Blog Sivitas

Tahun 2018  ini Pemerintah kembali membuka penerimaan CPNS setelah  beberapa waktu lalu sempat menjalankan program Moratorium atau penghentian sementara proses seleksi CPNS di Indonesia. Setidaknya ada tiga modal (capital) perubahan organisasi dalam momentum rekrutmen CPNS Tahun 2018 ini, yaitu modal SDM yang baru akan masuk, modal PNS lama yang sudah eksis didalam organisasi, dan modal yang berada diluar kedua elemen ini. Mereka masing-masing perannya adalah untuk merubah, untuk berubah, dan lainnya adalah pendorong perubahan.

PNS umumnya dikenal dengan “abdi negara”, meskipun saya pribadi sebenarnya agak kurang suka menggunakan kata abdi, karena kata abdi memberikan kesan PNS itu memang harus mengabdi se abdi-abdinya, kerja tanpa berfikir, tidak bebas nilai, tidak boleh kreatif, terkekang, terjajah seperti masa kolonial. Sementara Manajemen ASN yang modern dan profesional kedepan merujuk Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) dan PP 11 tahun 2017 tentang manajemen PNS bukanlah demikian. Filosofi disusunnya Peraturan Manajemen ASN ini justru oleh para pemikir dan ahli Manajemen ASN yang telah puluhan tahun merenung untuk merumuskan racikan obat terbaik untuk mengobati penyakit birokrasi administrasi di Indonesia menghendaki adanya perubahan budaya kerja, budaya berfikir, metode dan teknis penyelesaian pekerjaan, serta mentalitas ASN menuju kearah yang lebih inovatif, kreatif, efisien, kerja cerdas dan tangkas, hemat waktu dan profesional tentu saja. Mengutip istilah masa kini yaitu Revolusi Mental. Sebenarnya niat revolusi mental ini sangat baik sekali, jika filosofi-filosofi yang melatarbelakangi munculnya istilah revolusi mental itu sendiri dipahami secara lebih konfrehensif, bebas nilai, objektif, futuristik, positif thinking, dalam kerangka mencari solusi permasalahan kehidupan kebangsaan secara menyeluruh dan melibatkan semua unsur lapisan masyarakat tak terkecuali. Kini beban itu sebagian akan dipikulkan kepada mereka para calon PNS baru yang akan mengisi pos-pos kursi di Pemerintahan.

Dalam kaitannya dengan Manajemen ASN, salah satu momentumnya rekrutmen CPNS 2018 ini, sejatinya, revolusi mental, reformasi birokrasi, atau apapun niat baik itu namanya, masih membutuhkan tenaga ekstra. Kenapa? karena birokrasi pemerintah itu kalau dianalogikan dengan tubuh manusia yang sedang terkena penyakit mudah resisten terhadap obat. Semakin canggih obat semakin pandai virus menjelma jadi virus-virus baru dan penyakit-penyakit baru. Semakin bagus sistem, semakin canggih pencuri. Maaf saya tidak sedang mengatakan bahwa semua yang berada dipemerintahan adalah virusnya, melainkan justru momentum Rekrutmen PNS Tahun 2018 ini adalah proses peperangan antara virus dengan antivirus.  Proses penetrasi antara golongan baik dengan golongan jahat (masing-masing unsur bisa didalam bisa diluar, bukan artinya semua yang didalam jelek, namun mereka tersebar didalam dan diluar berperang membentuk komunalnya tersendiri). Proses penetrasi nilai-nilai positif diharapkan dapat dilakukan oleh SDM-SDM unggul baru dan anak-anak muda pilihan yang masuk melalui jalur seleksi terbaik, yang disaring melalui uji kompetensi dan kualifikasi yang ideal. Jika birokrasi kita ibaratkan laboratoriumnya maka saat ini para ahli sedang melakukan uji proses pencampuran dua zat agar bertemu dan membentuk zat baru yang diharapkan lebih baik hasilnya. Lebih enak rasanya dan lebih menyehatkan. Bukan sebaliknya. Namun itu bisa terlaksana hanya jika, kita hati-hati ketika mencampurkan dua zat baru ini, terus mengawasi tabung yang sedang berproses melakukan rekrutmen PNS,  memastikan tidak ada zat yang tidak kita inginkan, baik sengaja maupun tidak sengaja masuk tercampur dalam larutan. Karena jika terjadi maka proses eksperimen sekaligus proses implementasi solusi masalah reformasi birokrasi yang sedang dilakukan bisa gagal atau bahkan kita sampai pada hasil racikan yang sebenarnya bukan tujuan utama kita, bukan hasil yang kita inginkan.  Ibaratnya ingin membuat Jus Jambu malah jadinya Jus Jambu rusak karena ada yang memasukkan entah itu jambu busuk, racun, ulat, kelabang, atau cicak, dan itu tidak kita inginkan. Apalagi hewan-hewan ini bertemu dengan koloninya yang sudah lama berdiam didalam rumah birokrasi dan beranak pinak di dalam sekian lamanya. Padahal harapan yang kita mau justru sebaliknya, SDM kompeten yang bisa membasmi hama birokrasi yang sekian lama menempati rumah birokrasi.

Disinilah saya melihat peran para dokter administrasi negara atau ahli bidang administrasi pemerintahan untuk memanfaatkan momentum. Setidaknya ada dua fungsi peran yang kehadirannya sama-sama penting dan stratgis dalam momentum pengobatan birokrasi pemerintah ini.

Pertama, dari sisi stakeholders, atau para pemangku dan praktisi kebijakan Manajemen ASN itu sendiri, ini adalah momentum tepat untuk berubah menjadi yang lebih baik. Meskipun ini diibaratkan reformasi birokrasi Batch kesekian sekian. Tapi kita manusia tak pernah berhenti belajar, mengkaji, memperbaiki, sampai menemukan formulasi obat yang ampuh untuk mengobati penyakit birokrasi, istilah saya bureaucratic disease. Sama seperti penyakit kanker, bureaucratic disease kita definisikan sebagai apa saja yang menyebabkan birokrasi menjadi mandek, malas, tidak produktif, merusak tatanan nilai dan norma pemerintahan yang baik. Termasuk  didalamnya nepotisme generasi 1,2,3, dan lain sebagainya.   Ternyata bureaucratic disease dalam kehidupan modern saat ini telah mengalami banyak mutasi dan perkembangbiakan. Dari yang awalnya korupsi, kolusi, nepotisme, generasi 1, sekarang sudah berkembang menjadi generasi 2, 3, 4, dalam arti negatif. Nah seharusnya antivirus yang kita suntikkan dan juga media pengobatan yang kita gunakan lebih canggih dari penyakitnya bukan sebaliknya. Kita terus melakukan evaluasi diri mengapa racikan reformasi birokrasi yang kita buat dulu gagal menjadi solusi, atau berhasil namun bersifat rapuh, tidak kokoh, gampang hancur dan dikalahkan virus-virus yang masuk kedalamnya dan justru sampai saat ini relatif yang menguasai sebagian besar bagian tubuh kita.  Sementara, seharusnya zat yang baik bagi tubuh birokrasi lebih banyak kandungannya ketimbang zat buruknya baru birokrasi pemerintahan dapat berjalan dengan baik.

Kedua, dari sisi generasi baru CPNS, mereka yang peduli, dan siapapun yang berhati baik berniat lurus yang berada didalam birokrasi saat ini.

Tidak bisa kita pungkiri, setiap ada penerimaan CPNS baru kita selalu berharap dan bermimpi tentang hal baru, utamanya perubahan kearah yang lebih baik. Tentang terwujudnya birokrasi pemerintahan yang ideal dan modern di Indonesia. Namun, mewujudkan harapan dan cita-cita masyarakat terhadap PNS yang modern, profesional, dan berwawasan global tidak bisa serta merta mudah seperti membalikkan telapak tangan, dan tidak bisa dilakukan sendirian, melainkan perlu dilakukan secara gotong royong dan bekerja secara bersama-sama dengan semua elemen masyarakat.

Jika dianalisis lebih dalam, peran anak-anak muda baru yang masuk ke jalur birokrasi ini cukup strategis, sangat penting, dan sangat diharapkan perannya dapat melakukan penetrasi kepada virus dan penyakit-penyakit yang ada di dalam rumah birokrasi saat ini.  Saat ini  kita anggap mereka yang masuk lewat jalur murni dan  terseleksi ini cukup bisa memainkan peran, karena kita anggap mereka jiwanya masih bersih, masih muda, dan bersemangat. Belum terkontaminasi. Anak-anak muda yang umumnya melek teknologi dan sangat kreatif dengan talenta luar biasa. Bukan berarti yang didalam saat ini semua jelek, tidak, namun ibarat tabung, kita menginginkan kadar air bersih lebih mendominasi dari pada air yang hitam sehingga lama-lama menjadi jernih. Disamping itu, perlu juga keterlibatan masyarakat. Kita anggap masyarakat penting, kenapa? karena birokrasi itu adalah cerminan pemerintah negara, negara itu adalah organisasi, dan unsur organisasi salah satunya masyarakat. Bagaimana mungkin kita abaikan masyarakat yang merupakan komposisi negara itu sendiri. Para ahli  mengatakan jika sebuah negara ingin maju itu maka perlu memperhatikan apa yang diistilahkan dengan modal sosial.

 Ada banyak teori tentang modal sosial atau Capital Society, salah satunya yang dikemukakan oleh Randall Collin (1981),  Modal sosial intinya bagaimana kita dapat memberdayakan serta melibatkan semua unsur masyarakat yang ada agar mendukung program dan niat baik kita sehingga terwujud. Dalam hal ini menuju birokrasi modern berkelas dunia. Keterlibatan masyarakat sesuai  fungsi dan peran masing-masing tentunya, sehingga selain permasalahan cepat terselesaikan karena semua anggota masyarakat memiliki pemahaman yang sama akan birokrasi modern, pengertian yang sama, konsep yang sama untuk memperbaiki, mereka pun merasa memiliki. Salah jika ada salah satu aktor atau komponen masyarakat yang merasa pintar sendiri, dan merasa perannya lebih penting dari lainnya. Sementara untuk menyelesaikan persoalan bangsa, khususnya reformasi birokrasi pemerintah ini tidak bisa seperti itu. Kenyataannya, usulan-usulan dan ide-ide perbaikan kerap muncul dari mereka yang berada diluar organisasi karena mereka juga sering ikut menikmati hasil kerja pemerintah.

  Memang tidak dipungkiri pada akhirnya aktor yang paling utama dapat berperan dan dapat melakukan perbaikan secara institusional  untuk permasalahan birokrasi ini nantinya ya para PNS itu sendiri, mereka yang berada didalam birokrasi paling besar perannya, dan juga CPNS-CPNS baru yang membawa harapan baru. Harapan untuk birokrasi yang lebih bersih dan profesional.

 Namun juga, bukan berarti pihak dari luar tidak ada perannya, masukan-masukan dari luar dan kritik-kritik yang mereka sampaikan itu penting dan obat mujarab untuk para aparatur negara, bukan racun. Keengganan para aparatur pemerintah mendengarkan masukan dari elemen masyarakat diluar  ibarat anak kecil yang malas atau tidak mau mendengarkan nasihat minum obat, lebih parah menghindari dokter. Padahal berbekal itikad mulia  para ahli telah memformulasikan racikan obat untuk  bureaucratic disease yang ada saat ini, salah satu ramuan tersebut adalah sistem rekrutmen PNS baru yang digunakan saat ini semakin canggih, terbuka, sistematis, dan profesional, dengan menggunakan sistem seleksi berbasis komputer CAT ( computer assisted test ) yang konon diadobsi dari beberapa negara dibelahan benua Amerika dan Uni Eropa. Bahkan, Sistem CAT juga sudah diterapkan beberapa negara  tetangga, seperti Singapura dan Australia. 

Ada beberapa keuntungan yang diperoleh dari penerapan sistem CAT ini. Pertama, akan tercipta transparansi, karena hasil ujian dapat diketahui oleh peserta secara real time, sehingga tidak akan terjadi manipulasi. Kedua, Sistem ini sangat efisien, baik dari segi waktu maupun biaya. Sebab, hasil bisa langsung diketahui, dan tidak memerlukan biaya untuk cetak soal ujian, pengawas, kemudian pengolahan hasil dan sebagainya. Ketiga, sistem CAT menciptakan efisiensi yang sangat besar, dibanding sistem tes dengan menggunakan lembar jawab komputer (LJK). Selain itu, banyak lagi kelebihan sistem CAT ini, dan diharapkan momentum inilah bisa menjaring putera-puteri terbaik bangsa untuk menjadi CPNS tanpa ada intervensi dan nepotisme, atau bentuk kecurangan-kecurangan lainnya.

Ini adalah momen yang baik, ibaratnya kalo semua elemen masyarakat mau merubah keadaan birokrasi kita menjadi lebih baik ya sekaranglah saatnya. Jangan sampai kita kehilangan momentum. Kepada anak-anak muda pelamar  CPNS inilah saatnya masuk birokrasi dan memperbaiki negeri, dan mendorong negara mengejar ketertinggalan, untuk para aparatur inilah saat kita dan kalian berubah menuju perubahan positif yang sebenarnya, bukan hanya simbolik legal formal,   lebih dari  itu, harapan kita pada momentum rekrutmen CPNS ini adalah perubahan filosofis historis dan isi hati dan isi jiwa para PNS Indonesia menjadi lebih baik dan profesional.(Ayurie/2018)

about author

Ayurisya Dominata S.IP.

198608252009122006

Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher