Blog Sivitas


Pendahuluan

Dikisahkan sebuah iring-iringan kendaraan militer di Eropa yang berisi barang-barang pampasan perang yang antara lain terdiri dari logam mulia dalam bentuk koin dan perhiasan dengan beberapa karya seni bernilai tinggi dalam bentuk patung dan lukisan. Penyisiran dilakukan pada setiap bagian bangunan dari ruang utama sampai ke gudang bawah tanah. Konon sebuah lukisan Rembrandt yang berhasil ditemukan pada akhir 90an pada sebuah loteng berharga bernilai 1.1 Miliar Dolar.

Cerita ini menginspirasi judul sebuah buku yang ditulis oleh Kevin G. Rivette dan David Kline. Tema buku ini adalah mengenai pandangan terhadap paten sebagai alat perlindungan hak intelektual yang digunakan dalam bisnis.

Tulisan ini mengulas pemahaman penilaian teknologi bidang pangan dan energi menuju ekonomi yang berdikari.

Menilai Bentuk Non-Fisik

Dalam sebuah alur proses inovasi terdiri dari tiga titik yang mensyaratkan kemampuan dalam menilai bentuk non fisik. Titik pertama adalah pengembangan gagasan (idea creation). Dalam masa sebuah jawaban dari pertanyaan “seandainya” dan pernyataan “akan lebih baik jika” dikomposisi dalam bentuk konsep dan rencana. Gagasan berasal dari banyak sumber (heterophilous), bisa dari peneliti, dari pelaku industri, petani, guru atau sebagai umpan balik dari sebuah aplikasi teknologi yang sudah berjalan. Dalam penyusunan rencananya, pemilik gagasan mengukur nilai gagasannya. Dalam banyak kasus, nilai gagasan tersusun dari biaya yang dikeluarkan seperti kordinator kegiatan, pelaksana, perjalanan sampai pada publikasi. Nilainya masih sangat dasar dan belum banyak memperhitungkan pendapatan yang akan didapat dari hasil bisa diperoleh jika gagasan itu berhasil. Dalam tahap ini, yang dinilai masih belum berbentuk fisik (intangible).

Tahap kedua mensyaratkan untuk mulai melibatkan pihak lain untuk melihat potensi gagasan untuk dikembangkan menjadi purwarupa. Pada abad dua puluh ini, penemuan teknologi terjadi melalui komunikasi lintas disiplin. Pada tahap ini, seorang manaje pengembang bisnis  mulai bisa melihat potensi kerjasama dalam pengembangan purwarupa. Calon pengguna pada tahap ini adalah pengguna produk teknologi seperti kelompok peneliti, universitas atau divisi riset dan pengembangan di perusahaan. Kerjasama penelitian menjadi bagian penting dalam tahapan ini dan nilai sebuah proyek masih merupakan bagian dasar dari elemen biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing pihak dan diperkuat dengan pembagian tanggung jawab, kontribusi serta hak yang melekat pada hasil produk teknologi tersebut.

                                          

Pada tahap ini, potensi komersial dari sebuah pengembangan teknologi mulai bisa disusun bersamaan dengan pencarian teknologi sejenis (patent searching). Aplikasi teknologi baru diharapkan sudah dilindungi dengan hak kekayaan intelektual yang sesuai dengan karakter produk dan pasarnya. Namun, perlu diketahui bahwa paten dikenal dengan hak negative (negative right) dalam artian pemilik hak tidak bisa secara langsung meminta bantuan apparat untuk menangkap yang mencuri haknya seperti pada kasus pencurian, misalnya.

Tahapan ketiga dilakukan setelah pengujian produk purwarupa berhimpit dengan harapan konsumen. Distributor, iklan, pemasok, spekulan, pelaku lindung nilai (hedging), sampai pada penjual eceran adalah pelaku dalam tahapan ini. Pada tahap ini teknologi sudah menjadi bagian produk yang digunakan oleh pengguna akhir. Kerumitan dan kecanggihan dikemas sehingga menjadi kemudahan, kemewahan, keindahan dan kesederhanaan yang dinikmati oleh pembeli. Pengguna alat komunikasi cerdas tentunya tidak wajib memahami bagaimana jari-jari diatas layar sentuh bisa membentuk huruf atau cara kerja transistor kecil. Konsumen juga tidak perlu mengetahui waktu dibutuhkan dalam pengembangan teknologi layer sentuh dan berapa resiko keuangan dan kecelakaan kerja yang meliputi pengembangannya. Harga jual layar sentuh ini dibawah harga nilai teknologi pada saat awal keluar dipasar. Dalam masa awal tersebut dikenal dengan istilah masih menggoreng uang (jauh dibawah titik impas/break even point).


Bayangan sebuah kisi-kisi materi ujian terlintas saat tulisan akan dibuat. Kisi-kisi tersbut bisa diakses pada pangkalan data kampus melalui jalur internal. Jalur intra biasa digunakan dalam menggunakan fasilitas belajar di kampus mulai dari foto kopi, peminjaman buku di perpustakaan, akses pada pangkalan data jurnal sampai pada kurikulum (course profile). Kisi-kisi diberikan dalam rangka latihan. Didalam kelas, pendidik menyatakan nilai c akan dijamin diberikan jika jawaban yang diberikan tepat seperti yang diajarkan dikelas, B jika bisa memberikan tambahan kasus yang memperkaya materi yang diajarkan dan A diberikan jika hanya (if and only if) mampu memberikan pandangan yang berbeda dengan analisis dan contoh yang mendukungnya.

Penilaian yang dimaksud terkait dengan materi New Product and Service Development (NSPD). Setidaknya terdapat 4 cara penentuan harga sebuah produk teknologi. Pertama adalah didasarkan dari harga produk yang sudah ada atau produk dengan fungsi yang serupa. Dengan mengambil nilai harga diujung dan perhitungan titik impas dan waktu untuk mencapainya. Cara kedua dilakukan melalui survey calon pengguna dimana kelompok pengguna memberikan kelayakan harga produk (willingness to pay). Cara ketiga dan keempat didasarkan pada perbandingan dengan paling sedikit 4 produk sejenis yaitu dengan analisis expected commercial value (EVC) dan scoring model.

Namun penentuan nilai produk teknologi tersebut adalah untuk tahap ketiga dimana produk sudah siap untuk dibeli oleh konsumen akhir. Pertanyaan berkembang pada cara penilaian produk teknologi pada tahap kesatu atau kedua yang merupakan domain lembaga riset pemerintah. 


Pada tahap pertama dan kedua dari proses alih teknologi masih belum bisa diukur dengan metode dan model keuangan untuk komersial. Sebuah bentuk teknologi yang akan dikembangkan lebih lanjut, belum menjadi produk yang dibeli di pasar oleh konsumen. Pada tahap satu yaitu dari pengembangan gagasan menjadi bentuk kegiatan, maka ukuran proyek yang dilakukan akan terlalu jauh jika diukur dari aplikasi teknologi tersebut pada produk akhir. Nilai ide baru bisa diukur berdasarkan rencana biaya dan kegiatan. Namun dalam tahap ini, pemilik gagasan memiliki gambaran akhir dari pengembangan konsepnya.

Seperti pada gambar diatas, jika lukisan tersebut diukur dari anggaran kegiatan dan proyeksi penilaian oleh pembeli pada saat itu, maka nilainya mungkin 1/10 atau lebih kecil dari yang sekarang ditempelkan pada sertifikat lukisan. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian. Dalam pengukuran nilai (valuation) yang dilakukan pada tahap ini akan menetapkan nilai yang terlalu murah atau terlalu mahal.

Hasil Penelitian untuk Pemenuhan Kebutuhan Pangan dan Energi.

Dalam banyak pertemuan yang biasa di lakukan saat terjadi krisis, maka biasanya universitas dan lembaga penelitian menjadi bagian yang terpojok. Misalnya saat harga telur dan daging ayam yang melangit pada awal bulan Mei lalu dan ternyata diketahui bahwa bahan baku pakan unggas sebagian besar masih impor. Pertanyaannya, penelitinya ada dimana, untuk makanan ayam aja masa impor. Bungkil dan tepung ikan sebagai bahan dasar pakan unggas ternyata masih impor.

Termasuk dalam kebutuhan etanol sebagai bahan dasar bahan bakar. Indonesia sebelum tahun 2005 adalah negara yang mengandalkan minyak dengan kontribusinya sebesar 89%. Tapi sejak 2006, kita menjadi negara pengimpor minyak. Tahun 2006 – 2009 jurang harga yang terlalu tinggi menghentikan produksi etanol. Jika dilihat dari pasokan bahan bakunya, maka dari kurang lebih 40 juta ton minyak sawit, terdiri dari 8 juta ton untuk kebutuhan dalam negeri dan 22 juta ton di ekspor (2017).

Dari kedua kasus ini, jika ditanya ke Peneliti, bagaimana riset bisa menjadi solusi. Maka jawabannya adalah: It is the wrong question and the right answer (apapun jawabannya akan tetap salah). Karena bukan di teknologi masalahnya. Kalau bicara pangan, jangankan kedelai, gandum pun dari hasil penelitian litbang di dalam negeri sudah bisa dilakukan dan berhasil untuk skala komersial. Jadi alasan bahwa kedelai dan gandum tidak tumbuh di daerah tropis sudah bisa ditanggulangi dengan inovasi teknologi. Jadi apalagi untuk komoditas lain yang dulu pernah diandalkan seperti kelapa. Dengan garis pantai terpanjang kedua didunia, Indonesia keadaan perkelapaan nasional masih belum pulih.

Energi? Kita punya bioetanol berbahan singkong, minyak jelantah, algae, sorghum atau microalgae. Bahkan pengembangan teknologi biorefineri. Lalu dimana masalahnya?. Akhirnya mencurigai ada pemain yang lebih suka impor karena menerima fee yang jumlahnya besar.

Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Bayangkan membuat telor dadar dengan bahan baku telur, minyak goreng, garam dan gas. Tentunya seluruh bahan baku harus ada pada saat dibutuhkan bukan setelah penggorengan panas atau saat masih mencari gas yang sedang sudah dicari keberadaannya. Seluruh bahan pokok, bahan baku, peralatan dengan mutu yang standar harus sudah tersedia. Jika seandainya industri pakan unggas diwajibkan menggunakan bahan baku lokal dan dilarang melakukan impor, maka kemungkinan kapasitas daging ayam akan tidak stabil dalam waktu tertentu. Kalau dalam beberapa bulan terakhir harga daging ayam dan telur melangit maka dengan pemenuhan baku pakan unggas dari dalam negeri bisa jadi lebih mahal dan atau pasokan menjadi tidak stabil dalam waktu lebih lama. Begitu juga dengan bahan bakar dengan pemenuhan dari dalam negeri dan subsidi terencana, maka bisa mungkin bahan bakar menjadi langka dalam waktu tertentu. Pengorbanannya akan terasa terlalu mahal untuk mulai dipenuhi dari dalam negeri.

Untuk itu masyarakat perlu di gugah (nudge), meminjam istilah Richard Thaler, untuk memandang bahwa transisi dari ekonomi mineral ke ekonomi organik perlu pengorbanan. Transisi tersebut harus dimiliki oleh masyarakat (the best ownership principle) dan bukan hanya milik pemerintah. Sehingga gerakan ini tidak dianggap satu arah dan memberatkan masyarakat.

Rantai nilai (value chain) yang ajeg juga mulai dibangun sehingga industri tetap bisa berjalan dengan baik, bahan baku tersedia, terstandar dan harga yang stabil yang didukung dengan instrumen keuangan yang ramah terhadap inovasi seperti value options dan hedging.

Dari membandingkan invensi dan aplikasi teknologi unggul di negara maju melalui masyarakat teknologi inovasi internasional ataupun linkedin, maka  inovasi teknologi dalam bidang pangan dan energi dari universitas dan lembaga litbang di dalam negeri sebetulnya tidak terlalu tertinggal jauh dari negara maju. Koleksi Paten sekelas lukisan Rembrandt juga bisa ditemui. Sehingga sebetulnya angan-angan itu layak untuk diwujudkan.  


about author

Syafrizal Maludin S.E.,M.TIM.

197004112000031006

Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi

Komentar (1)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher