Blog Sivitas

Mengetahui adanya hubungan mutualisme antara mikroalga dan air gambut tidaklah dapat dikatakan mudah terlebih dalam situasi sekarang ini, penelitian berbasis mikroalga masih dalam tahap awal pengembangan beriringan dengan mulai ditemukannya berbagai spesies dari berbagai wilayah di Indonesia. Begitu pula dalam hal pemanfaatan sumber daya alam gambut masih kuat bersinggungan dengan isu lingkungan seperti pemanasan global, kebakaran lahan dlsb. Sebagian praktisi lingkungan dan masyarakat telah mempraktikan manajemen pengolahan lahan gambut dengan mempertimbangkan karakteristik khusus lahan gambut. Salah satu yang diterapkan adalah pembangunan kanal air di berbagai lahan agar gambut tetap basah. Selain itu, adanya upaya pemerintah membuat Badan Restorasi Gambut menjadi bukti keseriuasan berbagai pihak untuk mengamankan fungsi penting lahan gambut.

Secara umum, gambut memiliki fungsi hidrologis, penyangga iklim global, sumber biodiversitas serta fungsi sosial ekonomi. Fungsi yang terakhir ini bersinggungan dengan kehidupan masyarakat lokal di wilayah sekitar lahan gambut. Di beberapa lahan gambut ditemukan adanya sungai berair gambut yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar contohnya sungai Kampar dan sungai Tohor di Kepulauan Riau. Masyarakat lokal memanfaatkan keberadaan lahan gambut untuk menanam berbagai tanaman bernilai ekonomis seperti buah naga, nanas, lidah buaya, padi, bawang merah, talas, pare, cabe merah, jagung, dan beberapa tanaman sayuran. Kemampuan memanfaatkan material gambut di berbagai dunia pun sudah dibuktikan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat bahkan meningkatkan kesejahteraan mereka. Sebagian negara di kawasan Baltik memanfaatkan gambut sebagai bahan bakar hingga sebagai bahan terapi kesehatan karena diketahui gambut mengandung beberapa jenis senyawa yang tergolong sebagai antioksidan.

Nah, sampai disini peluang membuktikan adanya hubungan mutualisme antara mikroalga dengan air gambut menjadi terbuka lebar. Jika sebagian lahan non konservasi di lahan gambut tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan agrikultural dlsb, maka bukan mustahil bila ditemukan mikroalga yang mampu tumbuh di air gambut maka biomassa nya dapat dikelola untuk  menghasilkan berbagai bioproduk. Bagaimana cara membuktikannya ? apakah memanfaatkan hubungan mutualisme antara mikroalga dan air gambut akan memperparah kerusakan lahan gambut atau sebaliknya?....(bersambung )

about author

Hani Susanti M.Si

197905182010122001

Biro Organisasi dan Sumber Daya Manusia

Komentar (1)

  • Indri

    19 Februari 2018, 12:00:33

    Membuka adanya harta karun lagi di daerah gambut rupanya, khususnya Riau. Untuk pertanyaan terakhir itu gmana jawabnya kak? Hehehe

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher