Blog Sivitas


Mengenal kayu


Kayu merupakan material yang sudah banyak dikenal. Keberadaannya sudah mulai dimanfaatkan sejak dahulu kala. Perkembangan dunia mengikutsertakan kayu sebagai bagian dari peradabannya. Banyak hasil karya dunia menjadikan kayu sebagai objeknya, diantarannya berbagai konstruksi bangunan. Dunia perdagangan mengenal istilah hardwood dan softwood, kayu daun lebar dan kayu daun jarum, kayu keras dan kayu ringan, heartwood ( kayu teras ) dan sapwood (kayu gubal ). Kayu merupakan material dengan berbagai manfaat diantaranya sebagai bahan baku konstruksi, bubur kertas (pulp), meubeller, furniture dan lain sebagainya. Salah satu fungsi utama kayu adalah sebagai bahan konstruksi berat dan ringan.


Kayu merupakan material hayati. Material ini bersifat higroskopis (mudah menyerap dan melepas air) sehingga memiliki keuntungan dan kerugian. Keuntungan kayu bersifat higroskopis antara lain adalah mudah terdeformasi sehingga mudah dibentuk atau dilengkungkan. Kerugian sifat higroskopis kayu antara lain adalah mudah terserang jamur. Sehingga mempengaruhin kekuatan dan kualitasnya. Oleh karenanya, kadar air kayu dan kelembaban udara sangat mempengaruhi mutu suatu jenis kayu. Pengenalan kadar air kayu adalah sangat penting. Kadar air kayu adalah kadar prosentase kandungan air yang terdapat pada suatu kayu pada suatu waktu dan kondisi tertentu. Kadar air setimbang kayu adalah keadaan dimana kadar air kayu relatif sama dengan kadar air lingkungan sekitar. Kayu mengenal kelas awet dan kelas kuat kayu. Kelas kuat berhubungan dengan kekuatan kayu secara mekanis sedangkan kelas awet berhubungan dengan ketahanan kayu terhadap organisme perusak kayu semisal jamur, serangga, kumbang dan lain sebagianya. Kelas awet ini pula berhubungan dengan daya tahan kayu terhadap kondisi lingkungan dan atau cuaca


Kayu berasal dari pohon. Nama kayu adalah nama jenis pohonnya. Pohon dengan kecepatan tumbuh cepat akan menghasilkan kayu dengan nilai BJ rendah dan kekuatan rendah begitupula sebaliknya pohon dengan kecepatan tumbuh lambat akan menghasilkan nilai BJ tinggi dan kekuatan yang tinggi pula. Komponen utama penyusun kayu adalah lignin, selulosa dan hemiselulosa. Kayu memiliki berbagai karakteristik sifat dasar. Variasi sifat kayu sangat tinggi baik antra spesies maupun antar individu dalam spesies.Variasi ini dipengaruhi oleh jenis, genetik dan lingkungan tempat tumbuh. Beberapa macam karaterisasi sifat yang dikenal adalah sifat anatomi, fisis, kimia dan mekanis. Sifat anatomi diantaranya derajat kristalinitas, sudut mikrofibril (microfibril angle), preferred orientation. Sifat fisis diantaranya kerapatan, berat jenis (BJ), kembang susut (shrinkage), kadar air, wettability, porositas. Sifat kimia diantaranya kadar selulosa, kadar lignin, kadar hemiselulosa, kadar abu, kadar pati (karbohidrat). Sifat mekanis diantaranya kuat tekan (compressive strengthness), kuat lentur (bending strenghtness), kuat belah (cleavage strengthness), kuat tarik (tensile strengthness), kuat geser (shear strenghtness).


 Pertumbuhan pohon mengenal istilah pertumbuhan konstan dan tidak konstan. Pertumbuhan konstan dimaksudkan bahwa kecepatan tumbuh dan berkembang spesies pohon adalah konstan terjadi selama sepanjang tahun. Hal ini ditandai tidak adanya atau hampir samarnya lingkaran tahun yang terlihat pada penampang melintang. Berbeda dengan pertumbuhan tidak konstan dimana lingkaran tahun yang terlihata sangat jelsa. Hal ini diakibatkan kecepatan tan tipe pertumbuhan terjadi perbedaan yang tegas sepanjang tahun. Kondisi lingkungan, iklim dan cuaca utamnya disinyalir memberikan pengaruh pada pertumbuhan tidak konstan ini.


 


Keanekaragaman jenis kayu di Indonesia


Indonesia memiliki bermacam jenis kayu mulai dari Sabang hingga Merauke. Tiap-tiap daerah tersebut didominasi oleh jenis-jenis tertentu yang menjadikkannya sebagai jenis andalan dan ciri khas setempat. Pulau Sumatera terkenal dengan jenis merantinya (Dipterocarpaceae sp.), Pulau Jawa terkenal dengan jenis jati (Tectona grandis), mahoni (Swietinia sp.) dan sonokelingnya (Dalbergia sp.), Pulau Kalimantan terkenal dengan jenis ulinnya (Eusideroxylon zwagerii), Pulau Sulawesi terkenal dengan jenis eboninya (Dyospiros sp.), Nusa Tenggara dengan jenis cendana (Santalum album) dan Papua dengan jenis merbaunya (Instia bijuga). Jenis-jenis tersebut merupakan kekayaan hayati yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Keragaman jeis kayu di Indonesia tentunya lebih dari itu. Kayu Indonesia beragam dari jenis komersial, jenis komersial kurang dikenal, jenis kurang dikenal, jenis langka dan lain sebagainya.


 


Kayu dalam perspektif industri dan perdagangan


Kayu diperoleh dari hutan alam dan hutan produksi. Hutan alam menyediakan berbagai jenis kayu karena memang tingkat heterogenitasnya sangat tinggi. Hal ini berbeda dengan hutan produksi yang cenderung monokultur. Hutan produksi banyak mensuplai kebutuhan komoditi kayu tertentu yang spesifik tujuannya. Dalam industri perkayuan, kehadiran HTI (Hutan Tanaman Industri) adalah sangat penting karena sebagai produsen berbagai jenis komoditi kayu. HTI memproduksi kayu dengan tujuan tertentu oleh karenya komoditi yang ditanam adalah monokultur (1 jenis). Beberapa komoditi yang populer untuk komoditi HTI adalah gmelina (Gmelina arborea), mahoni (Swietenia mahagoni), mangium (Acacia mangium), mindi (Melia azedarach), sengon (Albazia falcataria), sungkai (Peronema canescens), surian (Toona suren), dan tusam (Pinus merkusii).


Industri kayu juga mengenal kayu ringan dan kayu kuat. Kayu ringan biasanya didominasi oleh jenis dengan pertumbuhan cepat berbeda dengan jenis kayu kuat. Beberapa jenis kayu ringan yang populer diantaranya jabon (Anthochepalus cadamba), sengon (Albizzia falcataria), balsa (Ochroma pyramidale), karet (Hevea brasiliensis), pinus (Pinus merkusii), kelapa sawit (Elaeis guineensis). Beberapa jenis kayu kuat yang populer antara lain jati (Tectona grandis), mahoni (Swietenia mahagoni), ulin (Eusideroxylon zwagerii), eboni (Dyospiros celebica), merbau (Instia bijuga), sonokeling (Dalbergia latifolia), bangkirai (Shorea laevis).

Kayu di dunia perdagangan dijual dalam skala kubikasi (m3) dan kilogram (kg). Jenis kayu yang dijual dalam skala kubikasi biasanya karena jumlahnya banyak/ berlimpah keberadaannya sedangkan skala kilogram karena jumlahnya tidak banyak/sedikit dipasaran. Beberapa jenis kayu dengan skala kubikasi adalah jenis kayu kebanyakan yang beredar di dunia perdagangan misalnya jati, mahoni, sengon, jabon dan lain sebagainya. Beberapa jenis kayu yang dijual dengan skala kilogram diantaranya cendana (Santalum album), sonokeling (Dalbergia latifolia).

about author

Adik Bahanawan S.Hut.

198703082015021001

Pusat Penelitian Biomaterial

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher