Prof Taufik Abdullah ini bisa dijadikan acuan dalam perkembangan satuan kerja atau organisasi. Misalnya fungsi ekonomi pada lembaga penelitian. Pemanfaatan penelitian militer untuk sipil seperti yang diusulkan oleh Vannevar Bush (VB Social Contract) atau Bayh-Dole Act tentu tidak merubah Universitas menjadi perusahaan perekebunan sawit. Sayangnya dokumentasi yang serapi ini, bukan berarti dibaca dengan baik.

Pada hari pertama duduk di LIPI, Ibu Jan Smith memberikan sebuah buku berwarna kuning bertuliskan Inception Report. Buku laporan ini dibawa sambil bekerja mencoba menyesuaikan dengan tempat bekerja yang baru ini. Untungnya dalam skala institusi, divisi Pendidikan dan Pelatihan melengkapi institusi yang bukan hanya mengajarkan operasional tapi juga berperan dalam membentuk budaya dan tradisi organisasi. Sehingga seperti akademi militer, apapun latar belakang siswanya, maka setelah lulus akan berpikir dan bekerja sebagai perwira. Tidak peduli siswa itu berlatar belakang preman atau anak tukang bubur ayam.  

Definisi

Kembali pada paragraph pertama yang membawa pada sebuah akhir minggu pada awal tahun 1990an. Membawa saya sebuah pojok kiri halaman parkir Hotel Borobudur Jakarta dengan deretan kendaraan teman-teman. Keceriaan Sabtu sore berisi perbincangan keseruan malam minggu ditengan riuh rendahnya  Sunday-Jazz di Music-Room, dan sebuah definisi dibawakan dalam bentuk lagu sebagai berikut:

Cinta adalah kenangan
Rasanya tak mudah dilupakan
Cinta adalah kenangan
Indahnya tak mudah dibayangkan

https://www.youtube.com/watch?v=5SHrReIOzRs


 


about author

Syafrizal Maludin S.E.,M.TIM.

197004112000031006

Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi

Komentar (2)

  • Syafrizal Maludin S.E.,M.TIM.

    06 Mei 2019, 08:56:49

    “Love” is a word that seems to have a multitude of meanings. We love our families, our country, sometimes our work. We love Italian food. And, of course, we use the word to describe romantic arrangements, good or bad. We fall in love. We fall out of love. We search for love under numerous circumstances and in a variety of locations. Drawing on the pioneering work of Erich Fromm’s The Art of Loving, Suchanek argues that it is love – or the lack of it – that ultimately governs business enterprises and their intentions, motives, conduct, and impact on local and global communities. As he puts it in the conclusion of “Love – Truthfulness

  • Syafrizal Maludin S.E.,M.TIM.

    06 Mei 2019, 08:56:48

    “Love” is a word that seems to have a multitude of meanings. We love our families, our country, sometimes our work. We love Italian food. And, of course, we use the word to describe romantic arrangements, good or bad. We fall in love. We fall out of love. We search for love under numerous circumstances and in a variety of locations. Drawing on the pioneering work of Erich Fromm’s The Art of Loving, Suchanek argues that it is love – or the lack of it – that ultimately governs business enterprises and their intentions, motives, conduct, and impact on local and global communities. As he puts it in the conclusion of “Love – Truthfulness

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher