Blog Sivitas

Ya judulnya sekilas dibaca akan semacam artikel keren di portal berita keren gitu sih, hehehe, biar kepake ilmu IELTS writing skill nya. Padahal ya cuma judulnya doang yang bahasa inggris. Hahaha.. Masih sama dengan topik yang sebelumnya, saya akan mencoba menganalisis bagaimana orang berperilaku dalam menggunakan smartphone mereka which has a negative impact on the community interaction and social trend. Udah kaya #AnakJakartaSelatan belum?

Teori ini sebenarnya masuk dalam Economic Behavior, cuma karena saya belum terlalu mendalami nya, takut salah, tidak perlu lah ya. kita skip aja bahas latar belakang, landasan teori dan lain sebagainya.

Lihatlah, Evidences nya banyak. Saya akan mengambil contoh dari Youtube dan Instagram. Bagaimana sebuah trend diinisiasi dan diikuti oleh orang lain dan terus bergulir seperti bola salju.

Yang baru ini selesai climb the hill of trending and keep downwarding adalah trend Kiki Challenge. Trend ini mengajak orang untuk menari di samping mobil yang berjalan dengan pintu mobil terbuka dan sudut kamera menghadap si penari. Tren kebodohan ini tidak menunjukkan apapun kecuali "mengikuti trend". Ga ada yang salah memang, menunjukkan seberapa up-to-date seorang pesohor dalam mengikuti gaya yang berkembang. Istilah standing in the shoulder of the giant.

Let's flash back way more before it. Yang tentu masih ingat dan terbayang, adalah Ice Bucket Challenge. Sebuah trend kebodohan lain pada tahun 2014an dimana orang ditantang untuk menyiram air dingin satu box ke kepalanya sendiri. Motifnya sih awalnya bagus, untuk menyadarkan diri mengenai penyakit ALS. Trend ini lumayan ramai dengan jangka waktu yang lebih lama. Sampai ada yang membuat maps dari visual graphic node impact-nya.

Jika lebih mundur lagi, ada pentas kebodohan yang levelnya lebih bodoh dari sekedar bodoh yang biasa-biasa aja. Kita anggap maha bodoh aja kali ya. Seperti Tide-Pod Challenge, Harlem Shake Dance, atau Mannequin Challenge. Daftar lengkapnya ada di sini.

Dengan viewer Melihat 3 fenomena tersebut diatas tentu bukan masalah angka dan kuantitas pastinya. Angka numerik tersebut cuma bagian kecil dan belum bisa dijadikan rujukan ilmiah. Namun ada benang merah yang bisa ditarik dan diikat lalu diuwel uwel. Apa? Yaitu bahwa kebodohan seperti itu laku di social media kita. Orang butuh tontonan seperti itu. Terlepas jumlah viewer nya mungkin perlu dikroscek lagi. Coba kita bandingkan viewer di channel macam khan academy, coursera, discovery, dll yang sifatnya mendidik dan jauh dari kejahiliahan. Pertanyaan sebenarnya adalah, mengapa hal-hal bodoh seperti ini menular dan

about author

Adi Setiya Dwi Grahito S.Si.

198401172008121001

Pusat Pemanfaatan dan Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher