Blog Sivitas

MASKULIN

Society is everywhere in conspiracy against the manhood of every one of its members
-Ralph Waldo Emerson, 1841-


Prolog
Masyarakat kota memerlukan gaya hidup untuk membedakannya dengan orang lain, dimana mereka akan masuk dalam komunitas tertentu atau subkultur yang membuatnya mempunyai identitas berbeda dengan komunitas lain. Tentu saja gaya hidup tersebut mempunyai konsekuensi pola hidup yang cukup mahal bagi masyarakat yang punya kantong pas-pasan. Tak sembarang orang bisa mengikuti gaya hidup kota yang serba mahal tersebut. Termasuk juga gaya hidup fitness yang memerlukan biaya makan, biaya vitamin, biaya keanggotaan (member) dari sebuah fitness center yang mahal dan menuntut seorang member harus membayar instruktur fitness untuk maksimalnya. Bagi member pria, maskulin dengan tubuh atletis dan berotot adalah parameter berhasil tidaknya ia menjadi member fitness center yang dipilihnya. Mengapa pria identik dengan maskulin dan wanita feminin Bagaimana Maskulin di Barat dan di Indonesia

Konsep Maskulin
Kalau kita telusuri, konsep maskulin bermula dari gerakan feminisme yang melihat jenis kelamin sebagai sebuah sumbu organisasi sosial yang fundamental dan tak bisa direduksi yang, sampai saat ini, telah menempatkan wanita di bawah pria. Para feminis melihat bahwa subordinasi wanita terjadi di berbagai lembaga dan praktik, atau, subordinasi bersifat struktural. Subordinasi struktural inilah yang disebut patriarki, bersama dengan makna-makna turunannya tentang keluarga yang dipimpin pria, penguasaan dan superioritas (Barker, 2003: 280).

Patriarki sendiri merujuk pada suatu masyarakat spesifik dimana seorang ayah (patriarch) yang mengatur tak hanya wanita dalam keluarga tapi juga pria yang lebih muda. Tokoh feminis Heidy Hartmann (1979) dalam tulisannya The Unhappy Marriage of Marxism and Feminism, Capital and Class mendefinisikan patriarki sebagai sebuah rangkaian relasi sosial diantara pria, yang mempunyai basis material, dan hierarkis mengatur atau menciptakan saling ketergantungan atau solidaritas diantara pria yang memungkinkannya mendominasi wanita.

Banyak tulisan sosiologis, kultural dan feminis, termasuk karya Mackinnon yang hendak menantang determinisme biologis dengan secara konseptual membedakan jenis kelamin dan jender. Jenis kelamin dianggap sebagai aspek biologis tubuh dan sudah given apa adanya dari Tuhan dan bersifat tetap. Sedangkan jender merupakan asumsi dan praktik-praktik kultural yang mengatur konstruksi sosial pria wanita dalam relasi sosial mereka dalam konsep maskulin dan feminin dan bersifat tak tetap dipengaruhi konteks sosial dan kultural. Selanjutnya dikatakan bahwa berbagai wacana praktik sosial kultural dan politis tentang jender inilah yang menjadi sumber subordinasi wanita (Barker, 2003: 288). Skema 6 berikut melukiskan proses konsep munculnya konsep maskulin-feminin:








Peran jender sendiri menurut Pleck (1977) adalah ciri psikologis dan tanggungjawab sosial bahwa seorang individu memiliki dan merasakan sebuah kepantasan karena mereka lelaki atau perempuan. Sedangkan Bem (1974) membagi empat peran jender menjadi lebih luas, yakni feminin, maskulin, undifferentiated (tak membeda-bedakan), dan androgynous:
1) Feminin, melibatkan hal-hal yang secara jelas distereotipkan sebagai ciri dan perilaku feminin (misalnya mudah terharu, lemah lembut, peka pada kebutuhan orang lain, pengertian, dan hangat)
2) Maskulin, secara jelas distereotipkan sebagai ciri dan perilaku maskulin (misalnya agresif, senang berkompetisi, unjuk kekuatan, percaya diri)
3) Undifferentiated muncul ketika individu tidak menunjukkan derajat yang tinggi antara ciri dan perilaku antara feminin dan maskulin
4) Androgynous jika menunjukkan ciri-ciri dan tingkahlaku yang derajatnya tinggi antara maskulin dan feminin.

Bem (1993) beranggapan bahwa peran jender menyediakan sebuah cara pandang bagaimana kita melihat dunia dan bahwa orientasi jender tradisional (menyebut maskulin pria dan feminin wanita) cenderung untuk mengatur dan menarik kembali informasi yang didasarkan pada jender (Gudykunst & Kim, 1997: 100).

Sudah semenjak masa balita seseorang belajar apa jendernya dan bagaimana ia harus berprilaku agar dilihat dan dinilai orang lain, dan dirinya sendiri, sebagai maskulin dan feminin. Ternyata faktor lingkungan (orang tua, teman sebaya, media massa, dan lain-lain) bukan satu-satunya faktor yang membentuk perbedaan perilaku seksual individu, beberapa peneliti berkeyakinan hormon seks yang mempengaruhi perkembangan otak janin, ikut membentuk terbentuknya peran jender tersebut. Sehingga perilaku seksual merupakan hasil kombinasi faktor lingkungan dan biologis.

Selanjutnya faktor kultural juga merupakan elemen penting dalam menentukan peran seks atau jender. Ada kultur yang secara ketat menggambarkan peranan sebagai feminin atau maskulin (misal: pencari nafkah dan koordinator finansial rumah tangga sebagai peran maskulin; sedangkan pemberi perawatan anak dan memasak adalah peran feminin). Kelompok kultur lain mungkin lebih fleksibel dalam mendefinisikan peran jender mendorong wanita maupun pria untuk menggali berbagai peran atau perilaku tanpa memberikan label tertentu yang berkaitan dengan seks. Artinya maskulinitas atau kejantanan dan femininitas atau kewanitaan menurut Ivan A. Hadar, tidak semata-mata ditentukan oleh jenis kelamin saja, tetapi melalui proses belajar dan proses sosialisasi sepanjang hayat seseorang (Subono, 2001: 104).

Maskulinitas Pria
Identitas pria takkan lepas dari maskulinitas. Maskulinitas sendiri menunjuk pada nilai-nilai atau sifat-sifat yang lazim dimiliki pria atau karakter kepriaan. Maskulinitas adalah konsep dimana identitas personal, fakta-fakta sosial dan symbol-simbol budaya terjalin (Barker, 2003: 302). Pria diperlakukan orangtuanya sebagai mahluk mandiri dan terbuka (outgoing) yang diarahkan pada kerangka maskulinitas yang berorientasi pada aktivitas eksternal (misal kerja dan olahraga) (http://en.wikipedia.org/wiki/Masculinity).

Pada masyarakat Barat yang merupakan masyarakat patriarki, nilai-nilai dominan patriarkinya terkait erat dengan nilai-nilai dalam konsep pria dan maskulinitas. Mereka sangat mendorong kompetisi, individualitas, agresi dan kekerasan sebagai cara memecahkan persoalan. Nilai-nilai ini adalah acuan dalam cara mereka bekerja, di ranah ekonomi, sistem pendidikan, cara berinteraksi sosial, dan cara anak laki-laki disosialisasikan menjadi seorang pria dewasa. Dapat dikatakan peperangan adalah alat paling ampuh memecahkan persoalan masyarakat patriarki di Barat. Kebudayaannya cenderung mengesahkan nilai-nilai berkarakteristik pria sekaligus merendahkan karakteristik wanita dan femininitas (O Shaugnessy & Stadler, 2005: 348).

O Shaugnessy & Stadler (2005) menyatakan bahwa kekuatan adalah atribut utama yang terlihat sebagai penanda dan petanda maskulinitas pria baik dalam media maupun dunia nyata. Maskulinitas diperoleh dengan mempunyai fisik yang baik dan/atau kekuatan sosial. Kita menyaksikan penilaian kekuatan fisikal dalam olahraga dan pada diri aktor seperti misalnya Sylvester Stallone dan Arnold Schwarzenegger yang membuktikan dirinya seorang pahlawan dan memenangkan petarungan dengan perjuangan fisik. Teks maskulinitas mewujud dalam sebuah pertarungan fisik pria. Daya tarik tubuh pria dikaitkan dengan membangun otot-otot (O Shaugnessy & Stadler, 2005: 352). Secara umum, maskulinitas tradisional menganggap tinggi nilai-nilai kekuatan, kekuasaan, ketabahan, aksi, kendali, kemandirian, kepuasan diri, kesetiakawanan pria dan kerja (Barker, 2003: 301).

O Shaugnessy & Stadler melanjutkan bahwa pria ideal juga harus mempunyai kuasa sosial, kesejahteraan yang berarti dan pengaruh di dunia bisnis. Karakter Richard Gere dalam Pretty Woman atau Pierce Brosnan dalam The Thomas Crown Affair atau tipe-tipe film James Bond. Gairahnya terkait dengan kuasa sosial, hal ini menunjukkan fungsi kuasa sebagai aphrodisiac. Seperti ketampanan Brosnan, Gere yang terekspresi melalui bajunya yang menggunakan setelan bisnis lengkap dengan dasinya. Ini adalah identitas maskulinitas dunia kerja professional atau modern (O Shaugnessy & Stadler, 2005: 352).

Peran-peran pria dalam film-film Barat juga sangat dominan dengan nilai-nilai maskulinitas (http://en.wikipedia.org/wiki/Masculinity), yaitu:
Military/fighter: soldier, warrior, airman, commando, knight, Marine, mercenary, samurai, seaman, sailor, viking
Other uniformed professions: firefighter, fireman, park ranger, pilot, police officer, SWAT, coastguard, doctor
Criminals: assassin, duellist, gun runner, mercenary, mobster, murderer, pirate,
Superhero or supervillain
Manual laborers: construction worker, dock worker, foreman, lumberjack, mechanic, truck driver
Cowboy
Pimp
Film director
Catholic Priest
Rock musician
Athlete: basketball, rugby, rowing, athletics, bodybuilding, football, martial arts, baseball, hockey, wrestling, lacrosse
Male nobility: emperor, king, prince, duke, count, earl, baron, lord, shogun
National leader in many nations

Lebih lanjut Janet Saltzman Chafetz (1974) membagi tujuh area maskulinitas bukan hanya berdasarkan fisikal tetapi juga faktor-faktor lain yang mendukung:
1. Physical virile, athletic, strong, brave. Unconcerned about appearance and aging;
2. Functional breadwinner, provider for family as much as mate
3. Sexual sexually aggressive, experienced. Single status acceptable;
4. Emotional unemotional, stoic, boys dont cry;
5. Intellectual logical, intellectual, rational, objective, practical,
6. Interpersonal leader, dominating; disciplinarian; independent, free,
individualistic; demanding;
7. Other Personal Characteristics success-oriented, ambitious, aggressive, proud, egotistical; moral, trustworthy; decisive, competitive, uninhibited, adventurous.

Sedangkan di Indonesia, maskulinitas pria Indonesia pada dasarnya tak selalu diukur dengan wujud fisik sempurna meski hal itu tetap jadi parameter umum maskulinitas tetapi lebih kepada kemampuan menunjukkan kelebihan identitas prianya yang bermanfaat bagi sesama. Misalnya saja seorang pria yang menguasai bela diri tertentu dan suka menolong orang lain maka bisa jadi ia sudah dianggap maskulin seperti yang digambarkan dalam cerita-cerita rakyat dan juga film-film zaman dulu seperti si Pitung dan si Jampang dari Betawi, Pak Sakerah dari Madura, dan masih banyak lainnya. Akan tetapi memang maskulinitas Barat mulai menggejala luas di tanah air sejak film-fim yang mencerminkan kekuatan pahlawan perang Amerika diputar sekitar tahun 80-an. Sebut saja, film-film Rambo 1-3 yang menampilkan sosok pria kekar berotot aktor Sylvester Stallone, serta mantan binarawan yang menjadi aktor, Arnold Schwarzenegger dalam film Commando. Sebenarnya perang Vietnam dan veterannya menurut Susan Jeffords menjadi batu loncatan untuk remasculinisasi umum budaya Amerika yang kalah perang atas Vietnam, akan tetapi film tersebut sukses merepresentasikan maskulinitas pria Barat (Storey, 1994: 314).

Meskipun di tanah air banyak atlit-atlit binaragawan yang sukses dan mencerminkan identitas pria maskulin seperti standar parameter maskulinitas Barat, sebut saja Ir. Ridwan Kodyat, mantan juara nasional kelas berat tak terkalahkan 1976 - 1989 dan runner up Asia 1977 kelas berat ringan dan kelas berat 1979, serta M. Khalim, mantan Mr. ASEAN 1979 di Bangkok, akan tetapi yang bisa dikatakan fenomenal dan sukses mengangkat maskulinitas pria seperti standar Barat adalah binaragawan Ade Rai, juara Pro-Am Classic dan Muscle Mania tahun 1996 di Amerika Serikat (Intisari, Agustus 1998). Ia sukses mengangkat fitness yang identik dengan maskulinitas menjadi sebuah industri gaya hidup baru bagi masyarakat.

Epilog
Dari paparan penulis tentunya di atas segalanya dari Maskulinnya pria adalah KESEHATAN itu sendiri karena SEHAT itu lebih mahal dari apapun. Namun untuk sekedar sharing dan berbagi wacana, bagaimana menurut anda Apakah seorang pria memang harus maskulin Jika ya, jenis maskulin mana yang anda pilih, maskulin dengan tubuh atletis berotot atau maskulin dengan jas berdasi dan sukses dalam karir atau malah dua-duanya Terserah Anda. Terima kasih atas waktunya membaca tulisan ini. (Suzan Lesmana)


Referensi
Anonim. Masculinity dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Masculinity
Barker, Chris. 2003. Culture Studies: Theory & Practice. London, Ca., New Delhi: Sage Publications Ltd. 2nd eds.
Gudykunst, William B. & Young Yun Kim. 1997. Communicating With Strangers: An Approach to Intercultural Communication. Boston: McGraw-Hill. 3 eds.
OShaugnessy, Michael & Jane Stadler. 2005. Media & Society: an introduction. Australia: Oxford University Press. 3rd eds
Storey, John (ed.). 1994. Culture Theory & Popular Culture: A Reader . Herfordshire: Harvester Wheatsheaf
Subono, Nur Iman (ed.). 2001. Feminis Laki-Laki: Solusi atau Persoalan. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan

about author

Suzan Lesmana M.Si.

197410222003121006

Biro Kerja Sama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher