Blog Sivitas

Menjadi jomblo adalah situasi yang kurang menyenangkan bagi kebanyakan orang. Meskipun jargon "Single itu pilihan, Jomblo itu nasib" telah diciptakan oleh entah siapa, tak serta merta membuat mereka yang masih sendiri berani mengatakan dirinya adalah single, alih-alih jomblo.

Kita tidak tahu pasti bahwa mungkin ada diantara jomblowan dan jomblowati di lingkungan ini yang mengetik karya tulis ilmiah sambil menangis di pojokan ruangan karena dihantam kesendirian. Atau saat membuat presentasi untuk diskusi internal yang terbayang-bayang adalah wajah mantan alih-alih slide presentasi di power pointnya.

Usaha tiap insan untuk mencari pasangan sudah dilakukan sejak zaman purba kala. Banyak juga epos, drama, puisi tentang perjuangan mencari cinta dituliskan. Jadi, usaha mencari pasangan sudah se-purba kehidupan ini sendiri. Namun mencari pasangan mungkin menjadi persoalan yang tidak mudah untuk sebagian orang. Bagi mereka yang selalu mau berjuang, tentu ada jalan.

Tapi apa yang terjadi jika pilihan untuk berjuang mencari sang belahan jiwa ternyata berlabuh pada orang yang berada dalam satu instansi, atau bahkan satu satker? Pada tanggal 14 Desember 2017, Mahkamah Konstitusi telah mengabulkan permohonan untuk memperbolehkan pernikahan antar rekan satu kantor karena itu sejalan dengan konstitusi dan hak manusia yang paling HQQ (baca: Hakiki). Aturan yang melarang sesama rekan sekantor untuk menikah sebelumnya banyak diterapkan di perusahaan swasta atau BUMN, sedangkan di lingkungan PNS memang negara tidak pernah menghalang-halangi untuk menikah dengan rekan sekantor.

Jelas ini adalah kabar gembira buat mereka yang jatuh cinta pada seseorang yang berada dekat sekali dengannya di tempat kerja, lebih gembira dari kabar kulit manggis yang kini ada ekstraknya. Tetapi usaha mencari tulang rusuk ini tidak semudah seperti yang ditunjukkan di sinetron-sinetron televisi. Bagi beberapa orang, mencari pasangan yang sekantor tidak masuk dalam list kriteria yang dibuat. Beberapa beralasan akan menjadi sangat bosan jika di rumah, di jalan, di kantor bertemu terus dengan orang yang sama. Alasan yang masuk akal memang, tapi perjuangan cinta melawan bosan itu sendiri juga seperti perjuangan ingatan melawan lupa. Setiap orang mengalami, mencoba mengatasi dan ikhlas hidup segendang-sepenarian dengan hal itu.

Jadi perjuangkanlah cintamu jika memang ada rekan sekantor yang ketika melihatnya membuat dirimu seperti si Doel ketika melihat Sarah. Kalau pun skill mu tak mumpuni untuk mendekatinya dan membutuhkan uluran tangan mak comblang, tolong pilih-pilih agen mak comblang yang sudah tersertifikasi ISO 9001. Hindari agen mak comblang yang radikal dan berslogan "pantang pulang sebelum jadi" dan mengganggap pihak-pihak yang mencoba menghalangi adalah thogut. Mereka ini selain membahayakan juga sangat mengganggu. Tetapi jika terlalu menaruh seluruh usaha mu pada agen mak comblang untuk mendapatkan sang pujaan hati siap-siap ditertawakan oleh Sutan Sjahrir karena beliau pernah  bersabda "cinta yang tidak diperjuangakan, tidak layak untuk dimenangkan".  

about author

Norman Luther Aruan S.E.

199106142018011002

Pusat Penelitian Kependudukan

Komentar (1)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher