Blog Sivitas

Anda punya berapa grup WA? Wah pertanyaan tersebut pasti dijawab satu-per-satu dengan jawaban ala iklan makanan pasta coklat jaman dulu kala: panjaaang dan lamaaa. Ada yang punya sekian puluh grup, ada yang selektif karena grupnya berisik semua, ada pula yang malu-malu tidak menjawab karena grupnya cuma dikit. Semoga bukan Anda.

Ada grup-grup tertentu yang mana dibuat karena kebutuhan komunikasi insidental, seperti jadi panitia acara, grup donasi, dan lain sebagainya. Ada pula grup yang dibuat berdasar status misalnya grup bapak-bapak warga RT sekian, grup kantor, grup reliji, pengurus masjid, dan lebih banyak lagi. Uniknya, dari sekian banyak grup tersebut, seseorang akan sangat aktif pada satu dua grup saja namun menjadi silent di grup yang lain. Adaa orang seperti itu, dan banyak, bosqu.

Hal ini berkaitan dengan fungsi otak manusia, dimana manusia akan cenderung lebih fokus pada satu dua hal dibanding melakukan hal lain bersamaan. Pada kenyataannya, multitasking malah merugikan malah kurang produktif (Nass, 2009)

Balik lagi, hal yang sedang hot dibahas di grup-grup WA pun sebenarnya tidak jauh-jauh. Masih bisa ditempuh 1 kali angkot. Gambar yang sedang lucu-lucunya di grup satu, pasti juga ada di grup satunya lagi. Link berita yang lagi heboh di grup A bisa jadi kesebar juga di grup B. Tidak lupa pula satu topik yang sering membikin perdebatan di grup makin panas, yaitu topik politik, jeng jeng jeng.

Saya, dalam beberapa kesempatan melakukan pengujian terhadap suatu grup WA --atau istilah yang lagi ngetren: social experiment--. Di akhir pengujian tersebut, saya menarik 3 kesimpulan awal mengenai tingkat keberterimaan atas berita politik dalam satu grup.

1.  GRUP WA FUNDAMENTALIS

Grup wa ini berisi orang orang hardline aka garis keras. Grup ini berisi orang-orang yang rajin mengamati kondisi politik dan selalu berusaha memberikan update terbaru berupa video, konten, gambar yang lagi hits. Namun sayang, semangat memberikan update ini terkesan tanpa kroscek  sehingga banyak konten yang justru mengarah ke hoax. Jika kebetulan dalam satu grup tersebut anda satu kubu dengan aliran politik mayoritas, pasti cocok. Namun jika anda mengambil jalur netral atau jalur berseberangan pasti panas kuping anda. Yakin. 

Grup model ini lagi menjamur. Entah sampe kapan. Sebagian orang kemudian merasa lelah, lalu duduk sejenak, lalu berkumpul dan mereka mendirikan grup WA baru 

2. GRUP WA RESISTIF

Grup WA ini bisa juga disebut grup WA Fundamentalis Perjuangan karena isinya kadang beberapa orang pecahan dari grup WA Fundamentalis yang tidak kuat dengan tekanan batin dan mental bersama orang-orang yang berseberangan. Oia, grup ini kadang juga pelarian bagi orang-orang yang tidak mau aktif di grup fundamentalis sehingga menegaskan dominasinya di grup ini. Ciri utama dari grup ini simpel, tidak terima berita politik. Titik. Bahkan pada level ekstremnya, admin grup ini responsif menjapri  orang yang melanggar tatib dan bila perlu menendang keluar pelanggar. Syereem

3. GRUP WA KOMUNIKATIF

Nah, inilah grup yang membahagiakan. Grup dimana penganut paham politik wowo atau oposisi, politik netral dan politik wiwi alias cinta pemerintah berkumpul dan bercanda-ria tanpa saling melukai perasaan. Inilah grup yang mendewasakan. Grup WA ini biasanya terbentuk karena adanya bonding yang lama antar orang-orang di dalamnya. Grup dimana paham kampret bertemu dengan paham kecebong tanpa saling sikut-sikutan. Bahkan ada momen ketika pendukung wowo memberikan jempol kepada postingan dari pendukung wiwi. Asyik sekali bukan grup ini?

Namun sayang dikata, fenomena grup nomer 3 ini sangat jarang terjadi. Ibarat pola distribusi normal di pelajaran statistik, penghuni puncak adalah grup jenis pertama dan kedua, sedangkan grup WA nomer 3 harus pasrah sebagai anak tiri karena selalu mendapat jatah yang sedikit. Semua terjadi semenjak negara api menyerang, sigh...

about author

Adi Setiya Dwi Grahito S.Si.

198401172008121001

Pusat Pemanfaatan dan Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher