Blog Sivitas

Saat mendengar kabar "TABRAKAN BERUNTUN", maka yang terbayang dalam benak kita adalah tabrakan yang melibatkan minimum 3 kendaraan. Tabrakan jenis ini paling banyak terjadi di jalan tol. Mengapa? Karena semua pengemudi di jalan tol berpikiran tidak ada hambatan, dan oleh karenanya, jalan tol sering disebut "Jalan Bebas Hambatan". Namun demikian, penyamaan jalan tol dengan jalan bebas hambatan adalah kurang tepat. Adapun yang benar adalah jalan berbayar yang tidak ada simpangan sebidang.

Kembali lagi tentang tabrakan beruntun di tol. Menurut data yang peroleh dari PT Jasamarga (Persero), tabrakan beruntun di seluruh segmen yang diselenggarakannya selama ini terjadi empat hari sekali, namun sayang tanpa diberi informasi tentang berapa kendaraan yang terlibat di setiap kecelakaan tersebut.

Salah satu penyebab utama tabrakan beruntun adalah tidak terjaganya jarak antar kendaraan di tol. Sebenarnya ada ketentuan tentang jarak minimum atau jarak aman antar kendaraan ini, yaitu 100 m ketika melaju 100 km/h, 80 m ketika 80 km/h, 70 m ketika 70 km/h.

Dalam khazanah ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia, penulis menemukan cara untuk mengukur jarak secara dinamis ini pada tahun 1991, yang kemudian didaftarkan patennya dan granted pada 10 Maret 1997 dengan nomor Paten ID 0,001,402, Cara untuk memandu pengemudi kendaraan beroda empat atau lebih dalam mengemudikan kendaraan dengan menggunakan kaca film. Banyak yang senang dengan metode ini dan mereka menggunakannya terutama bagi pengemudi baru. Sampai kini masih ada.

Pada tahun 2013, penulis sangat ingin mengetahui seberapa paham sih, para pengemudi di jalan tol memahami untuk menjaga jarak. Dan ternyata sangat mengejutkan bahwa hanya 2 orang di antara 86 responden yang mengetahui jarak aman pada kecepatan masing-masing, dan tentu saja jarak yang mereka peroleh juga berdasarkan perkiraan belaka. Di samping itu, penulis juga sangat ingin mengetahui tentang akuitas visual mereka.

Dari penelitian tersebut penulis mendapatkan cara baru agar para pengemudi mengetahui jarak antara kendaraannya dan kendaraan di depannya melalui penempelan stiker yang berarti marka optik, yang kemudian didaftarkan patennya pada Desember 2013, yang kemudian granted pada awal 2017 dengan nomor IDS 0,001,554, Marka optik penanda jarak aman antar kendaraan.

Dua tahun kemudian, pada akhir 2015, didaftarkan patennya kembali dengan judul Marka Opto-elektronik untuk menginformasikan jarak antar kendaraan, dan pada awal 2017, didaftarkan juga Penanda Jarak Aman dengan laser. Itu semua merupakan kelengkapan untuk mengukur atau menandai jarak antar kendaraan.

Mengingat tidak semua pemilik kendaraan menyadari pentingnya menjaga jarak, karena jika sadar lantas perlu mengeluarkan uang untuk mengeadakan peralatannya, maka penulis menemukan cara untuk tujuan yang sama namun pengelola jalan tol yang menyediakan fasilitas mengukur jarak bagi semua pengguna jalan tol, tanpa pengguna jalan tol mengeluarkan uang tambahan. Pada awal 2017 mulai penulis melakukan percobaan-percobaan, yang akhirnya didaftarkan pada 28 September 2017 dengan nomor P-00-2017-06-605, Penanda jarak aman antar kendaraan pada badan jalan, yang kemudian dipamerakan dalam Puspiptek Innovation Festival yang diadakan pada 29 September hingga 1 Oktober 2017, dan diperpanjang untuk menerima anggota DPR RI Komisi VII menyaksikan sendiri pameran tersebut.

Adapun inti dari invensi tersebut adalah bahwa pada lokasi-lokasi tertentu setiap pengemudi di jalan tol difasilitasi untuk mengukur jarak antara kendaraannya dan kendaraan di depannya dengan memanfaatkan indera perasa dan indera visualnya.


about author

Drs. Sugiono

195508231981031005

Pusat Penelitian Teknologi Pengujian

Komentar (14)

  • Darjono

    22 November 2017, 09:06:44

    Terimakasih share infonya

  • Mikyal Husnul

    22 November 2017, 09:06:19

    Bagus sekali dan bermanfaat. Kalau bisa tambahkan gambar atau ilustrasi agar lebih menarik dan 'kebayang'

  • AS Wahyudi

    22 November 2017, 09:04:05

    Menurut hemat saya, tabrakan beruntun terjadi tidak semata-mata jaga jarak satu dg lain, tapi ada faktor kewaspadaan n kelelahan/kejenuhan akibat kecepan tinggi dalam rentang yg cukup lama (menurunnya konsentrasi). Ketika terjadi gangguan misal tahu2 ada yg mendadak serobot pindah jalur, kita yg waspada dg gangguan yg ada di depan merasa kaget dan ngerem mendadak dg maksud agar tak terjadi tubrukan. Yang nyerobot sudah lolos melesat di depan kita, yg ngerem mendadak malah ditabrak oleh yg dibelakang kita, dst. Jadilah tabrakan beruntun. Yg perlu dibenahi atau diajarkan sejak dini di sekolah, adalah adab n sopan santun berlalu-lintas.

  • Bambang Rustianto

    22 November 2017, 09:00:08

    bagus dan sangat bermanfaat

Bagaimana Reaksi Anda Tentang Blog ini?


Tinggalkan Komentar

gambar

Komentar di Facebook
jQuery cookie Style Colors Switcher