Blog Sivitas


….one of these assumption that most or all technological innovation is ultimately rooted in science (Stokes, 1997).

Dipagi hari Jumat yang cerah setelah hampir 4 hari 3 malam hujan mengguyur Bogor dan sekitarnya terasa sejuk dan sedikit foggy. Dari belakang seseorang melafalkan tulisan yang ada di belakang kaos sambil meminta izin untuk bertanya. Senang rasanya ada yang mau tanya, sebab saya percaya “Judge a man by his questions rather than his answers.” (Voltaire). Pertanyaan anak ini adalah apakah  Ilmu Pengetahuan” diterjemahkan menjadi sciences seperti tertera di belakang kaos. Karena waktu masuk sekolah sudah dekat, maka saya sampaikan dengan ringan bahwa ilmu pengetahuan disitu seperti idioms sehingga tidak terpisahkan, maka diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi sciences.

Siang hari, menjelang shalat Jumat,  dalam sebuah grup WA terjadi diskusi terkait Branding. Disini ada sebuah pertanyaan dari salah satu anggota kelompok: “Masa Lembaga Ilmu Pengetahuan tidak menerapkan Manajemen Pengetahuan?”. Oh, ternyata bukan idioms….

DEFINISI PENGETAHUAN

Pengetahuan dalam perspektif ke “tahu” an manusia yang tidak terbatas yang mencakup sesuatu yang telah dipahami dan diakumulasikan walaupun yang belum dipahami dan belum terakumulasi.  Pengetahuan tersebut mencakup apa yang telah  terpahami dan terakumulasikan dalam khazanah pengetahuan manusia serta mencakup pula yang belum terpahami dan tentunya belum terakumulasikan dalam khazanah pengetahuan manusia. Pengertian ini sangat luas cakupannya, termasuk di dalamnya pengetahuan yang dipahami oleh para filosof dan yang mencakup semua pertanyaan yang sesuai. Pengertian ini juga meliputi pengetahuan yang dipahami oleh masyarakat umum dan pengetahuan yang dikembangkan oleh para cendikia. Pengertian ini tidak menegasikan persoalan-persoalan epistemologis (berkait dengan teori pengetahuan) secara apriori.

Menurut pengertian ini, pengetahuan adalah suatu kepercayaan atau keyakinan yang teruji (warranted belief). Kepercayaan atau keyakinan adalah suatu proposisi yang dapat diutarakan atau dapat dinyatakan. Dengan demikian, pengetahuan pada dasarnya adalah suatu proposisi yang terutarakan atau ternyatakan.

Perbedaan pemahaman atas pendalaman makna pengetahuan muncul setelah tataran ini, yaitu pada saat kita harus memaknai keyakinan atau kepercayaan yang teruji. Perdebatan mengenai kepercayaan atau keyakinan yang menjadi syarat dalam pemaknaan pengetahuan di atas sama intensitasnya dengan perdebatan mengenai persyaratan atas makna kepercayaan yang teruji.

Definisi Ilmu

Graziano dan Raulin dalam Winoto (2015), Ilmu adalah sebagai suatu cara berpikir dengan kaidah-kaidah tertentu sebagai suatu proses untuk menyusun suatu pertanyaan secara kritis dan mencarikan jawaban secara sistematis untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai suatu keadaan. Atas dasar itu maka “Ilmu merupakan suatu proses “pencarian”.

Cabang-cabang ilmu pengetahuan, secara umum terdiri dari lima divisi utama yaitu:  logika, matematika, ilmu atau pengetahuan ilmiah, sejarah dan humanitas, dan filsafat, tidak terpisahkan karena pengetahuan ilmiah berkembang dengan bantuan logika, matematika, dan filsafat. Begitu juga sejarah dan humanitas berkembang dengan pesat karena empat divisi yang lain

Sains dan Teknologi

Dua pertanyaan di hari Jumat ini membawa jauh ke ke hari Kamis tanggal 22 Januari 2018, pada diskusi di grup juga mengenai menghangatnya kembali tugas dan fungsi instituti riset dasar dan penkajian aplikatif.

Dari Sejarahnya ilmu tidak membedakan secara baku Ilmu Dasar dan Teknologi. Jika tujuan sebuah penelitian bisa terkait erat dengan ilmu dasar, maka fundamen riset tidak harus memiliki jarang sehingga keingintahuan dari suatu penelitian yang ditransformasikan menjadi produk baru dalam proses alih teknologi tidak bisa dipandang satu arah (linear). Suatu produk berbasis inovasi teknologi tidak hanya berawal dari suatu penelitian dasar ke riset aplikatif, tapi bisa bisa sebaliknya dari suatu kasus dalam proses produksi yang dibawa ke penelitian dasar dan menghasilnya penyempurnaan produk atau produk baru.

Jika linear model menterjemahkan penelitian dasar sebagai usaha pemuasan keingintahuan dan pemahaman tanpa tujuan aplikatif maka kedua konsep itu memang berjarak.

Namun, kembali lagi pada sejarahnya, pada masa Plato dan Aristotle bisa dikatakan bahwa signifikansi temuan bersumber dari koherensi antara filsafat dan practical arts. Mungkin tanpa mengaplikasikan geometri maka tidak terjadi pembangunan Piramid. Revolusi ilmu yang berlangsung lebih dari dua ratus tahun dan kembali pada penyatuan “two cultures”. Kebangkitan intelektual tersebut merupakan stimulus kunci (new science) dan menyebar dari Greek Science, Khazanah Ilmu dunia Islam sampai ke Italia, Sicilia, dan Padua.

Separasi ilmu pengetahuan murni dengan aplikatif dilakukan di beberapa negara Eropa, Amerika dan Jepang dan didasarkan pada Frascati Manual. Namun transformasi yang dilakukan dilakukan dengan dua arah panah dan bukan hanya pemisahan dengan linear model dari riset dasar sampai ke produk komersial. Pemahaman ini menjadi krusial terkait dengan implikasi kebijakan. Seperti yang disampaikan oleh Vannevar Bush: “a nation which depends upon others for its new basic scientific knowledge will be slow in its industrial progress and weak in its competitive position in world trade”

Penyelarasan makna dan konsep ilmu pengetahuan, ilmu dan pengetahuan, riset dasar dan riset aplikatif menjadi penting seiring dengan berkembangnya ilmu dan Pengetahuan itu sendiri. Atau dibebaskan berkembang dari sebuah brosur dan literatur terbatas menjadi tayangan untuk dipresentasikan dan akhirnya tersusun sebuah aturan…..


about author

Syafrizal Maludin S.E.,M.TIM.

197004112000031006

Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi

Komentar (0)

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher